Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 113. Belum habis masa Idda


Setelah perdebatan semalam untuk kembali ke tanah air. Pagi ini Azzuri dan Aulia sudah berada di kediaman rumah tuan Agung.


Azzuri dan Aulia duduk berdampingan. Di depan mereka dan sisi kanan-kiri, sudah berkumpul tuan Agung, Tarjok, Marsya, dan Ningrum.


“Papa sudah mendengar semuanya dari Venus,” bola mata tuan Agung beralih ke Azzuri, “Untuk membahas soal pernikahan yang kamu inginkan saat ini. Maaf, aku menolaknya Azzuri. Alasanku, Aulia sedang berada dalam masa Iddah. Hal itu akan berlangsung selama 4 bulan 10 hari. Aku tahu niat kamu baik, tapi aku tidak bisa mengabulkannya,” sambung tuan Agung menjelaskan tentang pra pernikahan karena Aulia baru saja di tinggal Andra.


Azzuri melirik ke Aulia, lalu kembali melihat tuan Agung, “Kalau gitu aku ingin melamarnya. Setelah masa itu lewat aku akan langsung menikahi Aulia,” sahut Azzuri tegas.


“Aku bilang aku tidak ingin menikah dengan kamu. Kenapa sih kamu tidak mengerti perasaanku!” tolak Aulia.


“Aku sangat mengerti perasaan kamu. Tapi di sini aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku. Jika suatu saat kamu hamil, aku tidak ingin anakku terlahir tanpa seorang Papa di sampingnya. Jadi jangan egois Aulia,” ucap Azzuri.


Aulia berdiri, tatapan tidak suka mengarah ke Azzuri, “Bagaimana mungkin sekali melakukan langsung jadi. Itu hanya omong kosong kamu saja. Iya, ‘kan?!” tuduh Aulia.


“Sayang, kamu tidak boleh berkata kasar seperti itu. Ucapan Azzuri ada benarnya. Aulia, Mama…” ucapan Marsya terhenti saat Aulia meninggalkan mereka semua tanpa mengucap sepatah kata apa pun.


Melihat Marsya bersedih melihat tingkah Aulia. Tuan Agung merangkul Marsya, “Ma, biarkan Aulia sendiri dulu. Biar dia memikirkan semuanya. Jika dirinya sudah tenang, pasti dia akan menemui kita semua,” bujuk tuan Agung lembut untuk menenangkan hati Marsya.


Karena lamaran untuk menikahi Aulia di tolak, Azzuri berdiri, “Karena sudah tidak ada urusan lagi, maka aku akan segera pulang. Jika masa itu sudah tiba, tolong hubungi aku. Dan satu lagi, aku minta Aulia di jaga ketat, agar tidak ada pria lain yang menyentuhnya,” pesan Azzuri.


“Jangan pulang dulu,” tahan Ningrum.


“Kenapa?” tanya Azzuri.


“Sebaiknya kamu duduk dan tunggulah di sini karena ada orang lain yang akan datang. Tapi sebelum orang itu datang, sebaiknya kita mengobrol terlebih dahulu mengenai semua kejadian yang terjadi dengan Aulia, dan kenapa itu bisa terjadi,” sambung tuan Agung.


Azzuri kembali duduk, “Baiklah, aku akan menceritakan sedikit tentang kejadian kemarin,” ucap Azzuri.


Sambil menunggu orang tersebut, Azzuri pun menceritakan semua tentang kejadian Aulia, dan bagaimana cara dirinya menolong Aulia demi memudarkan obat di dalam tubuh Aulia.


.


.


💫Di Negara lain💫


Venus sedang membereskan kafe milik mendiang Andra, di temani Joko, dan 8 karyawan lainnya.


Joko dan 8 karyawan melihat wajah datar dan dingin Venus sedang duduk di kursi kasir.


“Katanya nona muda sedang pergi ke tanah air. Dan orang yang akan membantu kita adalah pria tampan itu,” jelas Joko.


“Wajahnya sangat dingin dan datar. Apa pria itu bisa berbaur dengan kita?” tanya Didin.


“Tapi pria ini cukup keren, aduhh…duh..tipe suami idaman ku banget pria satu ini. Tubuhnya, kedua otot lengannya, tingginya, wajah campuran dari dua Negera asing. Aduhh…gagah banget,” sambung Willy dengan khayalan anehnya.


Joko, Didin, dan 7 karyawan menatap heran ke Willy.


