Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Lima


"Apa Marco sudah gila?" Wajah Nadia tampak Murka saat orang suruhan Marco datang ke butik usahanya dan membawakan file berisi surat gugatan perceraian. Ia baru saja sampai karena tadi sempat menunggu kabar kehilangan Vanya di pusat perbelanjaan. Setelah memastikan Vanya aman bersama Marco, barulah Nadia kembali bekerja menangani tugasnya di butiknya.


Sambil mengerutkan dahi Nadia membaca file itu sekali lagi. Di surat itu Marco melayangkan pengajuan cerai disertai alasan-alasan mendukung keduanya untuk berpisah. Salah satunya tidak ada lagi ketertarikan dari kedua belah pihak. Maka dari itu Marco mengajak Nadia naik ke dinas pencatatan sipil untuk mengakhiri hubungan keduanya. Nadia tinggal menandatangi dan mereka akan segera bertemu bersama kuasa hukumnya masing-masing.


"Apa dia benar-benar menceraikanku hanya karena Vanya hilang? Lagi pula itu bukan salahku! Aku sudah menawarkan diri baik-baik untuk menemaninya, tapi Vanya yang menolak. Pria itu benar-benar gila," lirih Nadia nyaris terisak memikirkan sesuatu.


Nadia meraih ponsel di atas nakas. Ia berusaha menghubungi Marco untuk memastikan sekali lagi. Namun Marco di balik sana tak menjawab lantaran sedang fokus bersama Vanya.


"Ya Tuhan!" Ia menengadah diikuti oleh titian air mata yang mulai melaju membasahi pipi. "Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti akan kecewa jika sampai tahu hubungan pernikahan yang sudah kubangun susah payah akan berakhir secepat ini."


...***...


"Apa kamu tahu hubungan rumit yang terjalin di antara Vanya dan tuan Marco, Mon?" Adit menatap Monika penuh kepasrahan. Nada bicaranya terdengar tidak santai saat menyebut nama Vanya barusan. Membuat Monika sedikit gelisa dengan serangan kata seperti itu. Lekas-lekas ia membenarkan ucapannya agar Monika tidak salah beranggapan.


"Jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin memastikan Vanya bahagia setelah kupukul dengan telak luka. Dari yang aku lihat sekarang, tuan Marco memang tampak sungguh-sungguh dalam mencintai mantan istriku, tapi beberapa bulan lalu ia sering sekali menyiksa Vanya sampai babak belur. Tadi Vanya bilang padaku bahwa ia pernah terlibat cinta di masa muda, maka dari itu aku ingin memastikannya sekali lagi, mendengar cerita mereka berdua versi penilaianmu," ujar Adit dengan raut khawatir yang tampak kentara sekali menghiasi lekukan wajah sedihnya.


Monika menelan ludahnya beberapa kali. "Tapi jangan bilang ini pada tuan Marco," ucapnya penuh penekanan.


"Aku bukan anak kecil yang suka mengadu, Mon. Aku akan menganggap informasi yang kau berikan ini sebagai bayaran karena kau telah memata-mataiku selama ini."


"Emmm .... Baiklah." Monika menaruh tangan yang sedari tadi tersembunyi di bawah meja ke atas. Membenarkan posisi duduk hingga terasa nyaman untuk melanjutkan acara mengobrol canggung itu.


"Awalnya tuan Marco memang sangat dendam pada nona Vanya. Dia terus meminta saya dan beberapa orang suruhan lainnya untuk mengintai setiap kegiatan nona selama beberapa tahun ini. Seperti yang mungkin Anda sudah tahu, bahwa tuan Marco melakukan itu karena dendam pribadinya di masa lalu. Namun, lama-kelamaan saya melihat hal ini seperti bukanlah sebuah dendam. Tuan Marco seperti terobsesi. Ada hasrat di mana ia ingin memiliki tapi tak mam—"


"Aku sudah tahu!" Adit memotong pembicaraan Monika cepat. "Itu sebabnya dia memanfaatkan kelemahanku, bukan? Aku sudah sangat paham di titik itu, Mon. Yang ingin kutahu adalah perasaannya tuan Marco terhadap Vanya yang sesungguhnya," jelas Adit.


