Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 115. Kabar Indah yang tak diingkan.


Satu bulan sudah berlalu dari kejadian buruk menimpa Aulia. Kini tubuh ramping, dan perut langsing terlihat sedikit membuncit. Namun, perubahan fisik dari bentuk tubuhnya tidak dirasakan oleh Aulia. Semua itu karena Aulia tengah sibuk mengurus pementasan akan di selenggarakan hari ini. Tepat hari ini, hari dimana Aulia akan menampilkan koleksi berlian terbaru dari perusahaannya.


Aulia, Venus, dan beberapa model sedang berdiri di belakang layar. Venus terus memandang wajah pucat Aulia, dengan keringat terus mengalir di sekitar wajahnya.


“Nona muda baik-baik saja?” tanya Venus.


“Baik, tapi entah kenapa aku sangat gerah, dan perutku terasa lapar,” sahut Aulia.


“Itu karena nona muda tidak makan, coba nona muda makan deseert ini. Dessert buatan Joko dan Willy ini sangat enak loh, nona muda harus mencicipi sedikit,” ucap Venus, memberikan potongan kue kecil.


Aulia mendorong tangan Venus, “Aku tidak suka bau makanan ini,” tolak Aulia.


“5 menit lagi kita akan memulai pementasannya, gimana nona muda minum jus atau susu dulu,” ucap Venus membujuk Aulia.


“Aku bilang tidak mau!” tegas Aulia.


Salah satu kru mendekati Aulia dan Venus.


“Nona muda, 5 menit lagi kita akan memulai acaranya. Sebagai pemilik acara, sebaiknya nona muda bersiap-siap,” ucap kru memberi tahu Aulia.


“Tenang saja, aku sudah siap,” sahut Aulia datar.


“Kalau gitu saya pamit dulu. Oh ya, saya ingin katakan jika ada pesan dari tuan muda Azzuri Mahendra yang mengatakan jika dirinya tidak bisa datang karena dia sedang sibuk mengurus perusahaan kecilnya yang ada di Belanda. Itu saja, saya permisi nona muda,” ucap Kru wanita menyampaikan pesan dari Azzuri.


Aulia melirik ke Venus, “Apa kamu mengetahui tentang ini?” tanya Aulia dingin.


Venus menggaruk kepala tak gatal, “He he he, maaf nona muda. Karena saya sibuk mengkuatirkan nona muda akhir-akhir ini, saya jadi tidak bisa menyampaikan pesan tersebut,” sahut Venus dengan tawa kecil.


Saat Aulia ingin berbicara, terlihat kru wanita melambaikan tangannya ke Aulia. Lambaian tangan mengartikan jika Aulia sudah harus memasuki panggung.


“Venus, aku pergi dulu,” ucap Aulia, kedua kaki Aulia dengan cepat melangkah memasuki panggung.


Prok!!!prok!!


Tepuk tangan meriah terdengar dari bangku tamu saat melihat Aulia berjalan masuk dan berhenti di tengah-tengah panggung. Aulia melambaikan tangannya, dan senyum manis ia tunjukkan ke para tamu.


“Terimakasih-terimakasih,” ucap Aulia sedikit membungkukkan tubuhnya.


Setelah selesai memberi hormat kepada para tamu undangan, Aulia berdiri tegak, kedua bola mata memandang para tamu. Baru saja ingin mengatakan salam pembuka, pandangan Aulia mendadak buyar. Tidak ingin membuat semua usaha para karyawan nya kecewa, Aulia langsung masuk ke intinya.


Aulia melebarkan kedua tangannya, “Tanpa berlama-lama lagi, mari kita tampilkan perhiasan terbaru dari perusahaan kami, dengan edisi terbatas, yang akan di bawakan para model terbaik!” teriak Aulia.


Merasa dirinya akan pingsan, dan musik mulai bermain untuk penyambutan. Aulia segera melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju belakang panggung.


Tangan kanan memegang kepala bagian samping, “Venus,” panggil Aulia lemah, dan akhirnya pingsan.


Venus langsung berlari, “Nona muda,” teriak Venus, menangkap tubuh Aulia hampir jatuh.


Di tengah-tengah kemeriahan musik dan acara masih terus berlangsung. Venus segera membawa Aulia pergi ke rumah sakit.


Mobil kini terus melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Sesekali bola mata cemas melirik ke Aulia, “Nona muda, kenapa Anda begitu keras kepala tidak mau menuruti perintah saya. Tinggal makan saja kenapa Anda terus mengulur nya,” gumam Venus.


