
"Sudah?" Vanya memandang Marco yang baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi sebelahnya.
"Iya sudah. Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi ada beberapa file yang harus kujelaskan ulang pada Hero," bohong Marco, kemudian melayangkan satu kecupan di kening wanita itu. Dia hanya mengangguk paham tanpa berkomentar apa-apa.
"Perjalanan kita ke pulau itu total sekitar tiga jam. Aku harap kamu senang ketika berada di sana nanti."
"Iya. Aku pasti senang. Aku jarang sekali berlibur soalnya. Sudah pasti aku menikmati tempatnya, apalagi ada pantai!"
"Baguslah kalau begitu."
Tersenyum rikuh, Vanya menepis lengan Marco yang baru saja tersemampai di antara kedua pundaknya. Ia sedikit risih dengan beberapa pasang mata para pekerja yang sedari tadi berdecak kagum melihat tingkah Marco begitu mencolok sekali.
Terbiasa diperlakukan kasar selama tinggal dengan Marco, juga menjadi alasan mengapa Vanya merasa tidak nyaman dengan perubahan drastis seperti itu. Rasanya lebih enak melawan Marco yang garang daripada menghadapi kelembutan pria itu.
Hati Vanya serasa menjerit.
Dulu saat Vanya berpacaran dengan Marco, pria itu tidak seperti itu. Walaupun posesif dan bentuk perhatiannya masih sama, tapi Marco yang masih remaja terasa membosankan di mata Vanya. Entah hanya perasaannya sewaktu muda, atau mungkin Marco memang telah berubah.
Vanya tidak begitu memusingkan hal itu. Yang ia takutkan adalah tekadnya yang bisa sewaktu-waktu goyah. Ia takut jika perasaanya terhadap Marco akan tumbuh seiring berjalannya waktu mereka menghabiskan saat-saat bersama.
Vanya benar-benar diselimuti kebimbangan sekarang. Di sisi lain ia tidak mau jatuh dalam jurang cinta yang menyakitkan dan menggoreskan trauma berat untuk hidupnya. Di sisi lain pula, ia menikmati perlakuan istimewa Marco yang diberikan secara tulus kepadanya.
Setelah satu jam berlalu, pesawat jet yang ditumpangi Marco dan Vanya tiba di bandara kepulauan seberang. Mereka bergegas menempuh perjalanan menggunakan mobil menuju tepi pelabuhan, kemudian melanjutkannya dengan kapal pesiar menuju pulau pribadi tempat mereka akan berlibur nanti.
Hari menjelang sore saat kapal yang ditumpangi Marco dan rombongan nyaris tiba di pulau pribadi miliknya. Burung-burung berterbangan menghiasi langit yang mulai menjingga. Menambah suasana di kapal itu semakin romantis.
Vanya berdiri menatap hamparan pantai. Kapal sengaja berhenti agar Vanya dapat menikmati keindahan pantai dari atas laut.
Wanita itu tersenyum puas. Tangannya mencekal kuat pada besi di pinggiran kapal. Sementara Marco yang sedari tadi duduk mengamati, mulai melangkah dan menjatuhkan satu kecupan di pundak putih susu wanita itu.
"Anginnya sangat kencang. Lebih baik kita masuk ke kamar." Tangan Marco melingkar lembut, membelai perut besar Vanya hingga wanita itu menggeliat-geliat geli.
Ia berbalik memutar posisi tubuhnya hingga menghadap Marco. Pria itu semakin mencekal pinggang Vanya seakan takut wanitanya jatuh ke dalam laut.
"Apa gunanya kapal ini berhenti di tepian pantai kalau kita masuk ke kamar? Sebentar ya, aku masih ingin di sini, Co!"
Dasar keras kepala, batin Marco.
Vanya membalikkan tubuhnya kembali menghadap pantai. Matanya menerawang jauh pada pohon kelapa yang tampak kecil-kecil dipandang dari tempat Vanya berdiri sekarang. Juga beberapa pasang manusia yang tengah duduk di pasir menikmati keindahan sunset.
Meskipun itu kepulauan pribadi, Marco tetap menjadikan pulau kecil yang indah itu sebagai sarana wisata untuk bisnis sekaligus membantu kebutuhan beberapa masyarakat yang tinggal di pulau tersebut.
Mereka semua yang datang ke pulau pribadi keluarga Marco sudah dipastikan makhluk berkantong tebal lantaran harga fasilitas di pulau tersebut bisa terbilang fantastis. Hanya dapat dinikmati oleh orang-orang berkelas yang memiliki uang segudang.
Di titik ini sudah bisa dibayangkan betapa kayanya keluar Marco, bukan?
Pria itu kembali merangkul pundak Vanya. Matanya ikut memandang ke arah pantai nan jauh di sana. "Kalau begitu aku akan memelukmu agar tidak kedinginan."
"Dari tadi juga sudah peluk-peluk," cibirnya.
Vanya tersenyum. Terjadi keheningan beberapa saat seakan keduanya tengah menikmati momen indah tersebut. Tubuh mereka menyatu saling menghangatkan satu sama lain.
"Van ...."
"Iya," jawab Vanya seraya menyelipkan anak rambutnya pada balik telinga.
"Bolehkah aku berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku?"
Sontak Vanya menoleh ke samping. Ke arah wajah Marco yang diletakkan di dagunya dengan gestur manja. "Tentu saja boleh. Lakukan apa pun yang mau kamu lakukan. Usahamu adalah hakmu sepenuhnya, Marco."
"Bolehkah aku mulai dari sekarang?"
"Iya boleh." Vanya mengangguk. "Tapi aku juga boleh memilih untuk tidak mencintaimu," ucapnya dengan nada lirih. Matanya kembali melirik wajah Marco demi melihat reaksi apa yang akan pria itu tunjukkan.
"Oke. Kamu boleh memilih untuk tidak mencintaiku, tapi kamu harus janji satu hal!" Vanya menatap tanpa mengerjap. "Aku mohon dengan sangat. Jika suatu hari kamu sudah mencintaiku, tolong segera katakan itu, karena aku akan terus menunggumu sepanjang waktu, bahkan selama sisa hidupku ...."
Tiba-tiba saja aliran darah Vanya berdesir hangat.
Wanita itu langsung tertunduk menatap laut. Tangannya yang sedari tadi mencekal besi pembatas langsung terlepas. Ia meremas pergelangan tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memucat.
"Kenapa diam? Kamu dengar kata-kataku barusan 'kan Van? Jika usahaku berhasil, dan jika pada akhirnya aku bisa membuatmu jatuh cinta, tolong segera katakan, buka sedikit hatimu agar aku bisa masuk ke dalamnya. Berikan kesempatan sekali lagi untuk mantan pria gila yang hina ini. Dia juga ingin merasakan dicintai oleh wanita yang dicintainya."
Vanya terdiam. Masih terdiam merasakan jantungnya yang mulai berdetak tidak wajar.
"Tapi jika kamu tidak bisa mencintaiku lagi, itu tidak masalah. Aku hanya tidak ingin suatu hari nanti kamu sampai membohongi perasaanmu sendiri," ujar Marco.
Membuat jantung dan Hati Vanya saling bertubrukan di dalam sana.
***
Maaf telat. Kwkwkw. Nanti diusahakan up lagi ya sayangnya. Komennya tolong di sematkan. Hargai cerita ini, minimal dengan komen dan like.