Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh Satu


"Sampai sini aja, Pa!" Ella turun dari mobil sedikit melompat. Bibirnya masih setia mengerucut karena Vanya tak ikut mengantarnya seperti biasa.


"Kenapa sampai di sini? Papa anterin ke kelas ya." Gadis kecil itu langsung merentangkan kedua tangannya. Bermaksud menghadang sang papa agar jangan ikut masuk ke dalam.


"No Papa! Ella sendiri saja!" serunya.


Marco tergelak melihat tingkah laku putrinya yang sangat lucu.


"Kenapa? Beri satu alasan kenapa papa tidak boleh masuk ke dalam?"


Dan gadis kecil itu menarik celana berbahan cinos yang Marco kenakan. Membuat pria itu membungkuk untuk mendekatkan telinganya ke arah Ella.


"Ella tidak suka jika papa bertemu dengan bu guru Molly. Makanya Ella gak mau papa ikut!"


"Loh, kenapa?" Marco sedikit mengerutkan alisnya. Pura-pura memasang wajah bingung seolah sedang menunggu curahan apa yang akan anak kecil itu katakan.


"Bu guru Molly bilang papa sangat tampan. Dan Ella tidak suka kalau bu guru Molly lihat-lihat papa!"


"Ah, begitu? Ella sedang cemburu?" tanyanya berbisik-bisik juga.


"No! Papa masih jelek!"


"Terus kenapa papa tidak boleh masuk?"


"Karena mama tidak suka dengan bu guru Molly. Dia genit!"


Senyum pria itu mengembang sempurna saat melirik wajah Ella terlihat kesal sekali saat bercerita. "Dari mana kamu tahu mama tidak suka?"


"Menurut Ella mama tidak suka! Waktu itu papa pernah mengobrol dengan bu guru dan mama jadi kesal melihatnya. Jadi Ella tidak mau papa bertemu dengan bu guru lagi." Wajah anak itu sangat serius saat bercerita.


"Ah, begitu!" Marco melipat bibirnya ke dalam untuk menahan tawa. "Jadi Ella mau masuk ke sekolah sendiri ya? Kalau begitu Ella masuk, dan papa akan berdiri di sini sampai Ella masuk ke pintu gerbang."


"Itu lebih bagus."Gadis kecil itu mengangguk setuju.


"Cium dulu." Marco menundukkan badannya kembali. Ia tersenyum hangat saat satu kecupan mendarat singkat di pipi sebelah kiri.


"Dada Papa!"


Ella berjalan sedikit lari, saat hendak masuk ke pintu gerbang, Ella dihadang oleh teman-temannya, teman yang dulu seing mengejek Ella lantaran tidak memiliki papa sendiri.


"Ayo ke kelas bareng Ella!" Salah seorang gadis berbando kuda poni ngejak Ella masuk. Ella hanya membalas dengan senyuman, lantas berbalik menuju Marco yang masih berdiri di depannya.


"Papa!" Gadis kecil itu berteriak. Sengaja agar teman-temannya tahu kalau sekarang ia sudah memiliki papa.


Beberapa teman yang melihat Ella saling berbisik. Memperhatikan papa Ella dari ujung kaki ke atas kepala.


"Papa Ella ganteng."


"Iya, punya mobil bagus, lagi."


Sementara Ella merengek, tangannya mengepang minta digendong. "Loh, kenapa tidak jadi masuk? Mau diantar sampai kelas?"


Eh? Marco tergelak gemas. Lantas menghujani banyak kecupan di mana-mana.


Teman-teman Ella masih berdiri di samping gerbang. Terus memperhatikan kemanisan sikap Marco pada putrinya.


Satu kecupan mendarat di hidung Marco. Tangannya yang mungil mengalung indah di leher pria itu.


"Terima kasih banyak, Pah. Sekarang Ella sudah tidak diejek temen-temen lagi karena sudah punya papa." Rangkulan anak itu di pundak Marco terasa semakin erat. Menghadirkan rasa suka bercampur duka yang bersatu menjadi sebuah adonan haru.


Di titik ini Marco baru baham bahwa Ella sedang memamerkan kedekatannya dengan sang papa pada teman-teman yang selama ini mengejeknya.


"Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang berani ngejek Ella. Papa jamin," tegas Marco. "Ella jangan sedih oke! Sekarang masuk ke kelas dulu bersama teman-teman, ya."


"Iya, papa jangan pergi jauh lagi dari Ella!"


"Siap putri kecil papa yang paling cantik!"


Ella tergelak. Kata cantik yang hampir setiap hari Marco ucapkan membuat kedekatan mereka semakin bertambah. Ternyata mengambil hati Ella begitu mudah. Gadis kecil yang tidak lama lagi berumur lima tahun itu sangat suka dipuji cantik atau pintar.


Ella masuk ke dalam kelas bersama teman-temannya. Teman yang dulu sering mengejek Ella tidak punya papa sekarang mulai mengakrabi Ella.


Beruntung anak kecil itu masih memiliki hati polos. Sehingga Ella tidak memiliki dendam atau marah pada teman-temannya.


Sebuah panggilan masuk tak lama setelah Ella dan teman-temannya menghilang di balik pintu gerbang.


"Hallo Her? Apa sudah selesai pembayarannya? Apa aku sudah bisa datang ke perkebunan itu sekarang?"


Sudah Tuan, tapi seluruh tabungan saya habis untuk membayar perkebunan itu. Hero terdengar marah dan bersungut-sungut di balik sana.


"Nanti kubayar jika proyek kita bulan depan tembus! Kenapa kamu perhitungan sekali pada bossmu? Siapa yang membayar gajimu selama ini," sungut Marco balik tak terima.


Saya wajib perhitungan. Uang itu saya dapatkan dengan bekerja sepanjang waktu, jawab Hero kesal.


"Dasar pelit! Aku hanya pinjam bodoh, bukan sedang meminta. Kau 'kan tahu sendiri uangku hanya tingga sisa beberapa milyar saja. Tidak mungkin aku mengosongkan rekeningku sampai benar-benar kering, Her! Selama ini uangku tidak pernah kurang dari satu Kuadriliun! Sekarang aku benar-benar miskin. Kasihanilah aku, Her!"


Tapi rekening saya kosong gara-gara Anda. Anda yang miskin saya yang kena batunya.


Panggilan di tutup paksa dari balik sana. Marco tergelak lantas masuk ke dalam mobil.


"Dasar pria ngambekan!" Marco masih tertawa saat mobilnya sudah melaju meninggalkan halaman luar sekolah Ella.


Pria itu berniat datang ke perkebunan tempat Vanya bekerja untuk melakukan survei tempat. Ini adalah kali pertamanya Marco menunjukkan diri ke hadapan umum. Selama ini pria itu lebih sering berada di rumah dan keluar sebentar hanya untuk mengantar Ella ke sekolah.


( Satu Kuadriliun \= 1000. 000. 000. 000. 000. atau seribu Triliun)


***


300 komen aku up lagi.