Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 12


Pukkk! 


Satu tepukan dari orang yang duduk di meja sebelah mendarat lembut di bahu Anna. Ia sengaja menggoyang-goyangkan kursinya untuk mengambil perhatian Anna. Namun gadis itu masih bergeming tanpa suara.


“Kamu kenapa diam terus si, An?” 


Anna menoleh dengan gestur malas.


“Tidak kenapa-napa, memangnya kenapa?” tanya Anna balik, membuat wanita bernama Rubi itu mencibir sinis, kemudian mendekatkan kursinya ke arah Anna lebih lekat lagi.


“Jangan bersikap pura-pura padaku, An. Bilang saja kalau hubunganmu dan Tuan Hero sedang tidak baik, itu sebabnya akhir-akhir ini kamu sering murung. Benar, ‘kan?”


Anna yang mendengar tebakan Rubi  benar sedikit mengernyit. “Tahu dari mana, kamu?”


“Tentu saja aku tahu, bahkan orang yang tidak dekat denganmu saja bisa tahu hanya dengan melihat tingkah kalian berdua yang tidak seperti biasanya,” ujar Rubi sok tahu.


 


Anna kembali bergeming menatap layar monitor yang baru saja dimatikan. Pikirannya kembali melayang-layang membayangkan akhir pahit dari hubungannya dengan Hero.


Sudah satu minggu, tapi Kak Hero masih belum memberi jawaban pasti, harusnya sekarang kita sudah resmi putus, ‘kan?


 Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Membuat Rubi menjadi kesal karena diabaikan lagi dan lagi olehnya. Bahkan sekarang ia merasa kasat mata di hadapan Anna.


Rubi pun memberanikan diri berceletuk kembali. “Sebenarnya apa sih masalahmu, An? Kalau ada apa-apa lebih baik cerita saja, bercerita denganku lebih aman daripada sakit hatimu dipendam sendiri, tahu!”


Anna menggeleng. “Kak Hero tidak suka jika aku membicarakan masalah pribadi kami dengan orang lain. Baginya itu adalah privasi. Jadi biarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri,” ucap Anna sambil merapikan file hasil laporan akhir bulan. Menyusunnya dengan rapi agar ia segera terhindar dari interogasi sahabatnya Rubi. Dan benar saja, Rubi tampak mendesahkan napasnya kecewa. Jawaban Anna masih kurang puas untuk diterima begitu saja.


 Wanita itu menyangga kepalanya  di atas meja sambil cemberut dan menatap kecewa ke arah Anna. “Setiap orang memang memiliki privasi. Tetapi memendam masalah terlalu lama dapat menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesekali kita perlu bercerita, ini bukan soal membuka aib dalam sebuah hubungan, tapi lebih untuk sharing agar kita mendapat saran dan solusi!” 


Anna sedikit mengerutkan dahinya. Benar juga yang dikatakan Rubi. Ada kalanya kita memang harus berbagi keluh kesah pada orang lain untuk mendapat saran dan titik temu. Asal orang lain tersebut sudah kita kenal dan dapat percaya.


“Hmmm. Jadi kamu mau aku sharing denganmu?” tanya Anna mulai tertarik. Rubi mengangguk sebagai jawaban.


“Baiklah, aku akan cerita, tapi kamu harus memberikanku sebuah solusi.”


“iya ... Pasti. Ada teman yang butuh saran, mana mungkin kuabaikan,” jawab Rubi antusias, dan Anna pun mulai bercerita setelah memastikan area di sekitarnya aman dari penguping.  


“Sebenarnya aku dan Kak Hero bukan baru pacaran satu tahun seperti berita yang digosipkan orang-orang kantor. Aku sudah menjalani hubungan lama sekali sejak SMA. Total waktu pacaran kita sekitar 12 tahun.”


“What?” Rubi berteriak saking terkejutnya, membuat Anna refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Jangan berisik! Aku tidak mau ada orang yang ikut bergabung dan mendengar curahan hatiku. Cukup kamu saja karena aku sudah terlanjur percaya!”


“Iya  ... iya, maaf! Habisnya aku terlalu kaget mendengar pengakuanmu. Itu kamu pacaran atau apa, An? Seharusnya anakmu sudah mau lulus SMP kalau hubunganmu tidak bergerak di tempat.” Rubi malah cekikian tidak jelas. Membuat Anna merasa anak itu terkesan bahagia di atas penderitannya.


“Aku tidak jadi cerita deh! Malas,” kesal Anna geram. Dia meraih tas kerja pura-pura hendak pergi. Rubi yang panik langsung mencekal lengan Anna. 


“Jangan marah si! Iya aku siap mendengarkan ceritamu. Tidak ada acara tertawa lagi seperti tadi.” Rubi membuat gerakan seperti mengunci mulut dengan satu tangannya. 


“Ok. Awas saja jika kamu sampai meledekku lagi.” Anna menghela sebentar kemudian bercerita lagi. “Sebenarnya kedua orang tua kandungku tidak setuju dengan hubungan kami. Itu sebabnya kami menjalani hubungan pacaran sampai selama ini.”


"Orang tua kandungmu, maksudnya tuan Fernando dan nyonya Maria?” tanya Rubi agak bingung.


