
"Maaf, sepertinya aku harus—"
Tanpa dapat meneruskan ucapan, pria itu menempelkan bibirnya pada benda basah yang kini sudah menjadi target paten atas dasar aksinya dalam mengambil langkah inisiatif.
Tentu saja Vanya yang masih merasa memiliki harga diri berusaha memberontak. Mengunci bibirnya sekuat tenaga agar Marco berhenti berharap dan menyerah saja.
Namun, kegigihan pria yang begitu tinggi gairahnya itu tak dapat tertandingi lagi. Hasrat birahi yang sudah menggebu-gebu terus memaksa agar Vanya membuka mulutnya perlahan. Dua tangan wanita itu terkunci sempurnah sampai ia tak dapat berkutik sedikit pun.
Mungkinkah ini saatnya?
Deru napas pria itu terasa sangat memburu saat menerpa pori-pori wajah Vanya. Menerjang peraduan yang selama ini sangat ia rindukan.
Vanya sudah melemahkan pertahananannya pun membuka mulut secara sukarela. Ia membiarkan Marco menjelajahi rongga mulutnya dengan sejuta kelembutan.
Keduanya sama-sama meneguk nikmat dari kerinduan yang selama ini tak pernah bisa terbalas.
Dalam sekejap tubuh mereka memanas seolah matahari berada tepat di ujung kepala.
Seperti hilang ingatan, Vanya tak dapat mengenali siapa dirinya. Ia membiarkan Marco mengerjakan tugasnya sebagai seorang pria.
Membelai dan menerbangkan angan-angannya semakin tinggi ke atas awan.
Dan ....
Prankkk!
Suara pecahan kaca di luar sana membuat keduanya terhempas dari langit ke permukaan bumi secepat kilat. Mereka saling pandang dengan ekspresi wajah terbengong-bengong.
"Siapa?" lirih Vanya takut. Takut jika perbuatan tak ber-etika mereka diketahui oleh orang lain.
Namun mengingat hujan deras yang mengguyur bumi rasanya tak mungkin jika ada orang menyelinap masuk. Apalagi mereka berada di tengah-tengah perkebunan dalam kondisi gelap gulita.
"Aku cek keadaan di luar dulu. Kamu di sini saja."
Wanita itu mengangguk tanpa kata.
Tangan Vanya terjulur menyentuh daster yang sudah setengah mengering. Ia harus cepat-cepat berpakaian sebelum hal yang lebih gila dari tadi terjadi lagi. "Aku mau berpakaian, sepertinya bajuku sudah kering."
Pria itu membiarkan Vanya turun dari pangkuannya. Lantas melempar senyum saat Vanya mengenakan pakaian yang baru setengah kering itu untuk menutupi tubuhnya.
Setelah merasa aman, ia kembali menuju tempat Vanya berada.
"Bagaimana, apa ada orang lain selain kita?" tanya wanita itu dengan wajah was-was sekali.
Marco menggeleng. Tangannya membawa potongan kayu untuk menambah hawa panas dari sumber perapian. "Tidak ada, sepertinya pecahan kaca itu terjadi karena angin."
Dijejalkannya potongan kayu kering itu hingga api melahapnya dengan cepat. Menambah kehangatan di sekitar mereka.
"Apa kamu sudah memastikannya? Bagaimana kalau sampai ada orang yang masuk?"
"Tidak ada siapa pun! Kaca itu murni pecah karena angin. Lagi pula kita pasangan suami istri yang sah! Tidak akan ada yang berani menghakimi keadaan kita!"
"Hmmm." Vanya menunduk malu. Suami istrinya, ya? Rasanya terdengar lucu dan sangat aneh.
Kecanggungan yang lebih besar pun kembali terjadi. Kini mereka duduk bersebelahan menghadap perapian. Tangan Vanya memeluk kaki dengan dagu menempel di atas lutut. Sementara Marco duduk di sebelah wanita itu tanpa berniat memakai bajunya.
Sempat terjadi jeda sepuluh menit di mana keduanya benar-benar terdiam tanpa kata.
Marco yang sudah kembali sadar terlihat bingung. Bingung bagaimana caranya memulai hal itu kembali.
Ia ingin pura-pura lupa seolah tidak terjadi apa-apa, namun hasrat besar yang belum sepenuhnya luruh membawa harapannya semakin tinggi. Sesuatu di dalam dirinya memaksa ingin segera dituntaskan saat ini juga.
Bagaiamana ini? Apa yang harus Marco lakukan, sementara Vanya saja sudah kembali mengenakan penutup tubuhnya.
Jika Marco memintanya baik-baik. Ia takut Vanya menyerangnya dengan kalimat pedas seperti tadi siang.
Mengolok-ngolok Marco sebagai buaya tak ber-ekor tidak tahu diri yang hanya mau enak-enaknya saja.
Ah, sialan!"
Kenapa ia harus berada di posisi serba salah seperti ini, si?
***
Sabar sayang. Dua ratus komen aku gaskeun nih... Wkwkw.