Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Lima Puluh Sembilan


Kini Marco benar-benar sudah bertekad untuk menceraikan Nadia. Ia tidak mau lagi menjalani hidup sia-sia bersama wanita yang tidak ia cintai. Meskipun kesempatannya bersam Vanya hanya satu tahun, Marco ingin rumah tangganya tenang bersama wanita itu. Sosok yang sangat ia cinta dan membuat dunianya selalu jungkir balik setiap waktu.


Sayangnya merengkuh bahagia itu susah, bagi Marco menceraikan Nadia tak semudah membalikan telapak tangan meski sudah berpikir bahwa Nadia akan langsung setuju untuk berpisah.


Marco tetap harus meminta izin dulu kepada orang tuanya, dan juga orang tua Nadia. Karena bagaimanapun juga, pernikahan yang Marco jalani bersama Nadia mendapat restu dari kedua belah pihak orang tua secara langsung. Kecuali Hero sekretarisnya, sampai detik ini tidak ada yang tahu satu pun bahwa pernikahan mereka hanya sekadar sandiwara.


Marco tak boleh gegabah, harus berhati-hati dalam menyampaikan keniatannya. Jangan sampai orang tua Marco tahu keberadaan Vanya duluan sebelum sempat ia menceraikan Nadia. Pria itu tidak mau Vanya sampai menjadi bualan dan amukan dari orang tuanya karena dianggap wanita pengganggu.


Dan sebuah masalah baru pun muncul saat semua rencana itu masih dalam tahap angan-angan. Anna si adik angkat Marco yang selama ini sudah ia anggap seperti adik kandungnya kabur dari Amerika untuk menyusul Hero, kekasihnya. Parahnya ia sempat membaca beberapa dokumen perjanjian nikahnya dengan Vanya di ruang kerja Hero. Kehebohan pun berlanjut, Marco yang seharusnya sedang memilah-milih popok bayi bersama Vanya jadi kerepotan mengurus masalah barunya.


Untung Hero bersikap bijak dan tidak berpihak pada Anna yang salah. Marco harus segera menyumpal mulut gadis ember itu dengan sesuatu. Ia tak mau Anna membocorkan semua rencananya yang sudah ia susun begitu saja.


Ting ... tong ... ting ... tong.


Marco menekan bell dengan tergesa-gesa. Sampai menendang pintu itu beberapa kali karena si pemilik apartemen tak kunjung membuka pintu.


Apa yang sedang mereka lakukan?


Pikiran cemas tidak waras pun mulai berkelebatan di kepala. Sekitar dua menit kemudian, Hero datang membuka pintu dengan pakaian kerja sedikit acak-acakkan. Ada Anna yang tengah bergelayut manja di belakang pria itu tanpa rasa salah sama sekali.


Sebagai kakak yang selalu ingin melindungi adiknya, Marco dibuat murka dengan kelakuan mereka. Tatapannya menjurus tajam dipenuhi rasa curiga. "Apa yang kalian lakukan?"


Kepala kecil di balik punggung Hero menyembul jenaka. "Kami habis bercinta!"


Oh sialan! Ingin rasanya Hero mencekik mati pacaranya sekarang juga. Marco menatap adiknya dengan intens. Wajahnya memerah murka mendengar jawaban Anna yang begitu frontal dan terkesan to the poin.


"Pantaskan seorang gadis berkata seperti itu? Ayo ikut pulang, tidak baik seorang gadis gadis mengunjungi tempat laki-laki seperti ini." Tangan Marco sudah terulur hendak menarik adiknya. Namun Hero segera menghalangi.


"Tenang dulu Tuan. Kita tidak melakukan apa-apa, adik Anda hanya mengamuk di apartemen saya."


"Oh ya?" Marco memicing sinis saat matanya tak sengaja menangkap noda lipstick di ceruk leher sekretarisnya. "Apakah adikku hampir memperkosamu, sampai ada bekas lipstick naik ke leher seperti itu?" Menunjuk ceruk di batang leher Hero dengan mata sarkasme.


