Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tiga Puluh Satu


Hero membawa Vanya ke sebuah restaurant cepat saji yang letaknya tak begitu jauh dari rumah sakit tadi. Ia membiarkan Vanya makan dengan lahap dulu sebelum menceritakan soal kehamilannya agar tidak terkejut.


Hero memang sengaja melarang dokter memberi tahu hasil pemeriksaannya pada Vanya. Ia ingin mengintrogasi wanita itu secara langsung dan mendapatkan jawaban yang ia mau.


"Pelan-pelan Nona!" Hero menyodorkan tisu ke hadapan Vanya. Matanya berputar malas dengan hidung yang mulai kembang kempis menahan kebosanan.


"Akow sodong lopor!" Vanya berujar tak peduli. Mulutnya yang masih dipenuhi makanan membuat wanita itu kesulitan berbicara.


Mungkinkah dia dihamili oleh b*bi ngepet? Rakus sekali makannya!


Hero tertunduk sambil memperhatikan secangkir espreso yang belum disentuhnya sama sekali. Melihat gaya Vanya yang makan dengan cara seperti itu, membuat Hero mual dan mendadak ingin muntah berlian.


Setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng dan satu porsi chicken wings, Vanya mengelap kedua sudut bibirnya. Tanpa rasa dosa ia meraih tas yang diletakkan di belakang punggungnya. "Yuk pulang," ajak wanita itu.


Ia tak sadar bahwa Hero belum melakukan apa-apa sejak tadi. Minumannya masih penuh, dan tentunya belum sama sekali disentuh.


"Eh ... kalau mau minum dulu ... aku tunggu deh," ujar Vanya kikuk. "Ngomong-ngomong terima kasih untuk yang tadi, karena tuan Hero sudah menolongku sampai repot-repot mengantar ke rumah sakit segala. Sekali lagi terima kasih ya."


Hero sedikit terheran mendengar gaya bicara Vanya yang beda dari sebelumnya. Selain mulutnya yang selalu pedas, ternyata wanita itu bisa bersikap manis juga.


"Panggil saya Hero saja!" tegasnya datar.


"Iya ... terima kasih Hero!" ucap Vanya seraya memamerkan deretan gigi putihnya dengan amat jenaka. Pria itu hanya mengangguk tanpa kata, kemudian mengangkat dan menyesap secangkir espreso di tangannya secara perlahan.


Setelah dirasa cukup. Perut Vanya juga sudah terisi penuh. Hero segera mengambil foto USG dari saku jassnya. Lantas menyodorkan benda tipis hitam putih itu ke hadapan Vanya.


"Apa ini?" Vanya terkesiap menatapi gambar tersebut. Mamanya membola dalam sekejap, melihat ada nama Ny. Vanya dan beberapa kode-kode yang ia tak mengerti sama sekali.


Dengan datarnya Hero menjawab, "Itu hasil USG. Anda hamil."


"Hamil?" Sama halnya dengan Hero tadi, reaksi wanita itu juga terkejut bukan main. "Bukannya tadi kau bilang aku hanya kelelahan dan kurang makan, kenapa sekarang jadi hamil?"


"Lelah dan kurang makan adalah salah satu akibat dari pingsan Anda. Untuk faktor besarnya adalah hamil," tukas Hero.


"Ya Tuhan!" Vanya melirih penuh penekanan. Setengah dari hatinya menolak berita tidak baik itu.


Bagiamana bisa aku hamil dalam keadaan kacau begini?


Jika kabar hamilnya terjadi dulu, dan itu adalah buah cintanya dengan Adit, Vanya pasti akan dengan senang hati mendapat kabar segembira ini. Tapi sekarang keadaannya sudah berbalik, mendengar kabar bahwa ia sedang mengandung bukanlah suatu dambaan yang Vanya nantikan.


Vanya meraba perut datarnya sambil menunduk menatapi. "Sudah berapa bulan?" tanya wanita itu pada Hero.


"Dua bulan!" jawab Hero datar. "Inilah yang ingin saya bicarakan dengan Nona. Sebenarnya anak siapa yang ada di dalam kandungan itu, tuan Hero atau Adit? Jujur saya bingung."


Vanya mendongak serius. Masih berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya yang sudah tumpang tindih dengan berita kehamilannya.


