
Menyebalkan ... menyebalkan ... dasar suami tidak tahu diri!
Vanya terus bersungut-sungut kesal dalam setiap gerakan tangannya. Ia membasuh seluruh tubuh Marco dengan gerakkan kasar sesuai keinginan hati yang setengah tidak rela melakukan pekerjaan itu.
Hero hanya diam memperhatikan dari arah belakang. Meskipun tampak marah, Hero merasa Vanya sangat telaten dalam merawat Marco. Persis seperti istri idaman para lelaki. Membuat otak Hero berkelana dan membayangkan jatuh sakit sambil diperhatikan oleh istrinya seperti itu.
Kapan aku nikah?
Pikiran itu pun melayang di benak Hero secara tiba-tiba.
"Tolong sekalian gantikan bajunya." Pria itu kemudian maju setelah melihat Vanya hampir selesai mengompres tubuh Marco. Ia meletakkan baju tidur berbahan kain tipis longgar agar mudah dikenakan. "Saya mau keluar ambil obat dan air hangat dulu," ucapnya pelan.
"Sekalian ambil racun!" gerutu Vanya bersamaan dengan seulas senyum yang terbit malu-malu dari bibir Hero. Tangannya sudah bergerak kembali, mulai membalik tubuh Marco yang seperti mayat hidup ke sana ke mari untuk mengambil ruang pas dalam memakaikan baju ganti untuknya.
"Berat," sungutnya lagi.
Setengah hati Vanya masih tidak mau merelakan tenaganya yang nyaris habis dipakai mengompres dan memakaikan baju ganti untuk Marco. Sementara semua waktu pria itu saja dihabiskan bersama istri pertamanya setiap malam. Walaupun jarang melihat kepulangan Marco, Vanya selalu melihat suami istri itu keluar setiap pagi dari kamar yang sama. Meskipun sudah berusaha abai saat melihat, namun tak dipungkiri bahwa hati Vanya selalu merasakan kelenjar-kelenjar aneh yang menggerayangi diri.
Kini Marco sudah selesai minum obat. Sudah kembali terlelap dalam tidurnya juga. Hero yang merasa tidak dibutuhkan lagi segera pamit undur diri.
"Saya mau permisi dulu, Nona. Banyak pekerjaan tertunda yang harus saya urus di kantor. Terima kasih atas bentuk kooperatifnya." Hero menunduk sopan, namun sedetik kemudian Vanya menarik kasar lengan pria itu dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Tidak usah basa-basi lagi di depanku!"
Mereka sudah berada di luar kamar sekarang. Pintu kamar masih terbuka sedikit, namun sudah dipastikan bahwa pria yang sedang terbaring lemah di ranjang sana tidak akan mendengar percakapan mereka sedikit pun.
"Ada apa nona?" lirih Hero sedikit takut, takut diamuk oleh Marco tentunya.
"Jangan sok polos kau sialan! Jelas-jelas kau tahu bahwa Marco sudah memiliki seorang istri, kenapa kau membiarkan dia menikahiku waktu itu?"
Hero tak segera memberikan jawaban. Ia mendadak diam tanpa ekspresi. Matanya tertuju pada perut buncit Vanya yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Astaga! Hero sempat mengerjap sebelum akhirnya menjawab sesuai logika. "Emm .... Tentu saja karena Anda sedang hamil Nona. Jika saya memberitahu bahwa tuan Marco sudah menikah, Nona pasti akan memberontak, makannya saya diam, lagi pula itu bukan urusan saya, saya tidak berhak ikut campur masalah pribadi tuan Marco dan istri-istrinya."
Satu tepukkan keras Vanya melayang di bahu kiri Hero. "Kau berjanji akan membantuku, tapi tak ada satu pun bantuan bermanfaat yang kau berikan kepadaku."
"Bayi yang masih bertakhta di perut Anda adalah bentuk dari bantuan saya. Jika saya tidak membujuk setiap hari, mungkin tuan Marco sudah melenyapkan anaknya sendiri sebelum sempat melakukan tes DNA."
"Sialan!" Satu tepukkan yang mendarat lagi membuat Hero tersenyum menampilkan tawa kecilnya. Sebuah kesalahan antara Vanya dan Marco adalah pelajaran baru yang tak pernah terpikirkan di otak Hero sebelumnya. Bahwa sex di luar nikah selalu menimbulkan dampak. Meskipun si pelaku sudah berusaha mencegah dengan keluar di tempat yang lain.
"Apa kau!"
Tepukan ketiga mendarat lagi. Kali ini Hero meringis seraya mengusap bahunya sungguh-sungguh. Penyiksaan, batinnya.
"Kau sedang menertawakan nasibku yang malang, 'kan? Dasar sekretaris menyebalkan!"
Hero menggeleng dengan bibir terlipat dalam sejenak. "Tidak Nona!"
"Jujur saja, aku tahu pikiranmu itu!"
"Tidak Nona. Saya menertawakan hal lain."
Ugh, mana mungkin Hero mengungkapkan isi pikiran terkutuknya. Hero sedang berpikir bahwa ia tidak akan menjadi Marco yang bodoh. Jika suatu saat nanti ia mendapatkan jatah tak terduga dari pacarnya. Ia akan melakukannya dengan puas-puas dan memuntahkannya di dalam tanpa pikir dua kali. Toh mau di luar atau di dalam hasilnya tetap sama. Sama-sama akan jadi bayi yang lucu dan menggemaskan.
Ngomong-ngomong, kapan pacar Hero datang? Entah, wanita itu sibuk menimba ilmu di negri orang sampai mengabaikan Hero yang selalu merindu dalam balutan romansa kalbu.
***
Beri satu komentar buat Hero. Up selanjutnya tunggu dulu ya. Lagi di proses.