Seketika pria itu lupa bagaiamana caranya bernapas. Udara di sekelilingnya menghilang perlahan. Percayalah, segala sesuatu yang terjadi di belakang layar antara Hero dan Anna bukanlah yang sebenernya dilihat oleh Marco.


Hero langsung mengelap sisi-sisi lehernya. Semua bagian diusap lantaran ia tak tahu di mana letak noda lipstick itu berada.


"Beraninya kamu, ya! Sini kamu!"


Anna langsung bersembunyi di balik punggung Hero menghindari paksaan kakaknya. Posisi pria itu serba salah sekarang, entaha harus membela yang mana. Marco dan Anna adalah dua orang penting untuk Hero.


Jangan halangi aku, biarkan aku menjewer telinga anak itu!"


"Tenangkan amarah Anda dulu Tuan! Kondisi Adik Anda sedang tidak stabil sekarang." Hero langsung mendorong Marco keluar pintu bersama dirinya. Membiarkan kekasihnya yang sedang syok agar aman di dalam sana.


"Kau berani membantahku?" sembur Marco seraya menepuk pundak sekretarisnya begitu bengis.


Hero hanya mampu menghela napas pelan. Beruntung lingkungan di apartemen Hero cukup sepi, jadi ia tak perlu sungkan diteriaki seperti itu oleh bossnya.


"Maaf Tuan. Sebaiknya tolong percayakan hal ini kepada saya saja. Tadi saya mengabari Anda bukan untuk ke sini, tapi untuk memberitahu bahwa saya tidak bisa meng-handle semua pekerjaan kantor hari ini. Saya butuh tenaga ekstra untuk meluluhan hati adik Anda agar tidak membeberkan rahasia Anda kepada paman dan Bibi." (Orang tua Marco di Amerika)


"Cih! Banyak alasan, bilang saja kalau ingin berduaan dengan adikku! Sialan kau Her, otakmu sudah terbaca olehku!" Marco menarik dua kerah leher Hero dengan kemurkaan. Demi apa pun ia tidak terima ada lelaki lain yang berani menyentuh adiknya. "Kau tahu Anna adalah anak kesayangan orang tuaku, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya."


Ia melemparkan tubuh Hero ke dinding hingga pria itu meringis ngilu. Hero yang sudah kesal dengan sikap Marco yang selalu curigaan pun memukul telak semua tuduhannya. "Saya tahu Anda adalah seorang kakak yang sayang terhadap adiknya, tapi saya bukan Anda! Sampai detik ini saya selalu berusaha menjaga martabat wanita!"


Sontak Marco terhenyak. Mata hazel keduanya saling bersitatap dan mengunci pandangan satu sama lain.


Beberapa saat kemudian Hero membenarkan bajunya yang acak-acakkan akibat ulah Marco tadi. "Jika Anda tidak percaya bahwa saya bisa menyelesaikan masalah Anda. Silakan pecat saya sekarang juga!"


Pria itu melangkah angkuh memasuki apartemennya. Ia bahkan menutupnya pintunya dengan Kasar. Pertanda bahwa Hero tak membiarkan Marco masuk ke dalam apartemennya lagi.


"Sialan!" Marco menendang pintu apartemen Hero dengan penuh emosi. Sesayang apa pun ia pada adiknya, tetap Herolah yang jadi nomer satu di hati Anna. Pria itu memiliki kemampuan khusus meluluhkan hati kekasihnya sejak dulu.


Berawal dari situ pula hubungan Anna dan Hero terjalin. Yang awalnya hanya diperintahkan oleh Marco untuk mengatasi adiknya yang nakal, kini ia jatuh cinta secara sungguhan terhadap gadis tak sederhana itu.


Sayangnya orang tua asli Anna tidak pernah setuju anaknya berhubungan dengan Hero yang notabene terpaut usia cukup jauh dengan anaknya.


***


Tuh cewek atu meresahkan. Santet yuk ahkk. Hehehe. Jangan lupa kasih dukungannya ya gengs. 3000 like 300 komen aku up lagi.