
Berbagai upaya telah dilakukan untuk membujuk nenek Laura agar mau ikut bersama mereka ke kota. Bahkan Marco sampai menawarkan akan membuatkan rumah khusus di samping rumah utama hanya untuk ditinggali nenek. Pria itu sengaja melakukan itu karena takut bila mana nenek merasa sungkan.
Namun, wanita paruh baya berhati mulia itu tetap bersih keras tinggal dengan berbagai penolakan yang ia lontarkan. Vanya sempat sedih dan menangis. Ia tak kuasa menahan semua ini dalam benaknya.
Hal yang membuat Vanya sakit adalah ucapan nenek yang tak akan mau mengakuinya sebagai cucu jika ia tidak mengikuti kemana pun Marco pergi. Pria itu adalah orang yang Vanya pilih. Sudah sepatutnya Vanya mengikuti seseorang yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk hidupnya.
Membiarkan nenek tinggal di sini. Adalah keputusan terbaik untuk nenek.
Di tempat ini nenek Laura tinggal sejak kecil. Lalu hidup bersama kakek hingga ajal menjemput suaminya terlebih dahulu.
Bagaimana bisa nenek pergi dengan Vanya sementara di tempat ini bisa lebih dekat dengan mendiang suaminya? Maka dari itu nenek bersikeras menolak dengan berbagai alasan sampai akhirnya ia mengantarkan Vanya menuju bandara terdekat menuju kota.
Berat? Tentu saja sangatlah berat. Namun, satu hal yang harus kita pahami. Hal yang paling berharga di dunia ini adalah pasangan hidup yang Tuhan takdirkan untuk kita. Yaitu suami, yaitu istri. Bukan orang tua apalagi anak.
Orang tua hanya sementara. Mereka akan melepaa kita pergi saat waktunya telah tiba. Sementara anak juga sebaliknya, satu-persatu dari mereka yang kita rawat sejak lahir akan pergi menjemput jodohnya masing-masing.
Tinggalah kita dengan jodohku. Orang yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi teman kekal kita selamanya.
*
*
*
Pesawat yang mereka tumpangi baru saja lepas landas meninggalkan rumah nenek beserta segala kenangan di dalamnya. Dan sebuah kehidupan baru sudah menanti mereka berempat nanti.
Seperti apa pun yang terjadi setelah ini. Bahagia atau luka. Vanya dan Marco akan tetap menghadapinya bersama demi janjinya yang telah mereka ucapkan pada nenek sebelum pergi.
Kini posisi pesawat sudah stabil mengambang di udara. Ella juga tidur pulas karena sebelumnya sudah diberi obat tidur agar tidak rewel saat berada di dalam pesawat.
Vanya masih menangis di samping Marco. Beberapa kali pria itu harus kerepotan menenangkan dan mengelap sudut mata istrinya yang tak berhenti menuangkan kristal bening berwujud cairan.
"Jangan menangis lagi. Kita tidak benar-benar meninggalkan nenek. Masih ada banyak waktu untuk berkunjung. Nenek juga janji mau datang ke kota jika anak kita lahirkan, 'kan?"
"Tapi aku khawatir pada nenek. Nenek pasti kesepian tanpa aku dan Ella."
"Masih ada dua suster yang akan menemani nenek. Kamu tidak perlu khawatir. Mereka 0asti bisa menjaga nenek dengan baik. Sini peluk!"
Marco menarik bahu Vanya hingga posisi tubuh mereka berubah tanpa jarak. Keduanya saling memeluk dan mengirim kehangatan satu-sama lain. Terasa mimpi, namun inilah kebahagian yang mereka rasajan.
"Jaga baik-baik kandunganmu. Ingat pesan nenek!"
"Iya." Vanya mengelap air mata terakhir yang menggenang di pipi kiri. Mungkin cairan itu sudah sangat habis karena dipakai menangis berhari-hari sebelum mereka pergi. "Kamu janji akan banyak-banyak berada di rumah 'kan?"
Di rumah? Ah, ya ampun! Sepertinya Marco melupakan sesuatu.
