Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 15


Di ruang kerja.


Marco sudah mengamuk dan membanting beberapa barang-barang. Vanya terus berusaha meredam emosi pria itu, tetapi ia tahu kemarahan Marco kali ini tidaklah sederhana.


“Awalnya aku hanya iseng menyuruh orang suruhanku mengikuti kegiatan Hero di luar sana untuk menyelidiki hubungan Hero dan Anna. Tapi, ternyata aku mendapat kejutan yang sangat luar biasa. Berani-beraninya Hero membongkar kuburan Veronika tanpa seizinku. Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan!? Apa dia mau menghianatiku, hah?”


Marco membanting benda lagi dengan keji. Kali ini telepon ruangan ia banting sampai terbelah dua. Gagangnya sudah melayang ke bawah kolong meja.


“Sabar Sayang .... Kita tunggu penjelasan Hero. Kalau dia seberani itu, pasti ada hal besar yang sedang dia lakukan.” Vanya mengelus-elus dada pria itu.


“Tapi kenapa dia tidak memberitahuku terlebih dahulu? Itulah yang membuat hatiku sakit, Van. Mami dan Papi pasti akan marah juga jika tahu Hero selancang itu terhadap keluarga kami,” sembur Marco pada Vanya seolah wanita itu ikut melakukan kesalahan juga.


“Sabar sayang. Sabar .... ”


 “Untuk yang satu ini aku tidak bisa sabar, Van! Mereka berdua sangat menyayangi Veronika. Membuat mereka berdua melupakan anak kesayangannya yang sudah meninggal membutuhkan waktu yang cukup lama, Van. Sampai akhirnya Anna datang di keluarga kami dan cukup membantu menghibur mereka. Barulah keadaan keluargaku kembali hangat.”


“Ssst tenanglah.” Vanya memeluk Marco. Pria itu menangis menahan rasa sakit dan rindunya pada Veronika yang tiba-tiba harus disebut dalam perdebatan ini. “Semuanya pasti akan baik-baik saja.”


Istrinya yang tidak tahu apa-apa dengan sukarela mau menjadi tempat pelampiasan Marco. 


Ia bisa mengukur semarah dan sesakit apa pria itu saat ini. Apalagi Hero merupakan orang yang sangat Marco percaya lebih dari apa pun. Kadang Vanya sampai kesal bahkan cemburu terhadap pria yang akan menjadi adik iparnya itu.


“Kita tunggu Hero datang menjelaskan ya. Ayo duduk ....” Vanya membawa Marco ke sofa panjang. Ia menyingkirkan beberapa barang yang tadi Marco lempar baru kemudian duduk di sana.


Selang beberapa waktu kemudian Hero datang ke ruangan Marco tanpa membawa Anna ikut bersamanya. Hero berkata bahwa Anna belum saatnya tahu tentang hal ini. Dan gadis itu pun memilih mengerti, membiarkan Hero masuk ke ruangan Marco seorang diri dengan syarat jangan ada pertengkaran lagi di antara mereka berdua.


Pria itu melangkah pelan melewati pintu. Matanya berusaha abai melihat kekacauan yang sangat sulit digambarkan.


“Selamat siang, Tuan,” sapa Hero.


“Tidak usah banyak bicara! Cepat katakan apa maksudmu membongkar kuburan Veronika tanpa seizin keluargaku?” sembur Marco dengan kalimat telak. Hero bahkan belum sempat mencari tempat duduk karena ruangan itu begitu hancur.


“Suatu hal apa? Kenapa harus bawa-bawa Veronika segala?”


Hero tersenyum. “Karena Veronika bukanlah adik Anda!”


Mendengar itu Marco malah meradang. Kemarahannya kembali naik hingga puncak ubun-ubun. 


Bugh!


Ia berdiri memukul Hero hingga pria yang ada di hadapannya jatuh tersengkur.


“Jaga mulutmu baik-baik! Beraninya kau mengatakan itu. Atas dasar apa kau memfitnah Veronika bukan adikku?”


Hero bangun dari posisi seraya mengelap sudut bibirnya yang sudah diobati dan kini kembali mengeluarkan setetes darah.


“Kenyataannya memang seperti itu, Tuan. Saya akui saya salah, tapi apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya salah. Saya memiliki bukti medis bahwa Veronika bukanlah anak kandung tuan Fernando,” ucap Hero membuat semuanya terbelalak.


“Apa maksudmu berkata seperti itu? Dengan kau menyelidiki itu, itu sama halnya kau memfitnah ibuku selingkuh dengan pria lain! Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan, hah?”


Kali ini Vanya yang sejak tadi diam ikut nimbrung untuk bicara. “Sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan Hero, Co. Marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah.”


Marco menatap Vanya dengan rahang makin mengetat. “Bagaimana aku bisa tenang kalau Hero selalu membuatku naik darah. Apa kamu tidak dengar apa yang dia katakan barusan? Untuk apa coba Hero menyelidiki DNA Veronika dan papiku? Seandainya Mami pernah berselingkuh sekali pun, hal itu sama sekali tidak perlu di selidiki! Aku tidak mau hubungan mereka hancur hanya karena masa lalu Papi!”


“Iya ... Iya ... Aku tahu maksudmu, tapi sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan Hero, Co. Setelah dia selesai menjelaskan baru kamu marah lagi.”


Vanya mengajak Marco duduk. Hero pun sudah mencari tempat duduknya sendiri.


Dan pria itu mulai bercerita ....


***