Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 98. PRIA DI DEPAN GERBANG


Hari ini adalah hari kedua Andra berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Hari ini juga adalah hari kedua Aulia menjadi janda. Selepas kepergian Andra, hati Aulia terasa kosong. Kedua telinganya mendadak tuli karena dia tidak bisa lagi mendengar suara sambutan selamat pagi, pulang, selamat tidur, mari makan, dan kata-kata lembut dari seorang pria sudah hidup selama 20 tahun bersama dirinya. Pria itu kini hanya bisa menjadi sebuah kenangan ‘CINTA MASA KECIL PRESDIR CANTIK’.


Meski pernikahan baru semur jagung, tapi banyak kenangan sudah mereka lalui bersama. Semua kenangan pahit, perjuangan, dan kecemburuan menyelimuti kedua hati mereka. Semua kenangan itu tersusun rapih di hati Aulia, dan kini ia kunci rapat-rapat di dalam hatinya agar tidak ada satu orang pun merebut kenangan indah itu.


Ingin rasanya Aulia terus menangis memikirkan kekosongan dan kehampaan di hatinya karena kepergian Andra untuk selamanya. Tapi, Aulia terus menyadarkan dirinya untuk tetap bertahan dan mulai menyemangati diri untuk menjalankan aktivitas demi membuat Andra bahagia di alam sana.


Pagi ini Aulia sedang duduk santai di taman depan bersama dengan Grey. Rasa rindunya kepada Andra sesekali menghilang saat melihat Grey bermain. Namun ada satu kenangan masih terukir jelas di kedua mata Aulia saat melihat Grey. Kenangan itu adalah mengingat ucapan Andra waktu itu, ‘Jika kamu merasa bosan dan merindukan aku di saat aku sedang di kafe. Kamu sering-sering melihat Grey, kamu juga harus melihat tumbuh kembang Grey. Dan kalau kamu mengelus-elus bulunya, anggap saja aku juga sedang mengelus bulu Grey bersama dengan diri kamu.’


Aulia perlahan turun dari kursinya, kenangan itu kembali membuat ia bersedih. Aulia mengambil Grey, dan memeluknya sangat erat.


“Andra…hiks..hiks!” teriak Aulia merindukan sosok Andra.


Seolah mengerti kesedihan Aulia, Grey menengadah dengan wajah imut. Kedua bola mata boba kini ikut di penuhi cairan bening.


Meow!


Menyadari jika Grey ikutan bersedih bersamanya. Aulia langsung menghentikan tangisannya. Dengan cepat kedua tangannya menyeka kasar air mata membasahi wajah sembabnya.


“Ka-kamu bisa bersedih juga Grey?” tanya Aulia polos.


Meow!


Sahut Grey mengelus wajahnya di dada Aulia.


“Ka-kalau begitu aku tidak akan menangis lagi. Aku janji tidak akan menangis lagi karena aku tidak ingin membuat kamu menangis dan Andra juga menangis di alam sana,” ucap Aulia.


Karena sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Aulia segera menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan mengalirkan ke seluruh tubuh, dan pikirannya. Setelah merasa cukup tenang. Aulia berdiri, ia pun mencoba bermain kejar-kejaran dengan Grey.


“Grey, sini coba kamu tangkap aku!” ucap Aulia.


Meow! Meow!


Sahut Grey ikut berlari mengejar Aulia.


Di sisi lain. Ternyata ada sepasang mata di balik kaca mata hitam sedang mengintai Aulia dari balik gerbang. Sepasang mata dari seorang pria memakai baju kaos oblong berwarna hitam, kedua tangan mengepal erat seakan ikut serta sedih melihat Aulia bersedih.


“Hei, siapa kamu?!” gertak Venus baru saja sampai dari lari pagi.


Pria tersebut langsung berbalik badan, kedua kakinya dengan cepat berlari meninggalkan gerbang.


“Kenapa postur tubuh dan wajahnya seperti sangat familiar. Siapa pria itu, dan kenapa dia diam-diam mengintip dari gerbang,” gumam Venus.


Saat Venus bertanya-tanya sendiri siapa pria misterius tadi. Venus mendengar suara meong an dari Grey.


Meow! Meow!


“Hosh..hosh…aduh Grey. Kamu membuat aku lelah karena terus mengejar kamu seperti ini,” keluh Aulia kelelahan karena mengejar Grey.


Meow! Meow!


