Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Tiga Puluh Empat


Alasan utama Marco tidak menuntut dan tidak memberi tekanan berat pada hidup Vanya adalah karena rasa trauma dalam diri wanita itu. Ia memberikan segala kebebasan pada Vanya sambil pelan-pelan mengawasi. Itu sebabnya ia membiarkan Vanya bekerja di perkebunan tuan Albert untuk sementara waktu.


Selain itu, Marco juga sadar sekali bahwa dirinya sendiri merupakan mantan bajingan. Jika dibandingkan dengan Syam, apa yang Marco perbuat pada Vanya di masa lalu jauh lebih jahat dari pria itu. Bisa dibilang Marco tidak bisa dimaafkan. Meski ia sendiri bersyukur bahwa Tuhan masih menggerakkan hati Vanya selebar-lebarnya untuk memaafkan segala kesalahan pria itu.


Lantas ... kenapa Marco memberikan hukuman seberat itu pada Syam? Padahal dirinya sendiri tidak kalah bajingannya dari pria itu.


Sempat Marco berpikir seperti itu sebelum menindak lanjutin perbuatan Syam. Sempat Marco merasa bahwa dirinya yang lebih hina sama sekali tidak pantas memberikan hukuman apa pun pada Syam.


Namun, manusia tidak akan memiliki efek jera jika hanya sekedar dipenjara. Mungkin kali ini Syam memohon-mohon penuh ampunan. Tapi tidak menutup kemungkinan pria itu akan mengulangi hal yang sama dikemudian hari pada perempuan lain.


Bukankah itu sangat berbahaya?


Jadi, Marco putuskan untuk menghukum Syam dengan cara itu agar menjadi contoh buruk yang tidak patut ditiru oleh siapa saja. Bagi Marco harga itu sangat pantas untuk perbuatan kejam yang traumanya bisa berdampak jangka panjang pada wanita.


Tidak ada wanita baik-baik yang mau dilecehkan. Begitu pula wanita yang kini tengah menunduk ketakutan di hadapan Marco. Dia semakin takut seakan nyawanya berada diunjung tanduk.


Jika bisa memilih, wanita itu lebih baik dihukum mati daripada ditelanjangi di hadapan semua orang.


Marco menatap kekasih pria yang masih memasang wajah memelas di belakang sana.


"Berikan pengakuan yang membuatku merasa puas, baru aku akan melepaskannya!"


"Ba-baik, Tuan!" Dengan satu tarikan napas kuat, pria itu berbicara kembali, "Kesalahan kami sangat berat, kami sudah menganiaya dan memfitnah korban pelecehan yang seharusnya kami lindungi sepenuh hati! Atas tindakan itu, saya mengakui bahwa kami pantas dihukum seberat-beratnya!" jawab pria itu mengakui dengan keyakinan hati.


"Bagus!" Marco menyeringai puas, tapi tidak dengan para pekerja lain yang justru menunduk semakin takut karena pria itu telah menjabarkan kesalahan-kesalahan mereka dengan benar dan jelas.


"Duduk kau!" Berbicara pada si wanita.


"Terima kasih, Tuan!" Perempuan itu membungkuk. Kembali berjalan pada posisi semula untuk duduk.


Semuanya mengangguk tanpa kata.


Karena tidak tega melihat wajah mereka yang sudah berubah pucat pasi, akhirnya Marco memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini.


"Aku memutuskan untuk memaafkan kalian! Aku juga tidak akan memecat kalian dari perkebunan karena pekerjaan kalian tidak ada hubungannya dengan kejadian ini. Tapi—"


Marco menghentikan bicaranya. Sengaja agar semuanya penasaran menunggu hukuman apa yang akan mereka dapatkan.


"Aku tidak bisa melepaskan kalian begitu saja. Perbuatan kalian sama sekali tidak bisa jika hanya sekadar dimaafkan. Jadi, kalian bisa mulai bekerja kembali setelah menjalani hukuman selama tiga bulan!"


Sontak semuanya baru bisa mengembuskan napas lega. Tiga bulan bukanlah sebuah hukuman berat dibanding fitnah dan perbuatan aniaya yang Vanya terima dari mereka.


"Terima kasih Tuan!" jawab mereka kompak.


Marco mengangguk. Kakinya mengayun mengelilingi mereke semua. "Tapi tiga bulan hukuman itu bukan hanya sekedar hukuman. Nantinya kalian akan diberikan edukasi khusus tentang bagaimana caranya melindungi dan membela wanita yang dilecehkan! Kalian harus berjanji bisa memahami dan mengamalkan edukasi itu pada setiap orang yang akan kalian jumpai!"


"Baik Tuan ... terima kasih banyak!" jawab mereka lagi-lagi kompak.


Marco sedikit mengendurkan ekspresi menyeramkan wajahnya. Lantas kembali duduk di kursinya—tepat di samping tuan Albert.


"Terima kasih sudah banyak membantu Tuan Albert! Terima kasih sudah menyediakan tempat untuk istriku mencari nafkah. Jasa Anda sama sekali tidak bisa kubalas."


Tuan Albert tersenyum bangga. "Seharusnya saya yang berterima kasih. Karena Anda telah membeli perkebunan ini dengan harga fantastis. Terlebih, Anda tidak memecat karyawan-karyawan kepercayaan saya. Sunggu mulia hati Anda Tuan Marco."


Marco hanya membalas ucapan tuan Albert dengan senyuman.


***