
2 Bab ini mengandung Bab edukasi, silakan dipelajari bagi anak di bawah 20 tahun yang belum tahu. Atau bisa dipakai untuk menakut-nakuti anak atau adiknya. Wkwkkw.
***
Ucapan Vanya kemarin berhasil memprofokasi Marco agar tidak membunuh bayi tak berdosa di dalam perut Vanya. Persetan dengan siapa Vanya hamil, Marco akan terus melanjutkan rencana balas dendamnya meski posisi wanita itu sekarang sedang megandung bayi tak jelas.
Tring! Tring!
Suara panggilan dari telepon kantor berbunyi. Marco yang sedang memeriksa beberapa laporan hasil rapat segera menghentikan pekerjaaannya dan mengangkat panggilan tersebut.
Hallo
Suara Vanya di seberang sana terdengar manja. Atau sengaja dibuat manja, Marco tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Ada apa?" tanya pria itu datar.
Aku ingin mengundang temanku ke rumah ini. Boleh kah?
"Pria?"
Dia Zenith, teman sekelasmu dulu, ujar wanita itu dengan nada memelas penuh harap.
"Lakukanlah apa yang kau mau! Asal jangan berani keluar rumah apalagi kabur!" ancam Marco dengan nada tak bersabahat. Dia membiarkan Vanya bertemu dengan Zenith karena sudah tahu bahwa Vanya berteman cukup baik dengan wanita itu.
Bagaimana aku bisa kabur, kau memiliki puluhan bodyguar yang siap menemukanku jika sampai hilang, Marco!
"Hmm. Aku sedang sibuk." Marco menutup panggilannya secara sepihak. Pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya karena tidak ingin lama-lama berinteraksi dengan Vanya.
Sementara di rumah, Vanya mengedikkan bahunya tidak peduli. Ia langsung menghubungi Zenith, salah satu temannya yang berprofesi menjadi seorang dokter kandungan di salah satu rumah sakit kota.
Sekitar satu jam kemudian, Zenith datang membawa tas dines berisi alat-alat medis miliknya. "Hai Van!" Layaknya teman lama yang sudah jarang bertemu, mereka berpelukan mesra.
"Langsung ke kamar ya, Zen!" Vanya menggandeng wanita itu menuju lantai atas.
"Bi, tolong bawakan makanan kecil untuk temanku ya." Dia sempat berseru sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar bersama Zenith.
Zenith menatap kagum kamar Vanya. Ruangan itu amat luas dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Zenith sampai melongo takjub saat melihat kemewanan tempat tinggal Vanya di rumah Marco. Jauh sekali dengan rumah Vanya saat bersama Adit dulu.
"Besar sekali rumah ini, Van! Apa kamu yakin dengan curhatanmu itu. Sepertinya kamu bukan sedang menjadi tawanan Marco! Malahan terlihat seperti seorang ratu. Kalau penjaranya seperti ini aku juga mau tahu!"
"Diam Zen, jangan membuat mood-ku rusak hanya karena membahas manusia jahat itu!" tukas Vanya.
Zenith adalah tempat curhat Vanya satu-satunya. Jadi ia tahu persis seperti apa hubungan Vanya, baik dengan Adit maupun Marco. Zenith sudah tahu semua kisahnya.
"Jujur saja aku masih tidak habis pikir kenapa bisa orang sebaik Marco sampai berubah jahat seperti itu. Tapi jika dibandingkan dengan suamimu, Marco jauh lebih manusiawi loh Van. Meski dia memenjarakanmu, tapi semua fasilitasmu sebagai wanita terpenuhi."
"Cih! Mereka berdua sama saja." Mata Vanya tak sengaja menangkap tas besar yang sedang Zenith letakkan di atas meja. "Itu tas apa?" tanya wanita itu.
Zenith berjalan pelan, kemudian menghempaskan tubuhnya dan berakhir duduk di ranjang Vanya. Ia sedikit menekan-nekan benda empuk mahal yang setiap hari menjadi sarang tidur sahabatnya. "Oh, itu alat medisku. Maaf ya, tadi aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu, jadi terpaksa harus membawa tas besar itu ke sini. Maklum lah, sekarang aku masih belum ada kendaraan sendiri," ujarnya.
Sambil memasang wajah sungguh-sungguh, Vanya menghampiri Zenith dan ikut duduk di bibir tempat tidur. "Sebenarnya aku juga sedang hamil Zen!"
"A-apa kamu bilang?" Zenith mengerjap setengah tidak percaya. "Kamu bohong, 'kan?"
Vanya mendesah lemah. "Kamu seorang dokter kandungan, kurasa kamu bisa melihat dari perubahan tubuhku!"
Saat itu juga Zenith baru sadar bahwa tubuh Vanya terlihat lain. Dada wanita itu lebih berisi. Bagian pinggang bawahnya makin menyembul dan tubuh Vanya terlihat lebih segar dari terakhir mereka bertemu.
"Anak Marco?" tanya wanita itu penuh penekanan.
"Justru itu Zen, aku tidak tahu ini anak siapa, aku benar-benar butuh penjelasan dari orang yang paham akan masalah begini sepertimu! Makannya aku menyuruhmu ke sini. Aku tidak bisa mencari tahu ke mana-mana karena Marco selalu membatasi kegiatanku."
Zenit langsung meraba perut datar Vanya yang terasa mulai mengeras. Dari bentuknya saja ia sudah paham berapa usia kandungan Vanya saat ini.
"Coba ceritakan kronologinya Van. Agar aku bisa menjawab kebingunganmu."
"Aku takut Zen!" Vanya segera menghambur ke pelukan Zenith. Air mata Vanya tumpah ruah di pundak wanita itu.
"Tenang Van ... tenang. Ceritakan padaku semua masalahmu."
Zenith mengelus punggung belakang wanita itu. Tubuh Vanya bergetar hebat di pelukan Zenith.
Zenith dapat merasakan betapa bimbang dan hancurnya wanita itu sekarang. Setelah dijual oleh suaminya sampai statusnya berubah menjadi janda, Vanya malah mendapati dirinya tengah hamil.
Wanita mana pun pasti akan ikut hancur jika menyaksikan derita yang Vanya alami selama ini. Tak terkecuali Zenith yang masih single. Konflik hidup sabahatnya ini membuat ia jadi lebih selektif lagi dalam memilih laki-laki untuk dijadikan teman hidup.
***
Dua Bab langsung. Like dan komennya jangan dilewatin ya.