Sahut Grey mengelus tubuhnya di kedua kaki Venus.


Venus berjongkok, “Jadi gara-gara mengejar kamu, nona muda Aulia kelelahan?!” ucap Venus mengelus tubuh Grey.


Meow! Meow!


Sahut Grey.


Venus berdiri, ia mengendus kedua ketiaknya. Lalu menyengir, “Bau ya nona muda?” tanya Venus malu-malu.


“Bukan itu maksud pertanyaan ku,” sahut Aulia.


“Jadi, apa nona muda?” tanya Venus bingung.


“Aku ingin ikut berlari bersama kamu. Karena aku ingin memulai hidup sehat, demi Papa, Mama. Buat tante Ningrum, dan Om Tarjok juga. Aku tidak ingin membuat mereka bersedih lagi karena kehilangan anak mereka berdua,” ucap Aulia.


Venus tercengang, dan terharu saat mendengar Aulia ingin berubah. Venus tidak menyangka jika nona muda bisa kembali bangkit dari keterpurukan akibat kehilangan sosok paling ia cintai sejak kecil. Air mata Venus pun perlahan menetes membasahi kedua pipinya.


“Hiks…perasaan kalimatnya tidak sedih. Tapi kenapa air mata ku perlahan menetes seperti ini!” gumam Venus.


“Kamu kenapa menangis? Apa kamu merindukan kedua orang tua kamu?” tanya Aulia polos.


Venus menggeleng, “Nona muda lupa apa, kalau aku hanya hidup sebatang kara di dunia ini. Dan aku hanya memiliki nona muda, dan tuan Agung serta nona besar Marsya,” sahut Venus.


“He he he. Maaf, pasti sangat berat hidup sebatang kara di dunia ini,” ucap Aulia.


Venus mengangguk.


“Kalau gitu aku ingin meminta kekuatan dari kamu, agar aku bisa melewati semua ini seperti kamu. Apa kamu ingin menurunkan energi kekuatan milik kamu kepadaku?”


“Aku tidak bisa memberikan kekuatan apa pun kepada nona muda. Karena semua kekuatan untuk bertahan hidup sendiri di dunia ini, di mulai dari dalam hati, dan ada dasar niat di dalam hati kita,” ucap Venus.


“Baiklah, karena aku tidak ingin membuat Andra menangis, maka aku harus mengumpulkan niat. Semangat!” tegas Aulia di kalimat terkahir.


“Oh ya nona muda. Apa nona muda tahu siapa pria yang berdiri di depan gerbang tadi?” tanya Venus penasaran.


“Seorang pria di depan gerbang?” Aulia menggeleng, lalu melanjutkan ucapannya, “Tidak. Aku hanya bermain dengan Grey tadi.”


Merasa tidak tenang mendengar ucap Aulia. Venus segera mengulurkan tangannya ke arah pintu rumah, “Karena matahari mulai terik, sebaiknya kita kembali ke dalam. Dan Grey sepertinya sedang haus, sebaiknya nona berikan dia minum dulu,” ucap Venus memberi alasan.


“Baik. Kalau gitu kami masuk duluan,” sahut Aulia.


Aulia pun segera menggendong Grey, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Masih penasaran dengan pria misterius tersebut. Venus kembali melirik ke luar gerbang, kedua bola nya menatap sekeliling luar gerbang dan memeriksa apakah ada benda berbahaya diletakkan pria tersebut. Setelah mengecek dan melihat sekitaran rumah aman. Venus melirik ke CCTV terpasang di ujung gerbang dan di awal gerbang. Kedua kaki Venus spontan berlari menuju ruang CCTV, dan ingin mengecek siapakah pria misterius itu.


Sesampainya di ruang CCTV, Venus terkejut melihat tuan Agung ternyata sedang duduk santai memantau kamera di kursi besarnya.


“Selamat pagi tuan Agung,” sapa Venus.


“Pagi juga. Pasti kamu penasaran dengan pria tadi bukan?” tanya tuan Agung langsung ke intinya.


“Apa tuan Agung melihat juga?" tanya Venus.


"Tentu saja aku melihatnya, karena aku harus mengawasi Aulia," sahut tuan Agung.


"Saya penasaran siapa pria tadi. Soalnya saya melihat postur tubuh dan wajahnya terilihat seperti familiar. Tapi saya lupa itu wajah siapa,” ucap Venus.


“Pria itu adalah…”


"Adalah?!"


...Bersambung ...