Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Empat Puluh Tujuh


Hari kembali sore saat Nadia datang dan langsung menanyakan keadaan Marco pada salah satu pelayan. Wajahnya yang sedikit cemas tak bisa ditutupi. Dahinya membentuk tiga kerutan lurus dengan alis setengah menukik.


"Kenapa Marco bisa sakit?" Nadia masuk ke kamar Vanya. Wanita itu sedang duduk di tepian ranjang sambil memijit lengan Marco saat Nadya datang.


"Mana kutahu," ketus Vanya. Dia segera menyingkir. Mengangsur tubuhnya ke bawah kaki Marco untuk memberikan ruang agar Nadia bisa duduk di samping pria itu juga.


Nadia segera duduk. Ia menempelkan tangannya di dahi Marco dan beberapa bagian tubuhnya. "Panas sekali, apa dia sudah minum obat?"


"Sudah tadi siang," jawab Vanya yang lagi-lagi melempar kata-kata ketus. Ia tidak cemburu melihat Nadia yang begitu perhatian pada Marco. Di dalam otak wanita itu, asalkan Marco bisa sedikit lebih baik kepadanya saja sudah lebih dari cukup. Ia tidak butuh cinta ataupun kasih sayang dari Marco.


Merasa tahu diri, Vanya yang hanya sekedar istri pajangan langsung bangkit dan menyingkir. Namun baru dua langkah ia beranjak, Nadia langsung menyergah kepergian wanita itu.


"Mau ke mana?"


"Sudah ada kamu, aku mau ke dapur, membantu mbok Darmi menyiapkan makan malam."


"Rumah ini tidak kekurangan pelayan. Di sini saja, urus suamimu!" tukas Nadia penuh arti sekaligus penekanan.


"Kamu juga istrinya," balas Vanya bersungut-sungut. Istri kesayangan pula, lanjutnya dalam hati. Nada bicaranya wanita itu terdengar iri dan enggan jika harus mengurus Marco seorang diri.


"Di sini saja. Aku lelah, bantu urus dia untukku." Nadia melangkah pergi setelah memastikan keadaan Marco cukup baik.


Gumam-gumam marah keluar dari bibir Vanya saat melihat sisa-sisa bayangan Nadia menghilang dari balik pintu.


"Kenapa dengan semua orang gila di sekelilingku. Kenapa semua tugas babu ini dilimpahkan kepadaku seorang?"


Vanya melirik Marco yang tiba-tiba saja terjaga dari tidurnya. Tubuh pria itu tampak menggigil seraya merintih-rintih kedinginan.


"Eugh," lirihnya.


Astaga! Kenapa lagi dengan pria itu?


Vanya mengambil selimut di dalam lemari. Lalu membentangkan benda lembut tebal itu untuk membalut tubuh Marco. Baru saja Vanya mematikan AC, suara Marco mulai terdengar kembali.


"Dingin," lirihnya, seolah selimut yang baru saja Vanya berikan tidak ada efek sampingnya sama sekali.


Vanya mendesahkan napasnya kesal. Ia berkacak pinggang seraya memandangi wajah tak berdaya Marco yang sedang butuh pertolongan.


Harusnya aku mengambil pisau dan membunuhnya! Kenapa malah jadi kasihan?


*


*


*


Menjelang waktu makan malam, Marco terbangun dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya meski Vanya merawatnya dengan setengah hati. Pria itu tersenyum tipis saat melihat Vanya tengah mendekap erat kepalanya di antara dada.


Marco mengangkat kepalanya perlahan. Meluruskan tangan Vanya yang entah sejak kapan dijadikan bantalal kepala pria itu. Sepertinya Vanya memberikan metode skin to skin untuk menghangatkan tubuh Marco. Karena saat pria itu bangun, ia mendapati tubuh Vanya dan dirinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


"Maaf." Marco menangkup dua sisi wajah wanita itu dengan sorot mata yang berbeda.


Dipeluknya tubuh mungil itu penuh kasih sayang. Tangannya bergerak turun membelai si jabang bayi yang mungkin sedang tertidur mengikuti kegiatan ibunya.


