Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Dua Puluh Sembilan


"Apa Nona sudah merasa lebih baik?" Suara Hero terdengar samar-samar saat netra berat Vanya perlahan memisah.


Ia tampak linglung sejenak, dan hanya memandangi langit-langit sambil menetralkan penglihatannya yang masih memburam.


"Aku di mana?"


"Rumah sakit," jawab Hero segera. "Dokter akan datang lagi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sebaiknya Nona tenang dulu di sini, saya mau ke mobil mengambil ponsel yang ketinggalan untuk menghubungi tuan Marco."


Pria itu baru saja hendak berbalik, namun tangan Vanya sudah lebih dulu cekatan menarik ujung jas miliknya. "Jangan tinggalkan aku," rengek wanita itu seperti orang ketakutan.


"Saya hanya mengambil ponsel untuk menghubungi tuan Marco sebelum dia marah karena saya tak kunjung kembali. Nanti ke sini lagi," ujarnya.


Dua orang yang terdiri dari dokter dan suster itu datang untuk memeriksa keadaan Vanya lebih lanjut—bersama beberapa alat medis yang Vanya sama sekali tidak mengerti. Dan malah semakin membuatnya bergidik ngeri.


"Aku takut rumah sakit ... aku takut diperiksa. Tunggu dulu di sini sampai pemeriksaannya selesai. Kumohon ...," rengeknya lagi.


Mata Vanya yang berbinar penuh rasa takut membuat Hero mendesah sabar. Terpaksa ia tetap tinggal sampai Vanya selesai diperiksa oleh dokter. "Tapi saya duduk di sofa, biar tidak mengganggu dokter yang memeriksa."


Tanpa peduli atau menunggu jawaban Vanya, Hero melangkah pelan dan berakhir menghempaskan tubuhnya di sana.


Kukira bibit singa itu tidak memiliki rasa takut. Ternyata dia takut rumah sakit.


Hero melipat kedua tangannya sambil menyandar di sandaran sofa. Matanya yang setenga mengantuk terus dipaksa membuka agar selalu terjaga.


Ia lantas mengambil remot di atas meja. Kemudian menyalakan teve dan mengganti-ganti channel dengan iseng.


Setelah tiga kali bolak-balik mengganti aneka siaran. Pilihan Hero berhenti di salah satu stasiun TV yang menayangkan adegan sinetron penuh dengan tangis dan drama.


Membosankan sekali!


Mata pria itu makin terasa rapat begitu melihat layar teve yang menyala-nyala tanpa suara. Sengaja dikecilkan agar tidak mengganggu proses pemeriksaan Vanya di sebelah sana. Hingga tanpa sadar Hero mulai terpejam. Cukup lama ia terlelap sampai sebuah tepukan lembut sang dokter membangunkan pria itu dari istirahatnya.


"Pemeriksaannya sudah selesai, Tuan."


"Ah!" Hero memijit pelipisnya yang terasa pusing akibat langsung terjaga dari tidurnya.


"Saya tunggu di ruangan saya sambil membicarakan hasilnya," ujar dokter tersebut, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


Hero memperhatikann Vanya yang masing berbaring lemah di atas pembaringan. Sepertinya wanita itu sedang tertidur. Jadi Hero langsung pergi menemui dokter tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Bagaimana hasilnya, Dok?"


Mereka sekarang sudah duduk dan saling berhadapan.


"Apa Anda suami dari Nyonya Vanya?" Pertanyaan bercampur tebakan itu lolos dari bibir dokter cantik dengan name tag Selly di dada kirinya. Ia tersenyum sambil memandang kertas hasil pemeriksaan Vanya di tangannya.


"Nyonya Vanya kelelahan. Sepertinya ia juga belum makan siang ya. Duh, ya ampun!" Dokter cantik itu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Hero hanya tertunduk malu mendengarnya.


"Nanti saya ajak makan!" jawab pria itu. Hero langsung menghela napas lega setelahnya. "Syukurlah ... untung tidak ada penyakit yang serius."


"Tentu saja ada!" Dokter itu menyergah cepat. Membuat Hero reflek mendongak dengan muka terkejut. "Maksud saya bukan penyakit ... tapi nyonya Vanya sedang hamil," ulangnya memperjelas.


"Hamil?" Mata bulat Hero nyaris copot mendengar ucapan sang dokter. Ia segera mengambil hasil foto USG dan surat pernyataan hamil wanita itu. "Berapa bulan?" tanya Hero secepat kilat.


Dokter itu tersenyum melihat ekspresi gugup Hero. "Dua bulan," katanya.


"E-eh?" Hero makin tergagap kala mendengar pernyataan dokter yang merasuki mental dan otaknya secara bersamaan.


Marco dan Vanya baru bertemu satu bulan lebih. Kalau pun mereka berhubungan badan dan langsung jadi, harusnya usia kandungan Vanya baru satu setengah bulan, 'kan? Kenapa bisa sepertini? Jadi Vanya hamil anak siapa ... Adit apa Marco? Gila, konsipirasi cinta macam apa ini? Begitulah isi pikiran Hero yang saling beradu argumen.


Tak mau pusing-pusing, Hero kembali menanyakan hasil foto USG untuk bahan informasi jika nanti Marco banyak tanya kepadanya.


"Ini artinya apa?" tanya Hero mendongak kepo setelah melihat gambar hitam putih tak jelas yang terdapat banyak kode-kode yang ia tidak tahu sama sekali maksudnya apa.


"Foto itu adalah gambar janin nyonya Vanya. Keadan janin dan ibunya cukup sehat. Hanya kelelahan sedikit. Dalam perhitungan medis, kami biasa menyebutnya dengan hitungan minggu. Jadi usia kandungan nyonya Vanya sekarang adalah delapan minggu. Besarnya sudah sebesar kacang merah dengan panjang sekitar 2,7 sentimeter," tutur dokter tersebut.


Hero terpaku tanpa suara. Matanya terus menatapi hasil foto USG itu dengan pikiran berkecamuk.


"Anda bisa lihat pada gambar. Bentuk wajahnya cukup jelas, mulai dari telinga, bibir atas, dan ujung hidungnya sudah mulai terlihat. Mata janin juga terlihat lebih jelas karena retina sudah mulai mengembangkan pigmen," ujar dokter itu lagi. Namun Hero sama sekali tak melihat gambar apa-apa di sana selain gumpalan daging aneh tak berbentuk. Malah terlihat seperti monster di matanya.


Entah di mana letak mata, hidung, dan telinga yang dimaksud dokter tersebut. Sumpah demi apa pun Hero tidak lihat. Mungkin gambar itu hanya bisa dilihat oleh mata batin dokter. Hero mana tahu yang seperti itu.


Merasa sudah tak nyaman dengan penjelasan dokter yang memusingkan, Hero pun pamit undur diri. "Baiklah Dok, kalau begitu saya permisi dulu. Takut nona muda saya bangun," ucapnya beralasan.


"Jangan lupa langsung bawa nyonya Vanya makan!" Dokter itu mengingatkan dengan nada penekanan.


Pasti Dok!


Hero lekas pergi meninggalkan ruang dokter itu sambil menaruh foto dan surat kehamilan Vanya ke saku jas dalamnya.


Sepanjang perjalanan, pria itu tak hentinya memikirkan reaksi Marco jika ia sampai tahu Vanya sudah mengandung selama dua bulan. Pria itu pasti akan murka dan mengamuk. Mungkin saja Marco akan menjadikan Hero sebagai samsak tempatnya meluapkan emosi.


***


Up kedua.


Jangan Lupa kasih Like dan Komennya.