Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Satu


Sementara di sisi lain, Vanya yang tak sengaja terlelap di ranjang Marco baru saja terbangun karena merasakan lapar pada perutnya. Ia melirik jam yang sudah menunjuk pada angka sepuluh. Vanya bergegas bangun dan melangkah menuju pintu untuk meminta pelayan membuatkannya makanan.


Saat ia baru saja memutar handle pintu dan membukanya, ia medapati Nadia tengah berjalan ke arah kamar bertepatan dengan dirinya yang baru saja keluar.


"Kamu?" Nadia begitu terkejut melihat Vanya keluar dari kamar Marco dengan mudahnya. Matanya masih sedikit membola ke arah wanita itu. "Kamar itu bukan kamar yang bisa diakses oleh sembarangan orang. Apa kamu sudah tahu semuanya sampai berhasil masuk ke kamar itu?" sergah Nadia dengan sekali tebak.


Vanya tersenyum kecut. Masih tidak bisa memberikan tanda persahabatan pada wanita itu. "Ya, aku sudah tahu semuanya. Tadi pagi Marco sudah menceritakan tentang pernikahan kalian berdua yang hanya sekedar sandiwara."


Sepasang manik coklat itu menatap Vanya dengan air muka tidak percaya. Buru-buru Nadia merubah mimik wajahnya agar Vanya tidak berpikir macam-macam. Wanita itu menedekat, menepuk lembut dua bahu mulus Vanya dengan kedua tangannya.


"Kalau begitu aku turut bahagia, Van. Sejujurnya aku sudah lelah bersandiwara menjadi istri Marco. Pernikahan yang tadinya kami pikir akan mengubah keadaan ternyata salah besar. Nyatanya kami masih terbayang-bayang cinta di masa lalu. Aku harap Marco jangan sepertiku. Semoga kalian dapat hidup bahagia setelah kejujuran ini terungkap," ujar wanita itu menjabarkan.


Lagi-lagi Vanya memasang air muka tidak senang mendengar ucapan Nadia. Entah kenapa ia masih tetap saja tidak menyukai segala bentuk perhatian dan kebaikan wanita yang wanita itu lakukan.


"Aku tidak bahagia. Tidak usah mengucapkan hal-hal manis seperti itu karena hubungan kami tidak sespesial yang kamu pikirkan."


"Tapi Marco sangat mencintaimu. Kalian pernah memiliki hubungan, aku yakin kalian bisa menatanya kembali jika mua berusaha."


"Kenapa tidak kamu saja yang menata hubunganmu dengan Marco?" Ia melengos dan berlalu melewati Nadia.


"Sebaiknya jangan pernah memikirkan hubunganku dengan Marco. Pikirkan saja urusanmu sendiri."


"Kamu mau ke mana, Van?" tanya wanita itu seiring dengan kepala yang menoleh ke belakang tanpa peduli pada Vanya yang selalu mempertontonkan sikap ketus terus menerus.


"Mencari makanan di dapur," jawab Vanya tanpa menoleh.


"Pekerjaanku sudah selesai, tadi Marco menelponku lagi agar menemanimu berbelanja keperluan bayi kalian. Dia tidak mau kamu kecewa karena sudah terlanjur janji," lanjutnya.


Langkah kaki Vanya terhenti untuk sekedar menyampaikan jawaban atas ketidaksenangannya. "Aku tidak meminta kalian berdua menemaniku berbelanja. Aku juga tidak ingin melakukan hal tidak penting seperti itu, jadi kalian tidak perlu repot-repot memikirkannya."


"Jangan begitu, aku tahu kamu sudah lama sekali tidak keluar rumah. Segera makan dan mandilah, aku menunggumu."


Vanya lanjut melangkah tanpan menjawab. Membuat Nadia menggeleng diikuti decakkan sebal.


"Sampai kapan kamu akan menganggapku sebagai musuhku Vanya?" Kemudian berjalan masuk untuk berganti pakaian.


***


Menjelang siang, Nadia mengajak Vanya ke sebuah pusat perbelanjaan sesuai janjinya. Ia sedikit memaksa Vanya hingga akhirnya wanita itu mau pergi dengannya.


Sepanjang perjalanan Vanya hanya menyandar ke sisi kaca mobil sambil memandangi bahu jalanan. Bahkan sesampainya di pusat perbelanjaan, ia masih bersikap layaknya manusia tak bergairah. Mati segan hidup pun enggan.


