Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Si Gadis Malang


Hallo Mentemen, Sayang. Novel Anna dan Hero sudah dibuatkan khusus ya. Buat teman-teman yang mau baca silakan klik judulnya.


Anna Si Gadis Malang



***


Buat yang mau baca cerita terbaruku juga ada.


Judulnya dihamili adik kelas.



Kembali lagi pada nasib Arga, lelaki itu kini sedang duduk santai di sebuah danau sambil memancing ikan. Di samping anak itu ada Roma, sahabat sekaligus orang paling menyebalkan sedunia.


"Lo kok sekarang udah jarang deket lagi sama Laura? Ada masalah?" tanya Roma penasaran.


Pasalnya beberapa waktu lalu ia sering memergoki Arga dan Laura bersama layaknya orang pacaran.


"Dia lagi ujian, mata lo gak liat?" kesal Arga galak. Sengaja ia membatasi itu agar Roma tidak banyak tanya.


"Bukan itu maksudnya. Gue perhatiin akhir-akhir ini lo sering murung. Lo lagi ada masalah ya, sama Laura?"


"Sotoy!" bentak Arga tetap bersikap baik-baik saja. Padahal dalam hati menjerit pilu saat mendengar Roma membahas nama orang yang tidak ingin Arga dengar itu.


Sejujurnya anak itu sedang menganggap apa yang menimpa dirinya adalah karma. Dulu ia sangat menghindari Laurq, sekarang malah giliran Laura yang mati-matian menghindari dirinya.


Lelucon macam apa ini? Arga sungguh tak pernah berpikir bahwa ia akan merasan momen kebalik ini.


Terkadang Arga merasa dunia memang sebercanda itu. Ia tak menyangka, di saat dirinya jatuh cinta, Laura malah tega mencampakkannya begitu saja.


"Gue gak ada masalah, kok. Tapi sebaiknya gak usah bahas-bahas nama dia lagi di depan gue, Rom! Gue muak denger namanya!"


"Besti mata lo soak! Sampe kapan pun hubungan gue sama anak itu ga pernah lebih dari musuh. Sekali musuh ya musuh, gak usah berharap gue bakalan akur!" tandas lelaki itu.


"Hmmm. Ternyata lo masih sama ye, gue kira lo udah berubah!" Balas Roma, ia kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Arga sendiri tak menjawab. Matanya sibuk menerawang jauh ke tengah danau.


Selama ini ia sudah berusaha melupakan nama Laura di hatinya. Namun, gadis itu seolah sudah terpatri kuat dan tak bisa dilepas lagi. Laura seperti memiliki magnet sendiri yang terus melekat di ruang hati Arga.


Ia juga tak tahu mengapa begini. Apakah ini karena Arga dan Laura pernah melepas kesucian secara bersama-sama, atau karena ada sesuatu yang lain?


"Hai!" Suara seorang gadis memecah suasana. Ternyata Roma membawa cewek yang entah siapa.


"Ngapain lo bawa cewek?" tanya Arga. Makin kesal lah anak itu.


"Gue sengaja nyuruh dia ke sini buat gue kenalin ke lo. Biar hidup lo ada variasinya dikit," ujar Roma.


"Gak usah aneh-aneh! Gue gak tertarik!" Arga melempar kail di tangannya kesal. Lelaki itu langsung cabut begitu perempuan yang tak di kenal itu mendekat.


"Kenapa tuh temen lo?" tanya si perempuan itu.


"Gak tau tuh! Dia gak suka ada lo dateng ke sini."


"Hah, masa sih? Ini sih udah fiks, kayaknya temen lo itu hom0."


"Gue tebak juga begitu!" Sambil memeluk tubuhnya merinding, Roma menggelengkan kepalanya heran.


Niatnya ke sini untuk mengajak Arga bersenang-senang. Ia tahu lelaki itu galau, tapi bukannya senang, Arga malah marah saat Roma menghadirkan sosok wanita.


Menurut Arga wanita terlalu menjijikkan. Ia benci semua jenis wanita karena mulut mereka tidak pasti.


Bisa berubah-ubah, dan tentunya sulit dimengerti oleh manusia awam sepertinya.