
Ucapan Marco menjadi sebuah bumerang yang memukul telak harga diri Vanya saat itu juga. Samar-sama ia dapat melihat wajah puas pria itu meski dalam pencahayaan setengah redup.
"Bu-bukan begitu!" sergah Vanya secepat kilat. Ada nada tergugu-gugu saat mengatakannya.
"Lalu bagaimana?" Pria itu menyeringai penuh kemenangan. "Akui saja bahwa kau memang merindukanku!"
"Tidak sama sekali!" pungkas Vanya sejelas-jelasnya. Melihat bibir marco yang menyeringai licik membuat Vanya muak dan ingin menyumpal mulut Marco dengan botol yang ia pegang sekarang juga.
"Kalau begitu—" Marco menarik lengan Vanya. Kemudian menaruh sebungkus mi instan yang ia bawa di tangan wanita itu. "Buatkan aku mi, sebagai gantinya aku akan tidur di kamarmu malam ini," bisik pria itu sarkasme.
"Apa-apaan ini?" Vanya melotot tajam kembali. Tangan kirinya yang kosong mulai gemetar akibat tidak kuat menahan hawa emosi yang datang menyergah tiba-tiba. "Kau pikir aku babumu, hah? Enak sekali kau memerintahku seenak jidatmu! Dengar ya Marco, aku tidak butuh kepuasan dari lekai yang suka berpoligami sepertimu. Aku jijik!" tegasnya.
Marco terlihat memasang wajah garang kembali. Kelima jemarinya menyentuh wajah mungil Vanya sedikit kasar. "Jika kau kau tidak ingin dipisahkan dengan bayimu, sebaiknya turuti semua kata-kataku!"
Sontak Vanya mendelik heboh dengan kernyitan yang sudah memenuhi seisi dahi. "Maksudmu apa?"
"Ini adalah perjanjian yang aku buat secara mendadak. Kau ingin hidup bersama bayimu selamanya, 'kan?" tegas pria itu.
Vanya menatap Marco lekat-lekat. Alisnya semakin menukik tajam pertanda tidak paham arah bicara pria itu akan berakhir ke topik yang mana. "Maksudnya jika aku membuatkanmu semangkuk mi, kau akan membiarkan hak asuh anak ini jatuh ke tanganku?"
Marco mendesahkan napasnya geram. "Hak asuh anak itu hanya akan jatuh ke tanganmu jika kau menuruti semua kemauanku selama satu tahun ke depan."
Benarkah?
Vanya terdiam dengan spekulasinya sendiri. Tatapannya semakin menjurus lurus penuh tanda tanya besar di atas kepala. Sekelebat perasaan bahagia datang meski badai yang harus ia lalui semakin terjang menghadang.
"Tunggu apalagi? Cepat buatkan aku mi!" perintah pria itu semakin kasar.
Vanya sempat mendengkus sebelum akhirnya melangkah menuju dapur membuatkan mi instan untuk pria itu. Sementara Marco berjalan santai menuju meja makan, menarik kursi dan duduk manis menunggu makanannya datang.
Beberapa detik kemudian Vanya kembali lagi. Masih menenteng sebungkus mi yang Marco berikan tadi. "Bukankah tadi kau sudah makan bubur? Kau mau mengerjaiku, ya?" tanya wanita itu sedikit curiga.
"Bubur yang Nadia buat tidak enak. Aku membuang makanan itu tanpa sepengetahuan Nadia."
Dasar lelaki laknat!
"Kalau begitu makan nasi saja. Di dapur masih banyak lauk. Kau 'kan habis sakit, sebaiknya jangan makan makanan instan seperti ini," ujar Vanya mencari alasan. Sebenarnya ia malas jika harus bertemu kompor di tengah mal begini. Dalam keadaan mengantuk pula.
Marco menoleh sinis sambil menggebrak meja. "Hari ini aku mau makan mi instan. Kenapa kau banyak omong sekali?"
Definisi suami durhaka! Ada lauk malah minta mi. Vanya menghentak-hentakkan kakinya kesal. Terpaksa berbalik ke arah dapur kembali untuk menuruti kemauan pria itu.
Tak lama kemudian, satu bungkus Mie yang Marco berikan telah tersaji di atas meja makan. "Aku mau tidur dulu, selamat malam."
"Ehem!" Pria itu berdeham sebelum sempat Vanya melangkah.
"Duduk. Tunggu aku sampai selesai makan!"
Mati saja lah kau Marco!
Vanya menarik kursi yang ada di depannya. Ia memangku dagu sambil menatap pria yang tengah sibuk mengaduk mi di depannya.
*
*
*
"Kau mau apa?" Vanya memekik heran saat melihat Marco datang menyusul ke kamarnya beberapa saat setelah ia masuk.
"Aku mau memberimu hadiah."
"Hadiah apa? Aku tidak butuh hadiah apa-apa. Pergi dari kamarku sekarang juga!" pungkas Vanya.
"Bukankah kau merindukanku?"
Vanya reflek mundur satu langkah. Ia dapat merasakan bahwa pria itu sedang menatapnya penuh arti. Sorot matanya mengandung jejak lapar berkilat-kilat dipenuhi oleh hawa nafsu. "Tidak! Aku tidak butuh hadiahmu. Kembali ke kamar, Nadia akan mencarimu jika kau ti—"
Vanya sudah tidak dapat menghindar lagi. Sapuan bibir Marco yang menyerangnya secara tiba-tiba membuat wanita itu bungkam seketika.
Marco mencumbunya dengan rakus layaknya singa yang tidak pernah bertemu mangsanya. Tangannya sudah menyusup dan meraih apa pun yang ada di balik baju tipis yang Vanya kenakan. Membuat wanita itu mendesah sekaligus meronta-ronta.
Vanya berusaha membangun kesadarannya sambil memukul-mukul dada pria itu. Namun Marco terus menggiringnya menuju pembaringan dan bergerak lincah menurunkan satu-persatu kain halus yang membalut tubuh wanita itu.
"Ingat bayi di dalam perutmu!"
Marco menggunakan bayi itu lagi untuk mengancam Vanya agar terus menurut kepadanya. Pria itu merebahkan setengah tubuh Vanya di sandaran ranjang yang sudah diganjal menggunakan bantal terlebih dahulu. Vanya terpaksa melemah, membiarkan Marco menikmati tubuhnya meski hati itu setengan tidak rela.
Kini Marco sudah membuka semua baju miliknya. Tak membutuhkan waktu lama, dalam sekejap mereka berdua telah berhasil menyatukan tubuhnya masing-masing dengan posisi aman.
Aku tidak mau seperti ini. Aku lebih baik kesepian daripada harus digilir, batin wanita itu dalam hati. Air matanya mengalir tanpa sadar. Jantungnya bertalu-talu merasakan sesak sekaligus nikmat yang ia dapatkan secara bersamaan.
Jujur saja, karena bawaan bayi, Vanya memang kerap merindukan sosok Marco hadir menemani setiap malamnya. Namun bukan hal ini yang ia mau. Vanya hanya ingin Marco tidur di sampingnya sambil menenangkan bayi yang kadang memberontak di dalam perut.
***
Sertakan komen sebanyak-banyaknya untuk mendukung penulis.