
Aku update 3 bab sekaligus, termasuk part bikin dede. Tapi sabar, akan direviuw satu-satu. Kalo gak ada kendala dari pihak mangatoon, cerita akan keluar semua hari ini.
Selamat membaca.
***
Perasaan gugup, tidak nyaman, dan tak tahu harus berbuat apa membuat dua pasang manusia itu seperti kembali pada masa muda.
Masa di mana mereka baru saja mengikat diri dengan status berpacaran. Status yang digandrungi para pasangan muda sebelum memulai keseriusan ke jenjang pelaminan.
Marco bahkan tak menyangka bahwa sensasi muda yang dulu pernah ia rasakan akan kembali terjadi dengan keadaan berbeda.
Rasanya ingin mengumpat, kenapa ia bisa jadi manusia bodoh yang tak tahu harus mengambil langkah apa seperti ini?
Dan ....
Vanya yang sudah benar-benar jenuh menunggu hujan reda pun menoleh pada pria itu.
"Kamu tidak ingin berpakaian?" Matanya sedikit melirik otot tangan Marco yang terpangku di atas lutut.
"Nanti dulu saja! Bahan bajuku agak tebal, jadi masih terasa sangat basah jika dipakai sekarang." Pria itu menatap api yang nyaris padam. Menyisakan kayu hitam yang tengahnya masih memancarkan bara panas.
Ucapannya barusan jelas menyiratkan alasan licik yang terselubung di dasar otaknya.
"Oh!" Vanya mengangguk. "Ngomong-ngomong, apa papimu benar-benar sudah merestui hubungan kita?" Vanya menoleh lebih lama, mengajak pria itu mengobrol untuk meredam kegugupan.
Marco menoleh, membalas tatapan penuh tanda tanya wanita itu. "Papiku sudah, tapi mamiku belum!"
"Belum?" Bola matanya memancarkan aura murka. "Apa gunanya empat tahun kamu menelantarkan kami kalau hanya mendapat restu dari sebelah pihak saja?"
"Tenang dulu, Van! Tenang!" Diraihnya dua tangan Vanya Dengan cengkraman kuat. Adegan memberontak di perkebunan tadi pun nyaris terulang kembali.
"Aku belum menjelaskan sepenuhnya!" sentak pria itu dengan nada tegas. Membuat Vanya yang hendak mengamuk menjadi tak berkutik, lantas memilih diam dan berusaha meredam emosi besar yang baru saja datang.
"Untuk hubungan kita aku hanya butuh restu dari papiku! Dia yang memegang kendali. Jika papi sudah setuju, mami akan dengan sendirinya mengikuti."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Yang aku tahu ibu adalah kunci harapan setiap anaknya. Segala bentuk restu jelas ada di tangannya."
Tatapan Vanya semakin meruncing. Ia tak kuat jika masih harus mendapat serangan mertua setelah menjalani hidup dalam siksaan batin bertahun-tahun lamanya.
"Karena aku tahu seperti apa mamiku. Aku mengenal mami lebih dari siapa pun. Dia pasti akan luruh hatinya ketika melihat Ella sudah besar dan canti. Nenek mana yang tidak bangga memiliki cucu seperti Ella! Dan juga—"
Pria itu menjeda ucapanya, tak yakin apakah ini saat yang tepat untuk menjelaskan.
"Dan juga apa?" Napas wanita itu naik turun. Tidak sabar menunggu jawaban berikutnya.
"Dan juga posisiku sekarang adalah pria miskin yang tak punya apa-apa. Semua hartaku sudah lenyap dari tanganku."
"Maksudhnya?" Vanya terbelalak. Wanita itu kembali memiliki sifat berburuk sangka.
Tiba-tiba ia teringat mantan suaminya Adit yang rela bangkrut demi membahagiakan wanita lain. Apakah Marco juga melakukan hal yang sama? Mata itu merambang nyaris menangis.
"Kamu bangkrut? Bukannya kamu bilang sudah berjuang mati-matian untuk memulihkan perusahaan demi bisa bersamaku. Lantas ke mana semua harta kekayaanmu? Kamu berikan pada siapa? Siapa wanita yang membuatmu menjadi gelap mata dan selingkuh?"
***
Like dan komen dulu gengs.