
Season dua telah dibuka. Ini konfliknya tentang prahara ibu mertua. Bila kamu suka tinggalkan jejak di kolom komentar. Nanti aku buatkan novelnya. Terbit di sini insyaallah.
***
Gerbang hitam menjulang tinggi itu Vanya tatap dengan perasaan sedikit sendu. Tak terasa sudah satu bulan lebih ia ikut ke kota bersama suaminya dan memutuskan menetap di sana.
Sekarang Vanya tinggal di sebuah sangkar emas yang membelenggunya dari segala aktivitas dunia luar. Bersama suami, anak pertama, juga ibu mertua yang gemar berpura-pura.
Kenapa rumah yang seharusnya hangat itu ia sebut sebagai sangkar emas?
Karena sejatinya Vanya sendiri mulai ragu apakah ia dapat bertahan dalam keadaannya rumah tangga yang ironi seperti ini.
Rumah itu memang bagai sangkar emas mewah dan mampu memberikan segalanya yang Vanya mau. Akan tetapi kehadiran sang mertua membuat ruang geraknya sebagai istri menjadi terbatas. Membawanya menjadi sosok lain yang mungkin akan dipandang monster oleh anak dan juga suaminya.
Awal mulanya si ibu mertua memperlakukan Vanya dengan sangat baik, namun kian lama kepura-puraannya mulai tercium seiring berjalannya waktu.
Di saat sang suami pergi keluar kota, ibu mertua yang kerap dipanggil Mami Maria itu akan dengan seenak hati menindasnya.
Mengatakan ini itu hingga membuat telinga Vanya berdengung ngilu saat mendengarnya.
Bahkan ada hal yang lebih parah lagi, Mami maria kerap sekali memprovokasi Ella anak pertamanya agar membenci ibunya.
Suaminya juga tak luput terkena hasutan dari sang Mami agar anakanya selalu berada di bawah kekuasaannya.
Vanya benar-benar merasa tak ada gunanya lagi di rumah ini selain hanya dijadikan pion untuk memuaskan nafsu sang suami.
Semakin lama Vanya kian tak tahan, dan merasa kehadirannya di rumah ini hanya sebatas boneka penghangat ranjang saja.
Bagaimana tidak?
Marco Fernando, si suami yang Vanya harapkan dapat mengerti perasaannya selalu membela sang Mami yang pandai menyimpan muka dua.
Karena sejatinya Mami Maria adalah tipe mertua manipulatif, jadi semua orang akan mudah terpengaruh oleh kata-kata munafik wanita itu. Ia yang menjadi pelaku kejahatan, tetapi ia selalu pandai berkilah hingga suami dan juga anak pertamanya Ella selalu menyalahkan Vanya.
Lagi-lagi Vanya, Vanya yang salah di mata semuanya.
Contohnya saat ini, saat tiba-tiba sang anak marah-marah dan menyebut Vanya tidak sayang lagi kepadanya. Ia mengadu pada sang papa yang baru saja pulang kerja perihal Vanya yang telat menjemput di sekolah tadi siang.
"Pah! Papa!" Gadis berusia lima tahun itu berteriak begitu papanya turun dari mobil.
"Ada apa anak Papa yang manis?" Marco berlari kecil menangkap anak itu, kemudian mengangkatnya ke dalam gendongan.
"Tadi Mama telat lagi, Pa! Mama tidak menjemput Ella dengan tepat waktu," kesal anak itu.
Vanya yang sedang berjalan ke arah mereka langsung mendapat sergahan tidak senang dari suaminya. "Benarkah itu, Van?" tanya Marco sambil mengusap-usap puncak kepala anaknya yang tengah cemberut.
"Mami lagi Mami lagi, apa tidak ada alasan lain selain Mami? Kenapa sekarang segala kesalahanmu selalu dilimpahkan kepada Mamiku si, Van?" Marco menggelengkan kepala. Tampak nada kecewa tersirat di wajahnya kaku pria itu. "Aku tahu kamu sangat membenci Mamiku, tapi bukan berarti kau bisa menumbalkan Mami sebagai bahan alasan dari kesalahanmu, Vanya!"
"Ya ampun Co, tadi juga aku sudah bilang pada Mami akan membuatkan setelah menjemput Ella, tapi Mami tidak mau dan memintaku membuatnya saat ini juga!"
Vanya berusaha membela diri. Namun seperti yang sudah Vanya tebak, Marco sudah terlanjur banyak mendapat hasutan hingga penjelasan Vanya pun tak didengar sama sekali.
"Jangan banyak alasan, Van! Anak kecil saja bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah!" tukas Marco begitu keji. "Buktinya Ella selalu memuji-muji kebaikan Mami selama ini," lanjut Marco kemudian.
Vanya yang tak terima lantas berteriak, "ITU SEMUA KARENA MAMI TERUS MEMANJAKAN ELLA!"
Dia lantas berlari menuju kamar meninggalkan Marco dan juga Ella. Hati Vanya begitu hancur seperti dihujani banyaknya lahar panas dari atas langit.
BRAKK!
Pintu digebrak kuat oleh wanita itu.
Sang mertua yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan panas tiba-tiba muncul dari ruang keluarga.
"Jangan terlalu galak pada istrimu, Co! Dia sedang hamil muda. Hatinya pasti sangat sensitif. Kamu sebagai pria harus memahami perasaannya seorang ibu hamil," ucap Mami Maria tampak begitu perhatian. Inilah yang membuat Marco buta akan kebenaran. Sifat Mami yang terlihat peduli sekali pada menantunya membuat siapa saja percaya bahwa sang Mami adalah mertua yang baik.
"Tapi Vanya sudah keterlaluan, Mam. Persetan dengan bawaan hamil, dia memang sudah keterlaluan akhir-akhir ini!" Marco mengetatkan gigi-giginya. Ia tatap pintu kamar itu dengan wajah datar nan dingin seolah tak ada sosok bidadari lagi di dalamnya.
"Mami tidak apa-apa, Co! Minta maaflah pada istrimu." Perempuan munafik itu mengangkat dua tangannya. "Ayo Ella, katanya kamu mau mendengarkan dongeng Nenek? Yuk kita ke kamar ...."
Ia meraih tubu kecil Ella dari gendongan Marco. Marco memberikannya dengan sukarela kepada sang Mami.
"Nanti kalau sudah besar jadi gadis yang baik ya! Perbuatan Mami yang tadi jangan ditiru, itu tidak baik untuk anak kecil. Mengerti?" Sang nenek mulai menghasut cucunya tanpa Marco sadari.
Di rumah ini hanya Vanya seorang yang sadar bahwa Mami Maria sedang merubahnya menjadi sesosok monster agar Ella dan juga Marco benci terhadapnya.
Ella tersenyum riang. "Iya, Nek! Ella mengerti. Malam ini Nenek tidur dengan Ella lgi, 'kan?"
"Tentu saja, nenek akan selalu menemani Ella sepanjang waktu!"
Cucu dan Nenek itu perlahan menghilang dari pandangan Marco. Mereka berdua berpindah keruangan sebelah untuk menghabiskan waktu sebelum Ella tidur.
***
Ini adalah konflik awal dari buku kedua. Ketika kalian minta lanjut ada buku kedua, artinya kalian harus paham akan konsekuensinya.
Semua cerita pasti harus disertai konflik agar dapat dibaca. Disampaikan kesan dan pesannya terhadap pembaca. See u 🥰. Ada yang kangen aku gak?