"Jujur saja aku juga tidak yakin. Entah kau akan percaya pada kata-kataku atau tidak. Tapi dengan berat hati aku harus mengatakan hal ini." Vanya menjeda ucapannya sejenak untuk sekedar mengambil napas. "Sebenarnya aku sudah lama tidak berhubungan badan dengan Adit. Bahkan kami bercinta tidak sampai satu bulan sekali. Meskipun dia pernah menyentuhku, tapi itu jarang sekali terjadi, aku sudah lama melepas KB, dan ia tidak mau menyentuhku karena tidak mau aku sampai punya anak."


"Ah, begitu ...." Persetan dengan hubungan ranjang mereka. Aku tidak peduli.


"Tungggu dulu," sergah Vanya. Bibirnya mendadak terlipat dalam dan kembali menunduk dengan wajah ambigu.


"Apa lagi? Jangan bilang Nona mau membuat drama dengan cara melarang saya memberitahu soal kehamilan Anda. Itu tidak mungkin terjadi. Saya akan segera mengatakan semua ini pada tuan Marco. Kalau bisa sekarang juga."


Sontak Vanya mendongak. "Bukan begitu Hero!"


"Lalu begini?" seloroh pria itu kesal. "Anda mau apa lagi ... mau menggugurkan kandungan itu?"


"Dengarkan aku bicara dulu!" Vanya tampak mendesah berat. "Aku rasa Marco tidak akan percaya kalau anak dalam kandungan ini adalah hasil ciptaannya. Karena ...."


"Karena apa?" potong Hero cepat. Napasnya sampai naik turun menunggu Vanya yang lelet sekali dalam berbicara.


"Karena waktu itu kita hanya melakukannya selama dua malam, dan dia juga selalu keluar diluar!"


"Astaga!" Hero memegangi jantungnya yang nyaris copot. "Jadi itu anak siapa?"


"Aku juga bingung!" ujar Vanya dengan mata memelas.


Hero menepuk jidatnya, geram. "Ya ampun! Masa bingung siapa bapaknya? Tidak mungkin'kan itu anak saya, masa iya saya bisa titip saham tanpa menyentuh. Memangnya santet?"


Hero jadi teringat semboyan orang pedalaman yang suka bilang mampu membunuh tanpa menyentuh.


"Maka dari itu, jika kita memberi tahu Marco tentang kehamilanku, rasanya juga percuma sia-sia. Dia pasti akan mengira bahwa anak ini milik Adit. Jadi tolong rahasiakanlah kehamilanku dari Marco untuk sementara waktu."


Hero menggeleng tidak setuju! "Saya tetap akan memberi tahu tuan Marco. Bagaimanapun juga saya selalu ada di pihaknya. Sudah sepatutnya saya memberitahu."


Dua tangan Vanya tertaut di depan Muka. "Ayolah ... kumohon, bantu aku kali ini saja. Bukankah tadi kau bilang mau membantuku? Aku hanya takut Marco melakukan kekerasan terhadap bayi ini."


Hero terdiam sejenak, jika anak itu milik Adit, bisa dipastikan Marco akan menjadi Fir'aun versi modern yang tega membunuh bayi tak berdosa.


Tidak bisa! Hero tidak mungkin membiarkan Marco berubah menjadi sosok pembunuh.


Di tengah-tengah kebingungan Hero, Vanya meraih jemari pria itu yang tergeletak di atas meja. Buru-buru Hero menepis tidak suka. "Jaga sopan santun Anda! Mata tuan Marco bisa berada di mana saja, termasuk di sini!" tukas pria itu.


"Maaf!" Vanya berakhir meremas jari-jemarinya sendiri. "Aku menunggu jawabanmu," lanjut wanita itu.


Hero terpaksa mengangguk! "Saya hanya bisa merahasiakannya sampai bayi itu siap dites DNA. Karena cepat atau lambat, tuan Marco pasti akan tahu hal ini."


"Arghhh!" Vanya menjerit kuat.


Belum basah bibir Hero berucap, tiba-tiba satu pukulan mendarat di kepala belakang Hero. Seorang pria dengan tubuh kekar menyeret paksa Hero dari belakang sampai tubuhnya jatuh ke atas lantai. Pria itu meringis. Merasakan tubuh bagian belakangnya yang sepertinya sudah remuk.


***


Update Lagi setelah 1000 komen. Wkwkw. mamam tuh!😁


Btw Selamat hari lebaran ya semuanya.