"Sebenarnya besok aku ada pertemuan dengan presdir Fernander dari stasiun tv xx. Bagimana dong?"
Marco memandang Vanya tak enak. Ia lupa bahwa akhir-akhir ini wanita itu sangat susah ditinggal.
Bahkan saat Marco keluar membeli es krim di kedai es krim langganan Ella, Vanya sampai ngamuk-ngamuk karena tidak diajak sendiri.
"Kamu bagaimana si? Kamu 'kan sudah janji kalau kamu mau menemaniku seminggu full saat kita sudah sampai di kota.
"Hanya setengah hari Sayang. Setelah itu aku akan banyak-banyak di rumah menemani kamu dan Ella!"
Kontan Vanya merengut tidak senang. Ia tidak suka suaminya melakukan penawaran. Apalagi menggunakan embel-embel 'hanya' seolah apa yang ia rasakan dianggap remeh oleh pria itu.
"PEMBOHONG!" sungut Vanya untuk terakhir kali.
"Astaga! Wanita satu ini!"
"Kenapa? Kamu tidak terima dibilang pembohong! Memang kenyataannya seperti itu Kok," sungut Vanya membuat Marco mau tak mau harus mengalah pada wanita itu.
"Iya ... iya ... nanti kukatakan pada Hero bahwa aku tidak bisa hadir. Biar dia saja yang me. Untuk kedepannya, kemana pun aku pergi aku akan membawamu selalu."
Apakah ini sudah cukup, pikir Marco.
Sembilan bulan
Sembilan bulan
Hanya sembilan Bulan
Marco terus mengingat kata itu jika ia sedang kesal.
Bersabarlah sedikit Marco!
Sudut hati pria itu ikut berteriak memberi semangat. Bagaimanapun juga perubahan sikap aneh Vanya berasal dari dirinya. Kalau ia tidak menanam benih secara instan di perut istrinya, ia tidak akan mendapat kepusingan semacam ini.
"Belum apa-apa kamu sudah berjanji lagi. Yakin kamu bisa membawaku kemana pun kamu pergi?" tegas Vanya.
Marco menjawa, "YAKIN!"
Tangannya kembali bergerak menarik punggung wanita itu. Ia menyandarkan kepalanya di sana. Lantas mengecupi dua tangan Vanya gemas sekali. Vanya hanya diam mendapat perlakukan seperti itu.
"Van!"
"Hmmm." Memilih berdeham karena masih kesal.
"Maukah kamu berjanji sesuatu padaku?"
"Janji apa?"
Wanita itu melirik ke samping. Bersama dengan itu Marco menoleh hingga pandangan keduanya saling mengunci. Tangan Marco masih setia menggenggam jemari Vanya di bawah sana.
"Maukah kamu berjanji akan slalu ada di sampingku apa pun yang terjadi?" Netra bening pria itu berbinar penuh harap.
"Aku tahu kita sedang bahagia dan mungkin merasa berada di titik paling tinggi. Tapi tidak mungkin kehidupan kita akan berhenti di titik ini saja. Kedepannya masalah yang kita hadapi bisa jadi bertambah berat dari semua yang kita pernah lalui. Jadi ... aku harap kamu akan selalu bertahan di sampingku. Menghadapi mala rintangan yang membentang sampai kita menua dan berakhir di peristirahatan yang sama."
"Vanya ... bisakah kau berjanji melakukan itu untukku?"
Sudut mata wanita itu kembali memanas. Tenggorokannya tercekat tanpa bisa menjawab selain hanya dengan mengangguk. Ini terlalu indah baginya ... ia sampai bingung dari mana Marco mendapat susunan kata indah dan penuh makna itu. Kata-kata yang mungkin standar dan sering di dengar orang ... tapi jarang sekali diucapkan kepada pasangan kita sendiri
Aku sayang kamu Marco. Kamu adalah kesalahan dan obat kebahagiaan untukku.
Mereka lantas berpelukan dengan linangan air mata bahagia membasahi pipi dan kerah baju.
Aku cinta kamu Van!
...TAMAT...
...***...