Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Sembilan Puluh Empat


 


Hai, Marco Sayang ….


Saat kamu membaca sepucuk surat ini, itu artinya aku sudah membulatkan tekad tanpa bisa diganggu gugat.


Aku memutuskan pergi, tapi bukan pergi untuk selamanya seperti isi pikiranmu saat ini. Aku sengaja pergi agar kamu bisa menyelesaikan urusanmu yang ternyata lebih rumit dari dugaanku. Selain itu, aku juga ingin kembali pada rencanaku sebelumnya. Yaitu pulang ke rumah nenek untuk mendapat ketenangan. Hanya saja rencananya sedikit berubah karena aku akan membiarkanmu membuktikan perasaanmu. Kutunggu kamu datang ke kampungku setelah semua masalahmu selesai. Aku sudah menitipkan alamat kampung halamanku kepada Hero jika kamu ingin datang setelah urusanmu selesai.


Marco, sayang …


 Jangan pernah menyalahkan Hero atas semua yang sudah menjadi keputusanku. Dia sama sekali tidak bersalah. Berhentilah menatapnya dengan wajah marah karena pria itu sangat peduli pada hubungan kita. Meskipun aku pergi karena mendengar cerita tentangmu dari Hero, tapi pria itu tidak pantas disalahkan karena masalah utamanya ada padamu. Aku ingin kamu lebih fokus mengurus masalahmu demi aku dan calon buah hati kita. Kami akan setia menunggumu sampai kapan pun.


Marco, saat Hero menceritakan masalahmu nanti, aku harap kamu tidak menangis apalagi menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Ini adalah ujian untuk para pendosa seperti kita. Kamu harus kuat dan berjuang lebih gila lagi jika ingin memulai hidup bersama kami (aku dan anak kita). Meskipun terasa berat dan sakit, kita harus berhasil melawan karma yang Tuhan berikan untuk menemukan titik kebahagiaan. 


Selesaikan urusanmu dengan Nadia. Karena masalah kalian jauh lebih rumit dari sekedar masalah hati.


Surat tertutup. Mata pria itu memerah dan menumpahkan cairan bening yang sudah tidak dapat dibendung lagi.  Vanya benar-benar telah pergi.


“Sebenarnya ada masalah apalagi?” Pria itu menyergah saat Hero datang ke kamarnya kembali dengan menenteng sebuah file. Suara Marco kali ini sedikit pelan dibanding sebelumnya. Buru-buru ia menyeka air mata sebelum Hero sampai di tepian tempat tidurnya.


“Kemarin saya menyelidiki nona Nadia dengan bantuan tuan Fernando. Dan hasilnya sangat-sangat di luar ekspektasi kami. Kami nyaris tidak percaya bahwa perbuatannya akan serapih itu sampai Anda sendiri tidak pernah menyadarinya selama ini.”


Kening pria itu mengkerut bingung. “Maksudmu Nadia adalah dalang di balik semua ini?”


“Lebih dari sekedar dalang. Benar-benar kacau sekali!”


Kalimat yang Hero ucapkan semakin membuat Marco seperti manusia bodoh yang tak tahu apa-apa. “Apa Nadia berbuat seperti itu karena dendam dan cemburu kepadaku? Tidak terima diceraikan begitu saja.”


Ck. Hero tersenyum tawar. “Jika masalahnya hanya seputar cinta dan perasaan, nona Vanya tidak mungkin pergi meninggalkan Anda dengan berat hati. Dia tidak bodoh seperti Anda!”


“Maksudmu apa, sih?”


"Sialan kau!" Marco setengah memaki. Ia benar-benar tidak paham akan situasi.


Memangnya ada apa dengan Nadia? Kenapa Vanya memilih pergi? Semua itu sama sekali tidak tercapai di pikirannya saat ini. Marco benar-benar jatuh pada titik kebuntuan.


Dengan gerakan cepat, pria itu mulai membuka surat itu perlahan. Membacanya dengan tenang serinci-ricin mungkin.


Hero terus memperhatikan ekspresi wajah Marco saat membaca. Di awali dengan ekspresi terkejut, kemudan murka dengan rahang mengetat seakan hendak mematahkan semua gigi-giginya.


"Keparat!" Marco melempar file itu secara membabi buta setelah membaca semuanya.


Jadi ini jawaban dari kebingungannya? Pantas saja Hero mengejeknya sebagai manusia tidak berguna. Ternyata ia benar-benar sampah tak ada gunanya.


Ia sungguh tidak menyangka Nadia adalah


Ah, sialan! Kenapa Marco bodoh sekali? Bisa-bisanya ia tidak tahu bahwa Nadia memanfaatkan kelemahannya untuk hal yang satu itu.


"Kita sudah berada di ujung tanduk. Waktu yang kita perlukan tidak sedikit jika ingin kembali membalikan keadaan seperti semula. Biarlah nona Vanya tenang di kampung halamannya. Mulai saat ini Anda harus berjuang jika masih ingin hidup bersama nona."


Marco mendesahkan napas kasar ke sembarang arah.


"Brengseek!"


TAMAT


***


WARNING BACA!!!!


OTW 4 TAHUN KEMUDIAN