Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Tiga Puluh


"Heuuh!"


Empasan napas kasar keluar dari saluran pernapasan Marco begitu saja. Pria itu meraup wajahnya dengan tangan kiri kasar sekali.


Seandainya Marco lebih cepat mengambil alih perkebunan mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini, pikirnya.


"Kamu marah?"


"Tentu saja aku marah, Van! Aku tidak rela tanganmu yang sangat kucintai dipakai mencuci baju pria busuk itu!" Marco mengecup punggung tangan kiri Vanya.


"Maafkan aku. Aku tidak jujur dari awal tentang pria itu. Kupikir dia hanya sekedar suka dan tidak sampai melakukan hal sejahat ini."


"Jika kamu mengizinkan, aku ingin melenyapkan nyawanya saat ini juga, aku jamin tidak ada yang tahu bahwa aku pelakunya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Tidak! Aku tidak ingin memiliki suami seorang pembunuh." Vanya memandang Marco dengan getar cemas di wajahnya.


"Bukan aku yang membunuh. Tetapi sekelompok orang hebat dari alam gelap. Aku hanya menyewanya saja."


Vanya justru semakin panik dan takut. "Jangan lakukan itu. Kumohon hukumlah tanpa menghilangkan nyawanya."


Marco sudah tahu reaksi Vanya pasti akan seperti itu. "Baiklah, aku tidak akan melakukan itu karena ini kemauanmu sendiri."


"Jangan marah, aku hanya tidak ingin kamu mendapatkan masalah."


Pria itu mengedikkan setengah bahunya "Entahlah Van, rasanya aku ingin marah pada diri sendiri. Aku emosi dengan semua ketidakberdayaanku selama ini!"


Vanya refleks bergerak mundur. Mengendurkan pelukannya dari pinggang pria itu. "Maafkan aku Co! Andai waktu itu aku berhenti kerja seperti keinginanmu, pasti kejadian memalukan seperti ini tidak akan terjadi. Sekarang aku benar-benar menyesali keputusan bodoh ini."


Bukannya marah, Marco malah menyanggah. "Semua ini salahku! Maafmu tidak berguna," tandas Marco.


"Tapi kamu marah!"


"Memang marah, tapi bukan marah kepadamu! Sudah kubilang aku sedang marah pada diri sendiri. Kamu menjadi mandiri dan selalu ingin bekerja itu karena salahku!"


Vanya menatap Marco dengan mata bingung. Ia tak tahu harus menjawab apa karena apa yang pria itu katakan benar semua.


"Saat itu aku ingin kamu berhenti kerja, tapi aku sadar bahwa merubah wanita yang mengalami trauma mendalam terhadap laki-laki tidak semudah membalikan telapak tangan. Maka dari itu aku membeli perkebunan ini. Supaya aku bisa memecatmu, atau setidaknya menjadikan kamu sebagai bossnya," jelas Marco.


Vanya sampai terenyak. Menatap bingung ke arah Marco yang juga sedang memandangnya dengan wajah muram sekaligus kesal.


"Hmm." Ia mengangguk. "Tidak mungkin aku berada di tempat kerjamu kalau tidak sedang melakukan kunjungan."


"Uang dari mana?" Bukannya tersentuh, Vanya justru menanyakan uang apa yang dipakai untuk membeli perkebunan itu.


Maklumilah, sekarang suaminya adalah orang miskin. Uang sisa beberapa milyar itu tidak akan cukup dipakai untuk membeli perkebunan apel dengan luas hektar-hektaran.


"Apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa kamu tanyakan?" decak Marco semakin kesal. Sudah kesal pada diri sendiri, pada Syam, sekarang Vanya malah membuatnya ikutan kesal.


"Aku hanya penasaran. Jika kamu membeli perkebunan itu, artinya kamu berbohong kalau sudah memberikan semua hartamu untukku."


Ada helaan napas geram saat Marco mendengar itu. "Mana mungkin aku berbohong soal itu."


"Lalu uang dari mana?"


"Aku meminjam pada Hero," akunya malu.


"Merepotkan Hero lagi?"


Pria itu mengangguk. "Apa pun akan kulakukan untukmu Vanya. Jangankan meminjam uang, yang lebih dari itu pun aku sanggup demi kamu," ujarnya.


Vanya tersenyum. Lantas kembali merapatkan tubuhnya hinnga mereka berdua terasa menyatu.


"Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan semua itu. Mulai saat ini aku akan berusaha percaya dan menggantungkan hidupku padamu sekali lagi. Tolong rawat dan sayangi aku sebagaimana kamu telah berjanji Co."


"Syukurlah kalau kamu sudah mulai percaya. Kali ini aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu lagi Van! Terima kasih sudah mau mempercayaiku." Senyumnya terbit perlahan. Mereka berpelukan cukup dalam untuk saling meyakinkan satu sama lain.


Tring !!


Sebuah pesan berbunyi. Marco segera merogoh ponsel di saku jasnya untuk melihat pesan dari siapakah itu. Wajahnya semakin sumringah begitu melihat muka-muka orang yang menganiaya Vanya tadi sedang menangis karena disekap dalam sebuah gudang.


Bagus! Waktunya aku membalas perbuatan kalian semua.


***


Jangan lupa tinggalkan komentar di setiap partnya.