“Bukan! Aku adalah anak angkatnya. Lain kali aku akan ceritakan soal ini, tapi aku mau cerita soal hubunganku dan kak Hero dulu.” Rubi pun mengangguk sebagai jawaban setuju walau setengah hatinya terkejut dengan berita sebesar itu.


“Terus.”


“Terus ibuku secara  khusus memberikan syarat agar Kak Hero dapat menikahiku, tetapi Kak Hero tidak mau menerima syarat itu sama sekali. Padahal dia sangat mampu mengabulkan syarat yang diminta orang tuaku.”


Anna menggeleng. “Tidak sama sekali, dia hanya menyuruhku bersabar dan menunggu tanpa kepastian. Aku bahkan sudah mengancamnya akan mengakhiri hubungan jika Kak Hero tidak segera memutuskan untuk menikahiku. Aku memberi waktu seminggu, tetapi dia masih saja tidak peduli! Aku capek Bi, seharusnya sekarang kita sudah resmi putus karena ancamanku sudah berjalan seminggu lebih.”


“Ya Tuhan, Anna!” Rubi  membeliakkan matanya. 


Ia tidak menyangka bahwa hubungan Anna yang terlihat manis dan romantis di depan umum ternyata menyimpan sejuta kerumitan di dalamnya. Itulah zona kehidupan manusia pada umumnya, sering memandang hidup orang lain sangat indah tanpa tahu ada kebenaran apa di dalamnya.


“Jangan mengasihaniku Rubi. Sebaiknya kamu segera berikan saran yang kamu janjikan tadi. Aku sudah benar-benar buntu, aku tidak ingin hubunganku dan kak Hero berakhir, tapi aku tidak bisa menerima lelaki yang tidak mau menerima keadaan keluargaku. Baik buruknya orang tua kandungku, calon suamiku harus bisa menerimanya.”


Rubi yang hanya tahu sepenggal masalah mereka pun mengiyakan.


“Iya benar, An. Menikah memang bukan tentang aku dan kamu, tetapi menyatukan dua keluarga, bahkan dua adat yang berbeda.” Rubi tampak berpikir sejenak. “Jadi kamu mau saran yang seperti apa dariku?” tanyanya memastikan.


“Aku ingin Kak Hero mau menerima kedua orang tua kandungku walau hubungan mereka tidak pernah baik. Apa pun akan kulakukan asal kak Hero setuju dengan syarat yang diberikan orang tuaku, Bi.”


Rubi menggaruk kepala belakangnya agak canggung.


 “Semisal caranya agak ekstrem kamu mau, An?” Dia sudah memikirkan hal ini, tetapi Rubi tidak yakin Anna mau melakukannya.


“Mau, memangnya cara apa?” Di luar dugaan Anna justru sangat antusias.


“Jangan deh, An. Aku takut kamu tidak setuju. Soalnya ini hanya ide gila yang melintas di kepalaku begitu saja.”


Dilarang seperti itu, Anna malah semakin berani. “Sudah kubilang, apa pun akan kulakukan!” tegasnya untuk kedua kali.


“Hmmm. Sebenarnya ini agak gila. Bagaimana jika kamu hamil di luar nikah saja? Otomatis mau tidak mau semuanya pasti setuju dengan pernikahan kalian. Tuan Hero mau bertanggung jawab, dan orang tuamu pasti setuju karena ada bayi di dalam perut yang membutuhkan sesosok ayah.”


“Hamil duluan susah, deh. Kak Hero adalah pria yang tidak suka dengan **** di luar nikah.  Bahkan untuk berciuman saja, butuh empat tahun lamanya bagi kami,” terang Anna kembali putus asa. Namun Rubi mengerti seolah tak habis akalnya.


“Bagaimana jika beri dia obat perangsang saja? Tapi saranku hitung dulu masa suburmu sebelum melakukan.”


“Perangsang?” Wajah gadis polos itu langsung berubah antusias. “Kenapa aku tidak pernah memikirkannya, ya?”


“Eh, kamu beneran mau melakukannya, An?” Sekarang Rubi yang dibuat panik sekaligus menyesal karena telah menyarankan hal gila tersebut.


“Iyalah, kenapa tidak? Saranmu sangat berguna untuk kelangsungan hubunganku dan Kak Hero tahu! Terima kasih ya. Aku mau memulai aksiku dulu. Mula-mulai aku mau ke apotik membeli obatnya.”


"Eh, jangan deh! Hamil di luar nikah terlalu buruk. Kita cari cara lain saja, ya."


"No! Aku mau ambil yang itu."


Anna bergegas mengambil tas kerja. Membuat Rubi panik karena tak lama kemudian gadis itu berlari keluar menuju pintu lift. 


“Anna!”


Teriakan Rubi tak lagi di dengar sama sekali. Bukan Anna namanya kalau tidak nekat.


 Sekarang gadis itu sudah berdiri di depan pintu lift untuk segera turun mencari apotik terdekat.


 Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba suara yang tak asing memanggilnya dari kejauhan. 


“Anna, tunggu!”


***


Jangan lupa kasih komen yang banyak ya gens