"Beri aku waktu untuk mengakhiri semua ini. Aku akan segera melepaskanmu," lirih Marco penuh penghayatan. Kemudian melayangkan satu kecupan di dahi Vanya yang masih terlelap dalam mimpinya.


Tok! Tok!


Sebuah ketukan dari arah luar membuat Marco mendadak panik. Ia segera melepas pelukkan dan pura-pura memejamkan matanya kembali.


Seperti mendengar panggilan, Vanya mulai mengerjap-ngerjap dan membuka matanya perlahan. Ia mendudukkan diri seraya menyahut ketukan tersebut.


"Sebentar!" Vanya mengambil dasternya di samping bantal. Segera memakai baju dan bergegas bangkit untuk membukakan pintu.


Wajah Nadia yang sudah segar muncul di balik pintu saat Vanya membukanya. Ia membawa dua porsi makanan, satu untuk Marco dan satu lagi untuk Vanya.


"Ada apa?" tanya Vanya dengan malas. Tanpa melirik dua porsi makanan di nampan yang Nadia bawa.


"Waktunya makan malam! Aku sudah membawakan makanan untuk kalian berdua."


"Bawakan untuk Marco saja, aku sedang tidak selera dengan makanan yang kamu bawa." Sambil melirik nampan yang dipegang Nadia. Berisi bubur untuk Marco, dan sepiring nasi sirataki, daging, dan sayuran untuk Vanya.


"Kalau begitu tolong bangunkan Marco. Ini sudah jam makan malam."


"Bangunkan saja sendiri!"


"Kamu itu!" Nadia sempat melirik rambut Vanya yang acak-acakkan, hingga kemudian melongok ke dalam dan mendapati keadaan Marco yang setengah telanjang. Hanya tertutup selimut.


Vanya yang merasa peka langsung menyergah dengan sarkasme. "Jangan salah paham. Kami tidak melakukan apa-apa! Tadi dia kedinginan. Aku hanya memberikan tehnik skin to skin untuk menghangatkan tubuhnya," ujar Vanya menjabarkan.


Nadia mengembuskan napasnya kasar, bola matanya berputar sedikit hingga kemudian berhenti tepat saat Vanya merubah wajahnya menjadi jutek. "Dia suamimu juga, kamu bisa melakukan apa pun dengannya! Aku tidak masalah jika harus berbagi," tukas Nadya.


Vanya tersenyum getir. Berbagi susah maksudmu?


"Maaf ya, aku sama sekali tidak tertarik, habiskan saja malam-malam kalian berdua sepuanya! Aku tidak peduli!" Ia melangkah keluar acuh tak acuh.


"Mbokk!" teriak wanita itu seraya memanggil-manggil mbok Darmi. "Aku mau makan soto!"


Dia sudah berjalan cepat menuju dapur.


"Cih!" Nadia melangkangkan ke dalam sedikit kesal. Ia menatap marah Marco yang sudah duduk sambil tersenyum ke arahnya. "Apa kamu?"


"Akhirnya orang sabar sepertimu kena juga," ujar pria itu. "Sudah kubilang mulutnya sangat jahat. Jangan terlalu baik kepadanya. Di mata wanita itu kamu adalah orang yang dia benci. Sebaik apa pun sikapmu, dia tetap menganggapmu seperti saingan."


"Semua ini gara-gara kamu. Untuk apa kamu membawa wanita itu ke sini?"


***


Sekedar info. Novel ini ada cerita aslinya di Indonesia. Untuk cerita aslinya, sebenernya lebih sadis. Si Adit (nama samaran) menjual istrinya ke mantannya dan mendapat sejumlah uang. Tapi lama-lama si Adit cemburu melihat Vanya yang pada akhirnya bahagia ama Marco. Singkat kata ia membunuh Vanya. Padahal dia yang jual duluan. Tapi di cerita ini gak ada bunuh-bunuhan ya, aku g berani nulis pembunuhan, cuma mengambil temanya aja untuk judul.


Kabar gembira kedua. Yang nanya Visual Marco dan Vanya, udah ku taruh di Ig ya. Cek story ig @anarita_be