"Apa kamu tidak ingin memilih satu pun baju bayi yang kamu suka?" Nadia sudah mendorong troli berisi tumpukan perlengkapan bayi yang ia pilah-pilih sendiri. Karena jenis kelamiin bayi Vanya belum diketahuk, Nadia memilih warna berdominan kalem yang cocok untuk bayi laki-laki ataupun perempuan.


"Kamu sudah membeli banyak. Itu saja sudah cukup. Aku capek," ucap Vanya tanpa dosa. Padahal ia hanya jalan-jalan tak jelas sedari tadi.


Vanya memandang punggung indah itu dengan tatapan heran. "Kenapa aku sangat membencinya, ya? Padahal biasanya aku tak pernah membenci orang tanpa alasan tak jelas seperti ini." Tangan wanita itu mengusap si buah hati yang tiba-tiba menendang dari bawah sana.


"Apa karena bayi ini? Dia cemburu melihat ayahnya memiliki istri lain. Ck. Lucu sekali kalau benar iya." Membuat Vanya tersenyum dan menyambar sebuah topi berwarna hijau muda.


"Ibu akan membelikan ini untukmu, Sayang."


Kemudian menyusul Nadia yang sudah mengantre di depan kasih. Vanya menaruh satu-satunya benda yang ia pilih sendiri di atas tumpukkan barang-barang yang telah dipilihkan oleh Nadia untuknya. "Aku mau ke toilet dulu sebentar. Nanti kamu duluan saja ke restoran, biar aku yang menyusul."


"Tidak mau aku temani?" tanya Nadia.


Vanya memandang tiga barisan terdepan yang juga ikut mengantre. Ia memutar setengah bola matanya. "Masih lama ... aku bisa sendiri," ujarnya malas.


"Baiklah, aku tunggu di restoran Paris Steak. Jaga dirimu baik-baik."


"Hmmm." Menjawab tanpa kata, lantas berlalu pergi meninggalkan Nadia yang masih mengantre barang belanjaan miliknya.


Sesampainya di toilet, Vanya segera membasuh wajahnya dengan air mengalir. Ia menatap kaca di depannya untuk membenarkan tali dress yang sedikit kendur.


Dasar wanita aneh. Sampai kapan wanita itu mau bersikap baik terus begini?


"Awwkk!" Vanya terhoyong saat seorang wanita menabrak bahunya tanpa sengaja. Ia sedikit meringis dengan tangan reflek memegang bahu kirinya.


"Maaf mbak ... maaf. Saya tidak sengaja."


Wanita meleng itu mendongak untuk melihat wajah orang yang ditabraknya. Di mana detik berikutnya mereka saling bersitatap dengan penuh keterkejutan.


"Kamu Monika, bukan? Kenapa ada di sini" tanya Vanya karena sudah mengenali wanita itu terlebih dahulu walau seragam yang ia pakai sudah berganti menjadi stelan petugas kebersihan.


"Eh, Nona Vanya. Iya, saya Monika. Sekarang saya sudah tidak bekerja di perusaan tuan Adit lagi."


"Bukannya kamu orang suruhannya Marco yang diutus untuk mematai-matai rumah tanggaku dan Adit?" sergahnya penuh penekanan.


Monika tersenyum tak enak hati mendengarnya. Ia tertunduk melirik perut Vanya yang sudah tampak membuncit. "Iya benar, Nona. Dulu saya melakukan itu karena kepepet. Saya butuh uang untuk biaya ibu yang sering sakit-sakitan. Tapi sekarang saya sudah tidak bekerja pada tuan Adit atau pun tuan Marco lagi. Saya memilih pekerjaan sederhana ini, toh ibu sudah meninggal, jadi say—" Monika membola saat tak sengaja melihat wajah Vanya yang sudah berubah jadi pucat.


"Nona ... nona ... apa Anda tidak papa?" Ia menopang dua bahu Vanya yang hendak jatuh. Matanya menangkap darah segar yang keluar dari pangkal paha wanita itu.


"Astaga Nona!" teriak Monika begitu panik luar biasa. Monika merebahkan tubuh sempoyongan Vanya di lantai. Lantas berlari keluar untuk meminta bantuan kepada orang sekitar untuk segera membawa Vanya ke rumah sakit.


Tak lupa ia menelpon Adit lantaran hanya nomor pria itu yang masih tersimpan di ponselnya. Monika sudah tidak memiliki nomor Marco atau siapa pun yang bekerja di perusahaan I-Mush Grup.


***


Kasih votenya dong mentemen sayang. Jangan pelit-pelit. Hehe. Ada typo entar ku edit lagi ya.