30 menit berlalu, mobil Venus kini sudah terparkir tepat di depan rumah sakit. Venus segera membuka seatbelt miliknya, dan Aulia, lalu menggendong Aulia masuk ke dalam rumah sakit.


“Suster, ruang pemeriksaan di mana?” tanya Venus ke di depan meja Resepsionis.


Satpam mendekati Venus, “Mari saya hantarkan Anda,” sambung Satpam.


Satpam tersebut berjalan terlebih dahulu, lalu berhenti di depan ruang pemeriksaan. Satpam membuka pintu, “Silahkan masuk tuan,” ucap Satpam.


“Kenapa dengan gadis ini?” tanya Dokter, berdiri di samping Venus.


“Saya kurang tahu, nona muda tiba-tiba pingsan begitu saja,” jelas Venus singkat karena gugup.


“Kalau gitu saya minta Anda keluar sebentar, karena saya akan memeriksa gadis ini,” ucap Dokter.


“Baik,” sahut Venus.


Venus pun membawa kedua kakinya berjalan keluar dari ruangan. Sesampainya di depan pintu ruangan, Venus mengambil benda pipih miliknya, lalu mencoba menghubungi tuan Agung masih berada di tempat acara milik Aulia.


Tutt!!!tutt!!


📞[ “Halo, ada apa Venus?” ] tanya tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya. Karena saat ini musik di putar cukup keras.


📞[ “Nona muda pingsan, dan saya sedang berada di rumah sakit tidak jauh dari gedung. Saya harap tuan Agung, dan nona besar bisa datang ke sini.” ] pinta Venus.


📞[ “Baik, kami akan segera ke sana.” ]


Tuan Agung menutup telponnya.


Bola mata Venus mengarah pada pintu masih ruangan, “Mudah-mudahan nona muda pingsan karena efek tidak makan dan kelelahan saja,” gumam Venus cemas.


Pintu ruangan terbuka.


Venus langsung cepat-cepat mendekati Dokter, dan berdiri tepat di hadapan Dokter dan menatap serius, “Gimana dengan keadaan nona muda?” tanya Venus.


“Venus, gimana keadaan Aulia?” tanya tuan Agung, dan Marsya baru saja tiba.


Venus, dan Dokter melirik ke tuan Agung dan Marsya.


“Selamat ya, saat ini gadis tersebut sedang mengandung. Dan usia kandungannya baru berjalan 3 minggu. Karena tubuh gadis tersebut lemah, saya sudah memberikan infus untuk menambah energi yang hilang, dan sebentar lagi akan di pindahkan di ruang rawat inap. Kalau gitu saya permisi, ” ucap Dokter wanita, kedua kaki melangkah pergi.


Tuan Agung, Marsya, dan Venus saling menatap bingung.


“Pa..pu-putri kita hamil,” ucap Marsya kaku.


“No-nona muda…ha-hamil!” sambung Venus ikutan kaku.


Tuan Agung meraup wajahnya, “Haah! Kenapa harus ada kabar seperti ini di saat Azzuri sudah pergi jauh,” umpat tuan Agung.


“Emang kemana Azzuri, Pa?” t anya Marsya lemas.


“Azzuri hanya memberi pesan kalau dia sedang pergi ke Belanda untuk perjalan bisnisnya. Semua itu Azzuri lakukan karena dirinya ingin melupakan Aulia,” sahut tuan Agung menjelaskan ucapan Azzuri.


Deg!


Detak jantung Marsya seketika seperti terhenti.


“Pa…gimana nasib cucu dan anak kita jika Azzuri tidak berada di sini?” tanya Marsya lemas, hatinya terasa perih melihat putri kesayangannya akan menerima nasib buruk.


“Azzuri tidak boleh pergi begitu saja. Nona besar jangan bersedih, saya akan menyusul tuan muda Azzuri ke Belanda. Kalau gitu saya pamit pergi…”


“Jangan! Sebaiknya kita harus tetap tenang di depan Aulia. Dan jangan katakana apa pun tentang yang aku katakana tadi kepada Aulia. Aku tidak ingin cucu di dalam rahim putri kesayanganku ikut menanggung keegoisan dari Ibunya. Sekarang mari kita pergi ke ruangan rawat inap, dan kita tunggu Aulia di sana,” sela tuan Agung berusaha mencairkan ketegangan.


...Bersambung ...