Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Enam


"Apa kamu bilang?" Vanya terhenyak tidak percaya setelah mendengar penuturan Marco barusan. "Jangan bilang kamu menceraikan Nadia hanya karena aku menghilang tadi. Itu sama sekali tidak lucu Marco! Aku tidak mau disalahkan orang lain hanya karena tindakanmu yang konyol," tegasnya kesal.


Vanya sedikit memberontak hingga Marco harus memegangi kedua tangan itu dengan terpaksa. "Ssttt ... jangan salah paham dulu. Surat gugatan perceraian itu sengaja kubuat beberapa jam sebelum kamu seperti ini. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi."


"Tapi kenapa? Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Vanya dengan kerlingan mata bingung.


"Karena aku sudah mengakui semua rahasiaku padamu. Jadi aku ingin hidup lebih tenang dan fokus menebus semua kesalahanku dengan mengurusmu selama satu tahun ke belakang. Meskipun kamu tidak mencintaiku, tetap saja suami istri membutuhkan privasi, rumah kita tidak akan aman jika ada orang ketiga. Maka biarkanlah kami mengakhiri sesuatu yang sudah seharusnya diakhiri. Karena dari awal pernikahan yang kami lakukan merupakan sebuah kesalahan."


Vanya mendongak untuk melihat keseriusan di wajah yang tampak maskulin tersebut. "Kalau Nadia tidak mau bercerai denganmu bagaimana?"


"Itu tidak mungkin, Van! Nadia selalu menuruti permintaanku. Dia bisa diajak berdiskusi dengan baik meski kadang sikapnya yang batu seperti tadi memancing amarahku."


Marco mencubit hidung mungil Vanya begitu gemas. Matanya menatap wanita itu lekat-lekat sampai Vanya ingin beranjak dari ranjang duduknya sekarang juga.


"Apa tidak sebaiknya dipertimbangkan lagi?" Wanita itu reflek mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Marco agar raut wajah anehnya tidak mudah terbaca. "Aku tahu kalau Nadia adalah wanita yang baik. Aku harap kalian tidak perlu bercerai. Karena saat aku pergi nanti, setidaknya kamu masih memiliki Nadia di sampingmu."


Wajah Vanya mulai tak dapat terkondisikan. Marco dapat melihat kalau wanita itu mulai mengkhawatirkan nasibnya ke depan. Hingga tanpa sadar seulas senyum menghiasi wajah bahagia Marco.


"Kamu tidak perlu memikirkan nasibku ke depan Vanya, cukup pikirkan niat dan tujuan awalmu saja."


"Tapi—" Marco memotong pembicaraan Vanya dengan menempelkan jari telunjuk di atas bibir wanita itu. "Kalau kamu keberatan tetaplah tinggal di sini. Itu lebih baik daripada menyuruhku bertahan dengan wanita yang tidak aku cintai sama sekali."


"Eh?" Bola mata Vanya membulat. Sejenak ia memandang Marco tanpa bersuara.


"Ck. Aku bercanda!" Pria itu tersenyum geli. Lagi-lagi ia memeluk Vanya tanpa permisi. "Tapi aku masih boleh berkunjung untuk menemui anakku 'kan, Van?" tanya Marco seraya mengecupi puncak rambut Vanya ke sana-sani. Meski sedikit risih, Vanya tetap membiarkan pria itu melakukannya.


"Iya, boleh. Kamu boleh bertemu dengan anak kita kapan pun kamu mau."


"Terima kasih." Pelukan mereka terlepas. Keduanya sama-sama tersenyum dengan sejuta makna yang sulit sekali diartikan.


Aku tidak akan semudah itu membiarkanmu pergi Van. Aku akan berusaha sebisa mungkin hingga kamu menyadari ketulusanku.


Marco menarik kursi yang sempat kasat di matanya tadi untuk diduduki. Kini posisi mereka kembali normal layaknya penjenguk dan orang sakit.


"Oh ya, jika nanti aku kembali ke kantor apa kamu tidak masalah? Hari ini Hero tidak masuk kerja, jadi aku harus tetap stay di kantor sampai jam 5 sore."


"Pergilah, lagi pula nanti sore aku sudah boleh pulang, aku bisa naik taksi atau dijemput oleh supirmu."


"Kalau sore aku bisa menjemputmu. Tetap tunggu aku di sini dan jangan ke mana-mana."


"Kamu mendengarnya, ya?" Sambil tersenyum canggung, kepala wanita itu mengangguk. "Adikku datang ke sini. Dia kabur dari Amerika. Maka dari itu aku sempat panik tadi pagi. Dia juga mengetahui surat perjanjian nikah kita."


"Ah ya ampun!" Vanya sedikit terkejut walau tidak mengenal adik Marco sama sekali. Ia hanya pernah diberitahu foto Anna kecil saat mereka masih berpacarand dulu. Itu pun sudah lupa.


"Apa itu akan menjadi masalah besar di keluargamu? Bagimanapun pernikahan kita masih dirahasiakan, bukan?"


"Tenang saja. Kupastikan adikku bisa tutup mulut. Hero pasti bisa mengatasinya dengan baik."


Vanya manggut-manggut, namun sedetik kemudian ia mengernyit saat mendapati jawaban Marco sedikit kurang nyambung di otaknya. "Apa hubungannya dia dengan Hero? Kenapa harus Hero yang mengatasinya?"


"Emm. Bagaimana cara menjelaskannya, ya?Singkatnya, adikku kabur untuk menyusul Hero ke sini. Mereka berpacaran. Jadi hanya Hero-lah yang dapat menyelesaikan masalah kita. Dia bisa merayu."


"Benarkah?" Sedetik kemudian Vanya mengatupkan bibirnya malu. Ia pernah mengatai Hero yang tidak-tidak. Ternyata ia memiliki pacar. Bahkan pacarnya adalah adik Marco.


"Nanti aku akan membawa dia ke rumah agar kalian bisa berkenalan. Dia bukan spesies berbahaya, tenang saja."


Vanya tampak memandang canggung. "Apa dia mau berkenalan dengan orang sepertiku?"


Oh, ya Tuhan! Seketika Marco teringat bahwa Anna sangat dekat dengan Nadia. Gadis berjiwa lincah itu juga tidak mudah bergaul dengan orang baru. Apalagi status Vanya adalah orang ketiga di matanya.


Diamnya Marco membuat Vanya tahu permasalah apa yang akan dihadapi wanita itu nanti. "Tanpa kamu jawab, aku sudah tahu jawabannya apa. Dia pasti tidak akan menyukaiku, bukan?" tebak Vanya.


Marco berusaha menampik. "Kita belum tahu reaksinya, Van. Tidak usah memikirkan adikku. Dia tidak akan lama berada di sini. Beberapa hari lagi dia pasti akan kembali karena tuntutan tugas kuliahnya."


Marco sedikit tertunduk cemas, ia berharap Hero bisa diandalkan dan dapat menyelesaikan masalahnya yang satu ini. Semoga saja Anna mau tutup mulut dan tidak membongkar pernikahan keduanya.


"Co, boleh aku bicara sesuatu?" tanya Vanya. Membuat Marco yang tengah memandangnya lebih bersikap sigap.


"Silakan."


Vanya meraih tangan Marco, mengusapnya sedikit pelan. "Aku tidak akan ikut campur segala urusanmu dengan Nadia, tapi kalau bisa tolong dipertimbangkan lagi rencanamu itu, takutnya kamu menyesal dikemudian hari, Co."


***


Komen yang banyak dong, Sayang.