
"Apa maksud dari semua ini Marco?"
Vanya menatap Nadia dan Marco secara bergantian. Ia seperti orang bodoh yang terkejut sendirian saat mengetahui pria itu sudah memiliki seorang istri.
"Kamu bukan sedang bersandiwara, 'kan?" tanya wanita itu lagi, kali ini penuh amarah. Nada bicaranya terdengar bergetar. Matanya merambang dan siap menerjunkan cairan bening dari pelupuk indahnya.
"Apa yang Nadia ucapkan memang benar. Dia adalah istri pertamaku. Tujuanku membawa kau ke sini supaya kalian berdua bisa hidup rukun dalam satu atap yang sama."
Sebuah kata-kata laknat yang patut diberi gelar keparat keluar dari bibir si lelaki jahat.
"Kau gila Marco! Kenapa kau mau menikahiku kalau kau sudah menikah dengan perempuan lain? Di mana otakmu, hah?"
Marco tampak memasang wajah tenang tanpa rasa bersalah sama sekali. "Bukankah kau yang memintaku menikahimu? Aku hanya mau mengikuti keinginamu, Van. Ingat!"
Vanya mengepalkan kedua tangannya geram seakan hendak meninju wajah pria itu. Hatinya begitu sakit. Vanya ingin menjambak, mencakar, dan mencekik pria di hadapannya sampai mati.
"Aku memang pernah meminta, tapi tidak seperti ini! Jika kau bilang sudah menikah, sampai mati pun aku tidak akan pernah memintamu menikahiku!"
"Sudahlah, jangan terlalu berlebihan. Ayo masuk!" Marco mencoba menggandeng tangan Vanya kembali. Namun wanita itu segera menyentak dengan mimik jijik.
"Aku tidak mau tinggal di tempat ini!"
Vanya tak kuasa lagi menahan amarah. Letupan emosi itu terus menggerayangi diri sampai akhinrya ia memutuskan pergi.
Tanpa basa-basi lagi, Vanya segera berbalik arah meninggalkan pintu depan rumah itu menuju gerbang luar. Pikirannya begitu ruwet. Sebagian otak Vanya sudah berusaha keras bersugesti bahwa hal ini hanya sandiwara gila yang Marco rencanakan. Namun hati tertekannya selalu saja tidak bisa dibohongi. Vanya begitu merasa bersalah karena telah meminta suami orang untuk menikahinya tanpa mencari tahu dulu status Marco. Hero juga sama, selama ini ia tidak mengatakan apa-apa tentang status Marco yang sebenarnya. Bahkan ia malah gencar mendorong Vanya agar mau membuka hati untuk iblis gila itu.
Jika ia pikir-pikir ulang hal itu memang logis. Selama Vanya bersama Marco, pria itu nyaris tidak pernah menjenguknya atau sekadar ingin tau keadaannya. Awalnya Vanya merasa senang, namun lama-kelamaan ia merasa ada getar aneh dalam diri pria itu. Balas dendam yang Marco lakukan kepadanya hanya sekedar memenjarakannya di ruangan mewah dengan fasilitas wah. Marco juga jarang menyentuh Vanya walau ia tahu tubuhnya sangat digilai oleh pria itu.
Dan yang terakhir, Vanya ingat sekali saat pertama kali mereka tidur bersama. Marco pernah mengigau dan mengatakan sangat mencintai seseorang.
Jadi, apakah Nadia orangnya?
Di tengah-tengah batin Vanya yang terus bertanya, Marco menarik lengan wanita itu hingga ia sedikit tersentak.
"Jangan membuang tenagamu untuk hal yang tidak penting!" tukas Marco.
"Tidak penting katamu?" Vanya menunjuk dada Marco dengan penuh kebengisan. Pantulan matahari yang jatuh di atas kepalanya membuat otak wanita itu kian memanas dan ingin menumpahkan semua kemarahannya pada pria yang berdiri tanpa rasa salah di depannya.
"Aku tidak masalah jika kamu ingin balas dendam padaku atas kesalahanku di masa lalu. Tapi aku tidak suka caramu yang seperti ini, Marco! Aku tidak suka kau menjadikanku orang ketiga dalam hubunganmu hanya karena kau ingin menyiksaku sepuasnya. Istrimu juga wanita, dia pasti sakit hati melihat suaminya membawa wanita lain ke dalam rumahnya."
Tubuh Vanya bergetar hebat hingga tanpa sadar Marco reflek memeluknya kuat-kuat. Pelukkan yang berbeda dari biasanya, tampak begitu nyaman, terurai lembut penuh kasih sayang, dan disaksikan oleh Nadia yang masih berdiri di depan pintu melihat pertiakaian mereka berdua.
Vanya segera sadar dengan posisinya. Ia tidak mau Nadia sakit hati dan salah paham melihat adegan ini. Wanita itu terus memberontak sekuat tenaga, namun kekuatan Marco yang tak tertandingi membuat usaha Vanya sia -sia percuma.
"Nadia bukan wanita yang seperti ada di dalam pikiranmu. Menurutlah sedikit," lirih Marco yang belum mau melepaskan pelukannya pada Vanya.