"Justru itu Tuan! Sebagai wanita yang memiliki hati sensitif sejak lahir, saya tidak pernah melihat gelagat dendam di diri tuan Marco. Saya merasa tuan Marco terlalu memaksakan diri agar menjadi orang jahat. Tak heran jika sekarang tuan Marco menyerah dan berubah baik. Karena memang aslinya tuan Marco adalah orang baik. Saya sudah sangat lama mengenalnya."


Adit tertunduk dalam mendengarnya. "Jika kau sudah bilang seperti itu, mungkin aku hanya bisa merelakan Vanya bersama tuan Marco untuk selamanya. Mungkin dia adalah lelaki yang pantas, bukan pecundang bodoh yang rela menjuak istrinya sepertiku," ucap Adit merenungi.


Sebelum bertemu di rumah sakit tadi, ia masih sangat berharap bisa mendapatkan hati Vanya kembali. Namun setelah Marco datang, Adit merasa bahwa dirinya telah kalah. Melihat tatapan Vanya yang berbeda saat Marco datang membuat ia sadar bahwa namanya di hati Vanya telah tergantikan oleh pria itu entah sejak kapan.


"Semoga Anda mendapatkan pengganti nona," jawab Monika sedikit berbasa basi. Situasi semakin canggung saat wajah Adit berubah seperti orang yang tak punya harapan hidup.


"Sepertinya pertanyaan Anda sudah terjawab. Jadi apakah saya bisa pulang sekarang?" tanya gadis itu takut-takut.


Mata Adit tertuju pada seragam petugas kebersihan toilet yang Monika kenakan. Pandangan Monika seketika berpaling menutupi perasaan malunya.


"Kabar saya baik Tuan, meskipun pekerjaan saya seperti ini, tapi saya cukup bahagia," ujar Monika menegaskan. Ia menebak bahwa Adit sedang memikirkan kehidupannya yang begitu menyedihkan.


"Apa kamu tidak ingin kembali ke perusahaanku, Mon?"


Sontak Monika terbelalak. "Anda tidak salah bicara 'kan, Tuan? Untuk apa merekrut seorang penghianat seperti saya? Bahkan saya sudah membuat perusahaan rugi besar karena kehebohan yang saya hadirkan waktu itu."


"Tapi aku memaklumi semua kesalahanmu. Aku pernah berada di posisi kepepet dan butuh uang, bahkan melakukan kesalahan yang lebih parah. Asal kau menyesal dan berhenti melakukan hal seperti itu lagi, aku tidak masalah."


Monika menggeleng penuh penolakkan. Sudut matanya mulai menggenang saat otaknya kembali merangkai kesalahannya waktu itu. "Saya sudah tidak punya muka lagi Tuan. Bahkan untuk melamar di perusahaan lain saja saya sudah tidak berani, maka dari itu saya memilih pekerjaan ini. Pekerjaan sederhana dan sering dipandang hina, tapi saya bahagia."


"Ayolah, Mon! Pekerjaan itu sama sekali tidak cocok untukmu. Kau memiliki bakat terpendam di balik semua kesalahanmu. Lagi pula semua sudah berlalu. Menyalahkan orang lain tidak ada gunanya bagiku."


"Tapi Tuan!" 


Adit menggenggam kedua tangan Monika yang sedari tadi terisi angin kekosongan. "Perusahaan sangat membutuhkanmu, Mon. Kumohon kembalilah ... berhenti memikirkan gunjingan orang, semua mahluk yang ada di bumi ini pernah memiliki kesalahan. Tidak hanya kau saja."


Membuat Monika reflek menarik tangan dengan menegukkan salivanya gugup berkali-kali. "Bagaimana ya ...."


"Aku lebih suka kamu menjawab iya," ujar pria itu tersenyum. Selain ia membutuhkan kinerja Monika yang nyaris sempurna, ia juga ingin memberi kesempatan sekali lagi pada gadis itu. Adit tidak mau egois karena ia sendiri juga ingin diberi kesempatan oleh Vanya. Meskipun harapannya kini telah luruh.


"Baiklah, mulai besok saya akan mengurus surat pengunduran diri saya dulu. Baru nanti kembali pada perusahaan Anda setelah semua urusannya selesai."


Adit menghela lega mendengarnya. "Kutunggu hadirmu kembali, Mon. Selamat bergabung."


Pria itu mengulurkan tangan. Mereka berjabat tangan tanda setuju.


***


Tunggu 1 bab lagi akan muncul part Vanya Marco. Lagi di review. Komennya yang banyak dong. aku nunggu 300 komen Wkkwk.