“Kita satu mes loh. Kalau kamu terus-menerus seperti ini aku jadi sangsi saat tengah malam. Pasti kamu….kamu telah melakukan sesuatu pada rudal kami!” tuduh Danies.


“Tidak mungkin! Berarti aku sudah tidak perjaka lagi!” sambung Dodo histeris.


“Pantes saja aku sering mimpi basah. Rupanya itu gara-gara ulah kamu!” tuduh Bimo.


Kekacauan pun terjadi karena ulah Danies. Joko, dan 6 karyawan berlomba-lomba ke kamar mandi untuk mengecek batang coklat mereka.


“Iya, aku juga tahu ukuran besar-kecil, panjang-pendek milik kalian!” teriak Willy menambah kekeliruan teman-temannya.


Braak!!


Merasa terusik dengan kebisingan 9 karyawan. Venus menggebrak meja untuk meredakan kepanikan terjadi kepada 8 karyawan.


“Willy…dia telah menodai kami!” tuduh Joko.


Venus mengalihkan bola matanya memandang Willy, “Benarkah itu?” tanya Venus.


“Tidak, meski aku menyukai kaum sendiri. Tapi aku tidak pernah melakukan hal itu kepada teman sendiri,” sahut Willy santai.


“Apa kalian sudah dengar?” tanya Venus kedelapan karyawan sedang berdiri di sisi kirinya.


“Tapi kenapa dia berkata sangat serius. Kami ‘kan jadi takut,” jelas Dodo.


“Aku hanya bercanda, tapi kenapa kalian menganggap ku serius. Apa orang seperti aku tidak pantas bercanda seperti itu?” tanya Willy sedikit kecewa.


“Kamu boleh bercanda, tapi kamu tidak boleh bercanda perihal sensitif seperti ini. Sekarang kamu minta maaf kepada teman-teman kamu,” perintah Venus.


Willy pun patuh, kedua kakinya berjalan mendekati Joko, dan 7 temannya.


“Aku minta maaf, lain kali aku tidak akan bercanda seperti ini,” ucap Willy meminta maaf.


“Kami juga minta maaf karena seperti sedang mencurigai kamu,” sahut Joko.


Karena semua karyawan sudah merasa lega, Venus berbalik badan, kedua kakinya melangkah kembali ke kursi kasir.


“Ada-ada saja karyawan-karyawan ini,” gumam Venus.


“Maaf, apakah kamu sudah makan siang Venus?” tanya Joko.


Langkah kaki Venus terhenti, “Belum,” sahut Venus melirik sedikit ke sisi kanan.


“Kalau gitu, mari kita makan bersama. Kebetulan kami semua belum memasak untuk makan siang. Dan stok bahan makanan di dapur buat di makan pribadi masih banyak,” ajak Joko.


“Baiklah, aku akan terima tawaran dari kamu,” sahut Venus.


“Kalau gitu kamu silahkan bekerja, soal memasak dan membereskan kafe sebelum buka biar yang lain membereskannya. Kamu tidak perlu repot-repot,” jelas Didin.


Didin, Joko, Carlos, dan Willy, berjalan ke dapur. Sedangkan 5 karyawan lainnya mulai membereskan meja sebelum buka toko.


Tidak enak hanya diam di kursi kasir, Venus memutuskan untuk masuk ke dapur untuk membantu Joko, Didin, Willy, dan Carlos memasak. Hitung-hitung menambah pengalaman buat menyajikan makanan buat Aulia.


Venus berdiri di depan pintu dapur, “Tugas aku mengecek pengeluaran, pendapatan, dan pemasukan sudah selesai. Daripada aku duduk-duduk sendirian di kasir, lebih baik aku bantu kalian masak di dapur. Hitung-hitung aku bisa ahli memasak buta nona muda,” ucap Venus.


“Kamu yakin ingin memasak?” tanya Joko histeris.


“Kenapa aku tidak yakin. Jadi, mari bawa aku ke dapur kalian,” ajak Venus.


“Mari,” sambut Joko.


Venus pun mengambil celemek, dan memakainya agar bajunya tidak terkena noda dari bahan makanan. Didin, dan Willy mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan di atas meja. Terlihat di atas meja ada daging segar masih di dalam bungkusan, selada, telur, kentang, dan beberapa menu bahan lainnya.


“Kalian mau masak apa?” tanya Venus.


“Menu makanan terbuat dari Negara masing-masing,” sahut Joko.


“Pasti akan sangat nikmat,” puji Venus.


“Iya, kamu lihat saja nanti,” sahut Joko.


...Bersambung...