*
*
*
Hari menjelang malam di mana Vanya akhirnya terbelenggu di rumah neraka itu. Ia tidak mau keluar kamar dan menghabiskan waktunya dengan menangis di tempat tidur.
Bahkan saat pelayan mengajaknya makan malam, Vanya tak menjawab dan terus menangis tiada henti. Nadia yang baru saja selesai makan pun sedikit khawatir. Ia menawarkan diri pada Marco untuk membawakan makanan ke kamar Vanya.
"Silakan saja, tapi jangan lupa persiapkan hatimu karena dia galak, aku tidak yakin kamu bisa tahan dengan mulutnya yang pedas!" ujar Marco mewanti-wanti.
"Tenang saja, aku manusia yang diciptakankan tanpa hati," sindir wanita itu seraya bangkit dari kursi duduknya. Marco hanya diam dan melanjutkan makannya.
Nadia mulai bergerak cekatan mengambil piring. Ia menaruh secentong nasi dan beberapa lauk untuk Vanya sesuai takaran gizi khusus ibu hamil. Lantas menaruhnya ke atas nampan dan berjalan menuju kamar Vanya.
Ceklek ....
Pintu dibukanya perlahan. Tampak Vanya sedang duduk di tengah ranjang dengan tatapan kosong tak terarah. Penampilannya yang tadi nampak anggun sudah berubah kucel dan awut-awuttan.
"Makanlah sedikit! Jangan menyiksa bayi yang ada dikandunganmu dengan menangisi hal yang tidak penting," ujar wanita itu seraya mendekat.
Ia meletakan nampan makanan itu di atas nakas. Lantas bergabung duduk di samping wanita itu. Dia sempat tersenyum sekilas sebelum tangannya menyibak anak rambut Vanya yang menutupi wajahnya.
"Marco sengaja membawamu ke sini agar aku dapat membantunya merawatmu. Jadi bersikap santai dan saling menyayangi. Kita berdua adalah istri sahnya sekarang."
Sontak hal itu membuat Vanya meradang. Ia menoleh ke arah Nadia dengan tatapan menghardik. "Jangan sok baik! Apa tujuanmu sebenarnya? Apa kamu ingin mengambil anak di dalam kandunganku juga? Maka dari itu kamu sok baik agar hatiku bisa luluh," sembur wanita itu tanpa basa-basi.
Nadia tersenyum sabar. "Untuk apa aku mengambil anakmu? Aku wanita sehat, jika aku mau anak, aku akan membuatnya sendiri tanpa harus mengambil milik orang lain."
Nadia mencoba meraih tangan Vanya dan menggenggamnya erat. "Peranku di sini adalah sebagai orang yang baik. Kamu boleh menggorok leherku suatu hari nanti jika aku sampai berbuat jahat kepadamu."
Vanya semakin bingung dengan teka-teki yang belum bisa ia pecahkan. Nalarnya terus memberontak, ia masih tidak percaya ada istri pertama yang begitu baik hati pada sosok perebut lelaki orang sepertinya.
"Kamu gila ya! Mana ada seorang istri yang bersikap baik pada pelakor! Herannya masih bisa tersenyum saat melihat suaminya membawa istri baru. Jika kamu tidak sedang bersandiwara main nikah-nikahan, itu artinya kamu tidak waras, Nadia!"
Wanita itu membalas kemarahan Vanya dengan tawa renyah.
"Besok aku akan menunjukkan buku nikah yang kami tanda tangani satu tahun lalu agar kamu percaya bahwa aku sedang tidak main nikah-nikahan, Van." Nadia terus bersikap manis dan sok baik. Membuat Vanya murka dan memilih buang muka.
"Aku tidak butuh!" ketusnya.
"Terserahmu saja si. Yang jelas satu hal yang harus kamu tahu. Nasib kita di sini bukan ditentukan menjadi seorang princes satu-satunya yang sangat dicintai oleh pangeran. Kita hidup di dunia nyata yang jauh dari alur komik dan novel. Seorang CEO tampan dan mapan seperti Marco tidak mungkin betah jika hanya memiliki satu istri. Maka dari itu aku mencoba memahami keputusannya. Bahkan jika dia memiliki empat istri lagi, aku tetap akan bersikap seperti ini pada istri-istrinya yang lainnya."
"Kamu gila! Kamu wanita tergila yang pernah aku temui!"
Vanya masih belum mendapat titik terang atas konflik hidup rumit yang menimpa dirinya.
Apakah benar ada seorang istri yang otaknya tidak waras seperti Nadia?
***
Klarifikasi author:
Udah pada pusing belum?
Novel ini mengandung plot-plot rahasia yang konfliknya akan dipecahkan satu-persatu sampai tamat. Jika ada yang marah-marah dan mengancam penulis untuk berhenti baca, itu urusan mereka. Hehehe. Novel ini hanya dituliskan kepada mereka yang mau setia menunggu kebahagaian Marco dan Vanya datang. Kalo berhenti ditengah jalan, berarti mereka memilih pergi dengan membawa kecewa.
Saranku mohon lihat deskripsi dulu sebelum baca novel ini. Di sana ada genre yang bisa kalian lihat. Jika mau bacaan yang ringan, jangan baca genre romance misteri teka-teki seperti ini.
Terima kasih🙏🙏🥰