
Suasana kamar yang semula hangat berubah dingin kembali saat Marco menjelaskan semua duduk perkara yang terjadi selama dua hari ini. Pelukan erat di antara keduanya pun tidak berarti apa-apa bagi Vanya. Karena masalah yang baru diceritakan Marco teramat besar hingga meredamkan segala bentuk kerinduannya pada pria itu.
“Jadi mamimu langsung sakit gara-gara aku?”
Kontan Marco menggeleng. “Lebih tepatnya sakit mami kumat, Van! Kondisi kesehatan mami memang sudah lama rentan. Jangan menyalahkan diri sendiri, aku tidak suka dengan sikapmu yang hobi sekali menelan masalah secara mentah-mentah!”
“Kenyataannya memang seperti itu Co,” ucap Vanya dengan bibir terlipat ke dalam setelahnya.
Pria itu menatap Vanya dengan perasaan iba. Jari-jarinya membelai permukaaan wajah ayu itu pelan sekali.
Setelah ia menceritakan semua permasalahannya pada Vanya, baik itu urusan kantor ataupun keluarga, reaksi wanita itu langsung tercenung. Tampak raut tidak enak menyelimuti wajah cantiknya kini. Seperti ada rasa salah besar menggelayuti pikiran Vanya.
“Abaikan saja Van. Jangan menambah beban pikiranmu dengan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Lagi pula sekarang keadaan mami sudah membaik, kok! Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal itu lagi. Aku bicara seperti ini karena ingin berkata jujur demi menghargaimu.”
Wanita itu mendongak, menatap wajah Marco dengan ekspresi sendu. “Tetap saja aku merasa tidak enak, Co! Andai saja aku tidak menikah denganmu, pasti mamimu tidak akan murka sampai sakitnya kumat!”
“Beraninya kamu berkata seperti itu!"Marco sedikit meninggikan nada suaranya. Membuat Vanya menyembunyikan kepala kecilnya di antara dada bidang pria itu.
"Maaf!" lirihnya.
"Buang rasa tidak enakmu itu! Walaupun kita tidak menikah, kalau sudah waktunya mami sakit ya tetap sakit!” tukas pria itu geram. "Sudah … sudah! Pokoknya aku tidak ingin mendengar kamu menyalahkan diri sendiri lagi, titik!"
Marco buru-buru mengecup puncak kepala wanita yang akhir-akhir ini sangat menyita pikirannya. "Urusan di luar benar-benar sangat melelahkan, jadi saat bersamu aku ingin mendapatkan kedamain dengan tidak banyak berdebat."
"Iya ... iya," jawab Vanya pelan.
Cukup lama mereka saling beradu mulut hingga akhirnya saling memeluk seperti ini.
Vanya melepas pelukan, kemudian memasang wajah cemberut di mana ia menarik bantal guling sebagi skat penghalang tubuh mereka.
“Sebenarnya aku ingin sekali bertemu mamimu untuk meminta maaf sekaligus membicarakan hubungan kita. Meski tidak dianggap, tetap saja aku adalah menantu sahnya. Tapi aku tahu kamu tidak akan mengizinkanku bertemu dengan mamimu. Iya, 'kan?”
Marco terdiam.
"Tuhkan benar! Isi otakmu benar-benar sangat mudah ditebak," kesalnya.
Pria itu membelai lembut puncak kepala Vanya sambil menghela napas pelan. "Belum saatnya Van. Untuk yang satu itu kita harus sabar dulu."
"Belum saatnya sama saja tidak mengizinkan!" Vanya merasa semakin tidak percaya diri.
"Beda Sayangku! Bukannya aku tidak mengizinkanmu bertemu mereka sekarang. Hanya saja waktunya belum tepat! Jika urusanku dengan Nadia sudah selesai, urusan perusahaan juga sudah selesai, pasti aku akan segera memperkenalkanmu pada mami dan papiku!"Tangan Marco turun untuk meraih tangan Vanya di bawah sana. Lantas mengecupnya berkali-kali.
"Kalau kedua orang tuamu bersikeras mengatakan tidak setuju setelah bertemu, apa kamu masih ingin memperkenalkanku pada mereka?" Pertanyaan Vanya lebih terdengar seperti sebuah tuntutan tersendiri.
Marco mengangguk pasti. "Tentu saja aku akan tetap memperkenalkanmu pada mereka. Mami dan papiku harus tahu siapa wanita yang paling dicintai oleh anaknya. Ya, meskipun bayang-bayangannya terlihat sulit, aku akan berusaha menyatukan kamu dengan kedua orang tuaku. Ingat janjiku yang satu ini!"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen.