
Andra dan Aulia sudah sampai di garasi mobil. Merasa bersalah karena sudah memarahi Aulia akibat kesalahpahaman di buat Azzuri, Andra terus menggenggam erat tangan Aulia.
“Aulia, apa kamu masih marah?” tanya Andra.
Aulia menggeleng.
Andra membuka seatbelt Aulia, “Kalau gitu mari kita turun,” ajak Andra membuka pintu mobil dari dalam.
Sebelum turun Aulia berbisik lembut di daun telinga Andra. Bisikan halus membuat wajah Andra mendadak berubah menjadi merah.
Setelah memberikan bisikan halus, Aulia segera turun, kedua kakinya berlari cepat menuju rumah.
Sedangkan Andra masih tercengang mengingat ucapan Aulia berkata, ’10 ronde yuk!’
“Anda kenapa tuan?” tanya penjaga rumah membuyarkan pikiran Andra.
Andra langsung menggeleng, “Ti-tidak kenapa-kenapa,” ucap Andra dengan wajahnya semakin memerah karena ucapan Aulia terus terngiang-ngiang di kedua telinga dan kepalanya.
Sambil mengarahkan senter ke seluruh halaman rumah penjaga berkata, “Lebih baik tuan segera masuk ke dalam karena suhu udara sepertinya semakin rendah,” ucap penjaga memperingatkan Andra jika suhu semakin rendah dan bertambah dingin.
“Ba-baik, bapak juga jangan terlalu banyak berkeliling. Cukup jaga di pos saja,” sahut Andra ikut memperingatkan penjaga rumah.
Penjaga rumah menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih tuan.”
“Aku masuk dulu,” ucap Andra membawa kedua kakinya melangkah menuju rumah.
Andra mendorong handle pintu, “Assalamualaikum,” ucap Andra.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Tarjok, dan tuan Agung menatap kedatangan Andra dari ruang tamu terhubung langsung ke pintu utama.
“Belum tidur Pa..Om?” tanya Andra basa-basi, kedua kaki melangkah menuju sofa ruang tamu.
Tuan Agung memukul sofa kosong di sebelah kirinya, “Sini duduk.”
Andra membuang wajahnya ke sisi kanan, ‘Gawat, tuan Agung dan Papa Tarjok pasti ingin menyuruhku untuk menemani mereka mengobrol. Bagaimana dengan Aulia yang sudah menunggu di dalam kamar. Bisa-bisa dia marah samaku kalau aku tidak menepati janji,’ batin Andra.
“Kenapa kamu diam?” tanya tuan Agung.
“Pasti kamu memikirkan Aulia ‘kan. Kamu tenang saja, Aulia sedang di urut sama dua Ibu Negara di dalam,” sambung Tarjok.
“Kusuk?!”
“Iya, kamu macam tidak tahu saja. Kedua Ibu Negera itu ‘kan sangat menyayangi Aulia. Melihat Aulia tampak lesuh mereka langsung menyiapkan minyak dan lainnya. Makanya kamu sini, temani kami mengobrol,” ucap tuan Agung menyuruh Andra untuk tidak ke atas karena Aulia masih di urut oleh Marsya dan Ningrum.
Mendengar hal itu Andra berjalan dengan lesu mendekati tuan Agung, dan Tarjok. Andra juga duduk di tengah-tengah mereka dengan wajah tertunduk lesu.
Tarjok dan tuan Agung paham maksud dari raut wajah lesu Andra. Tuan Agung dan Tarjok saling menatap, alis mereka juga saling menaik seolah sudah merencanakan sesuatu buat Andra.
Tuan Agung memulai aksinya, “Jok, sepertinya besok siang kita harus kembali ke tanah air. Apa kamu sudah menelpon pilot tampan kita untuk menjemput kita besok?” tanya tuan Agung dengan bola mata sesekali melirik ke Andra.
“Sudah, semua sudah saya siapkan. Data-data buat rapat juga sudah saya susun rapih di dalam flashdisk,” sahut Tarjok ikutan melirik ke wajah lesu Andra.
Semua rencana itu sudah di persiapkan secara matang oleh tuan Agung dan Tarjok, untuk menjauhkan Marsya dan Ningrum dari Aulia dan Andra. Agar Andra dan Aulia bisa memiliki waktu untuk berdua tanpa ada orang ketiga meski orang ketiga itu adalah mereka sendiri.
Tanpa banyak tanya Andra menoleh ke tuan Agung dan Tarjok, “Kenapa harus kembali besok?” tanya Andra datar.
“Karena Om masih banyak pertemuan yang harus ditepati,” sahut tuan Agung.
“Kalau Papa, karena Papa ingin menemani tuan Agung. Dan Mama kamu pastinya akan sibuk mengurus bisnis Bebek kamu!” sambung Tarjok.
“Sama, aku kadang bingung apa saja sih yang di bahas para Istri kita kalau berdua. Apa nggak bosan gitu tiap hari berjumpa, tapi tetap ada saja topik….”
Di sela-sela percakapan hebat tuan Agung dan Tarjok. Marsya dan Ningrum menuruni anak tangga dan langsung memutus ucapan Tarjok dan tuan Agung.
“Ehem!”
“Membicarakan kami?” tanya Marsya sambil menuruni anak tangga.
Tuan Agung dan Tarjok saling melambai, “Ti-tidak, mana mungkin kami membicarakan para istri tercinta,” ucap Tarjok dan tuan Agung panik saat melihat wajah Ningrum dan Marsya tampak berubah.
Andra segera berdiri, “Papa dan Om berbohong. Kata Papa dan Om. Mama Ningrum dan tante seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dilepaskan. Mereka cemburu tuh!” sambung Andra menambahkan cerita agar dirinya bisa terbebas dari tuan Agung dan Tarjok.
Marsya dan Ningrum segera mempercepat langkah kakinya mendekati Tarjok dan tuan Agung. Masing-masing tangan masih memegang mangkuk dan minyak zaitun di letakka d atas meja. Marsya dan Nigrum langsung menyerang tuan Agung dan Tarjok. Sedangkan Andra langsung kabur meninggalkan tuan Agung, Tarjok, Ningrum dan Marsya.
“Aduh! Ampun Ma,” ucap tuan Agung merasa sakit pada cubitan Marsya.
“Ampun…ampun,” kluh Tarjok ikutan mengeluh sakit saat Ningrum menarik hidung mancung Tarjok.
“Tidak ada kata ampun buat suami seperti Papa,” sahut Marsya kembali menyerang tuan Agung.
“Sama, buat kamu juga tidak ada kata ampun sayang,” sambung Ningrum ikutan menyerang Tarjok.
Tuan Agung dan Tarjok saling meliat satu sama lain, alis mereka pun menaik seperti akan merencakanan sesuatu. Setelah itu tuan Agung dan Tarjok serentak berdiri sambil menggendong masing-masing tubuh istri mereka.
“Eh, kenapa di gendong?” tanya Marsya dan Ningrum serentak.
Tuan Agung dan Tarjok serentak berlari menuju kamar mereka sembari berkata, “Mari kita selesaikan ini di dalam kamar.”
“Tidak!” sahut Marsya dan Ningrum mengetahui akan hal apa terjadi pada mereka nanti di dalam kamar.
Sedangkan di kamar Aulia dan Andra. Andra benar-benar gagal melakukan trip sesuai permintaan Aulia karena Aulia sudah tertidur lelap efek pijatan lembut dari Mama dan mertua. Andra hanya bisa menghela nafas panjang, dan ikut merebahkan tubuhnya.
“Terimakasih ya Allah, engkau telah memberikan aku keluarga yang baik. Engkau juga memberikan aku Istri yang baik. Walau sikap dan sifatnya masih seperti anak-anak,” gumam Andra pelan. Sebelum tidur Andra memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah indah Aulia agar tidurnya ikutan indah dan tenang.
“Tapi kamu mencintai aku ‘kan?” tanya Aulia membuat Andra terkejut.
“Aulia! kenapa kamu belum tidur?”
“Aku cuman berpura-pura tidur saja. Bukannya aku sudah memiliki janji kepada kamu, jadi bagaimana aku bisa tidur terlebih dahulu kalau kamu belum menepati janji kepada ku,” ucap Aulia menagih ucapannya kepada Andra.
Andra memutar tubuhnya membelakangi Aulia, “Nggak mau ah!”
Aulia menarik-narik tubuh Andra, “Ayolah….ayo. Aku mari kita buat Aulia dan Andra junior untuk menemani kita di sini,” rengek Aulia.
“Nggak mau ah. Kamu saja sikap dan sifatnya masih seperti anak kecil. Bisa-bisa nanti aku yang mengurus kamu dan anak kita,” ucap Andra menolak halus.
“Aku janji aku akan berubah. Ayolah!” rengek Aulia kembali.
Andra berbalik badan, “Ih, kamu candu jadinya,” gurau Andra.
“Kenapa rupanya, nggak boleh?” tanya Aulia kesal.
“Boleh dong, daripada di pendam,” sahut Andra.
“Buat ya?”
“Iya,” sahut Andra menarik selimut dan menutup tubuh mereka.