Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Empat Puluh Delapan


Semangkuh soto buatan mbok Darmi sudah habis tak tersisa. Vanya yang sedang asik mengelus perut kenyangnya dibuat terkejut saat melihat Nadia dan Marco menuruni anak tangga dari arah kamarnya. Mereka tampak mesra sambil sesekali membicarakan obrolan yang entah topiknya apa.


"Dasar tukang pamer! Cih!" Mata Vanya memicing sinis sebelum akhirnya beralih menatap mangkuk kosong di depannya.


"Kamu makan saja dulu, aku mau istirahat di kamar. Terima kasih buburnya."


Samar-samar Vanya mendengar percakapan lembut Marco kepada Nadia. Pria itu lekas masuk ke dalam kamar tanpa melihat Vanya yang duduk sendiri di meja makan. Sementara Nadia melangkah ke arah dapur untuk menaruh piring kotor di tangannya.


"Huhh!" Ia mendengkus kesal, Vanya telah merawat Marco seharian, tapi jangankan mendapa ucapan terima kasih, menyapanya saja tidak sama sekali.


Cara berbicara Marco pada Nadia juga sangat berbeda jauh. Intonasinya lembut dan selalu menggunakan kata; kamu. Tidak seperti pada Vanya yang selalu kasar dan memanggil dengan sebutan; kau.


"Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Nadia datang kembali dari arah dapur mengejutkan Vanya dari acara lamunannya. Buru-buru wanita itu memasang wajahnya menjadi jutek untuk mempertahankan keangkuhan yang slalu ia junjung tinggi.


"Ke mana?" ketus wanita itu tanpa melihat. Lebih suka memandangi mangkuk kosong di depannya.


"Membeli perlengkapan bayi, tadi Marco menyuruhku menemanimu belanja untuk kebutuhan bayimu."


"Oh." Bibir Vanya melongo dengan intonasi datar.


"Istirahat yang cukup, jam sepuluh pagi besok kutunggu kamu di ruang tamu." Wanita itu menepuk lembut bahu Vanya, lantas pergi tanpa menunggu jawaban atau persetuan Vanya terlebih dahulu.


"Aku belum bilang iya!"


Vanya memandang kepergiaan Nadia yang menuju kamar utama di rumah ini. Kamar yang setiap malam selalu dalam keadaan hangat karena ada sepasang insan yang seling mencintai di dalamnya.


*


*


*


Menjelang tengah malam.


Beberapa lampu telah di matikan kecuali meja makan yang sedang diduduki oleh Vanya saat ini. Ia sengaja menyuruh pelayan untuk mematikan beberapa lampu karena tak mau mengganggu penghuni di rumah ini.


Vanya pun mulai bangkit dari duduknya setelah soto di dalam perutnya turun sempurna dan tidak membuat perutnya sesak. Ia berjalan pelan, mengisi air di dalam botol minum kecil untuk bekal tidurnya nanti malam.


"Sabar ya Nak, tidak usah merindukan kasih sayang ayahmu. Ibu hanya istri pajangan di rumah ini."


"Ehem!" Suara dehaman di belakang punggung Vanya membuat wanita itu tersentak dan nyaris menumpahkan botol minumnya. Ia berbalik, sambil menatap nanar sosok pria yang berdiri di belakangnya tanpa ekspresi.


"Kau!" pungkas Vanya kesal. Matanya yang menyorot tajam di bawah pencahayaan lampu pendar masih dapat dilihat jelas oleh Marco. "Bisa tidak, jangan mengagetkanku?"


"Hmmm .... Tadi kau bilang apa?" ulang Marco untuk memperjelas sekali lagi.


Vanya tak bisa mengelak karena ia tahu bahwa Marco sudah mendengar semua gumaman kejam yang keluar dari mulutnya.


"Aku hanya bilang pada anakku, jangan sampai merindukan ayah gila sepertimu," kata wanita itu sambil membuang pandangannya ke mana pun, asal tidak melihat tatapan Marco yang seperti sedang mengintimidasi Vanya agar mau membuka kejujuran mulutnya lebih lanjut.


"Jadi kau merindukanku?" tanya pria itu memutar kata.


"Siapa yang merindukanmu? Dasar pria tidak tahu diri!"


"Di mana letak tidak tahu diriku?" Pria itu bergerak mendekat sampai punggung Vanya nyaris menyentuh kepala dispenser. Vanya segera menaruh botol minumnya di dada Marco untuk memberian ruang jarak agar tubunya tidak bersentuhan dengan dada bidang Marco.


"Kamu pria tidak tahu diri yang paling tidak tahu diri di muka bumi ini!" tegasnya.


"Oh ya?" Marco mencondongkan kepalanya ke depan. Di mana hidung pria itu nyaris menempel di pipi mulus Vanya yang saat ini mungkin sudah merah merona.


Wanita itu sempat mengerjap gugup beberapa detik. Namun ia belum kehabisan kata-kata untuk menyerang Marco lebih lanjut.


"Ya! Kamu memang tidak tahu diri," ucap Vanya lantang. "Sedang sakit datang ke kamarku minta dirawat, begitu sudah sehat langsung kembali ke kamar utama bersama Nadia si istri kesayangan. Apa namanya kalau bukan tidak tahu diri? "


"Aaah!" Marco melipat bibirnya sejenak guna menahan senyum. "Jadi kamu juga ingin tidur bersamaku?"


"Eh?"


"Begitukan maksudmu?"


Ucapan Marco menjadi sebuah bumerang yang memukul telak harga diri Vanya saat ini. Samar-sama ia dapat melihat wajah puas pria itu meski dalam pencahayaan setengah redup.


"Bu-bukan begitu!"


***


Aku masih cape abis perjalanan dari luar kota. Maaf ya. Segini aja dulu. Entar aku kirim lagi maleman setelah 100 komen.