
1 Minggu setelah meninggalnya Wardhani. Hati tuan Agung, Marsya, dan Tarjok sudah merasa lebih lega. Kini mereka bertiga bisa menghirup oksigen sebanyak mungkin. Hati mereka juga sudah berhenti was-was memikirkan Aulia dan Andra. Karena musuh terberat mereka sudah tiada. Mereka juga sudah melakukan aktivitas dengan normal.
Sudah 1 minggu Aulia menetap di tanah air, dan meninggalkan bisnis miliknya di Negeri orang. Selama 1 minggu kepergiannya banyak e-mail masuk dari klien dan Investor menagih janji kepada Aulia. Dan ada beberapa jadwal pertemuan sempat tertunda karena Aulia lebih memilih pulang lebih awal untuk menyambut pernikahannya. Semua hal itu membuat Aulia sedikit pusing, antara mau pulang lebih awal sendirian atau pulang bersama dengan Andra.
Melihat Aulia duduk termenung, Ningrum, dan Marsya berinisiatif untuk bertanya hal apa membebani pikirannya. Ningrum dan Marsya mendekati Aulia. Merekapun memberanikan diri untuk bertanya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Marsya.
“Tante lihat dari tadi wajah kamu tidak ceria. Apa kamu dan Andra sedang berantem?” tanya Ningrum.
Aulia menggeleng.
“Jadi, apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Katakan saja nak. Siapa tahu Mama dan tante bisa membantu kamu,” sambung Marsya.
Aulia menatap cemas ke Marsya dan Ningrum.
“Kenapa menatap kami seperti itu?” tanya Ningrum.
“Aulia bingung,” ucap Aulia sendu.
“Apa yang membuat kamu bingung?” tanya Marsya penasaran.
“Para klien dan Investor meminta diadakan pertemuan. Tapi…”
“Kamu pasti memikirkan Andra?” sambung Ningrum.
Aulia mengangguk.
“Jika itu penting buat perusahaan kamu, maka pulanglah. Tante rasa Andra juga tidak masalah dengan hal itu,” ucap Ningrum mengizinkan Aulia untuk kembali pulang ke Paris.
“Tapi tante, kami ‘kan sudah menikah. Dan..aku rasa ini tidak baik di dalam rumah tangga,” sahut Aulia cemas meninggalkan Andra sendirian di tanah air.
“Kenapa tidak baik? Kalian sudah memiliki bisnis masing-masing di Negara yang berbeda. Jadi tante rasa untuk pulang mengurus bisnis beberapa hari atau beberapa minggu itu adalah hal yang wajar. Kalau kamu tidak percaya tanya sama Mama kamu lebih dulu memegang perusahaan yang kamu pegang sekarang!” ucap Ningrum melirik ke Marsya.
Marsya mengelus puncak kepala Aulia, “Benar sayang. Dulu sewaktu kamu kecil, dan Mama sedang melakukan perjalanan bisnis tahap awal Mama juga sering menitipkan kamu bersama tante Ningrum dan Papa di sini. Memang awalnya berat, tapi kalau kita saling percaya dan tetap setia satu-sama lain. Hubungan dan pekerjaan kita akan berjalan dengan lancar, dan satu lagi. Jika kita jarang bertemu, maka akan ada rasa yang berbeda muncul di hati kita. Rasa itu adalah…. kita jadi semangat bekerja, dan semua pekerjaan di lakukan dengan sempurna dan cepat.”
“Kalau kamu merasa berat berpisah dengan Andra. Bagaimana jika kalian pergi bersama. Hitung-hitung melakukan bulan madu. Bukannya kalian belum melakukannya?” tanya Ningrum semangat.
“Melakukan apa tante?” tanya Aulia polos.
“Main kuda-kudaan. Kadang kamu di atas, Andra di bawah. A-atau kamu bergaya seperti foto model di majalah. Kalian belum melakukan hal itu ‘kan?” tanya Ningrum semangat, kedua mata berbinar menatap wajah bingung Aulia.
“Benar kata tante Ningrum. Kamu sudah selesai haid ‘kan?”
“Baru hari ini sih Ma. Tapi aku tidak mengerti maksud yang tante Ningrum katakan. Kalau kami tidur bersama, Andra hanya memeluk dan memberi ciuman di dahi. Itu pernah, tidak ada melakukan hal kuda-kudaan,” sahut Aulia polos.
Marsya menatap Ningrum, “Apa dulu Andra tidak pernah nonton adegan plus-plus?” tanya Marsya serius.
Kepala Marsya tiba-tiba berdenyut memikirkan menantu dan anaknya tak tahu memulai permainan panas itu. Tangan kanan memijat pelipis kiri, “Kenapa aku yang pusing sendiri melihat kedua anak kita polos seperti ini.”
Ningrum menarik nafas berat, “Kamu benar, bagaimana kita bisa cepat-cepat punya cucu kalau seperti ini. Mau buat untuk diri sendiri sudah sering, tapi nggak pernah jadi,” keluh Ningrum sampai sekarang belum juga diberikan keturunan.
Marsya melirik, “Tapi bagus juga kalau kamu nggak hamil. Asal kamu tahu, hamil itu merepotkan. Belum lagi ngidam, hamil bersar tapi lakik rajin beri nutrisi, dan melahirkan. Mau tahu kamu rasanya kalau melahirkan itu. Itu kamu….”
“Bahas apaan sih, tante sama Mama?” sela Aulia penasaran.
“He he, maaf ya sayang,” ucap Marsya malu-malu.
Aulia berdiri, “Aku bosan di sini. Sebaiknya aku melihat Andra di restauran. Aku pergi dulu ya, Ma..tante!” tanya Aulia meminta izin untuk menjumpai Andra.
“Kenapa kamu meminta izin seperti itu. Andra ‘kan suami kamu. Kalau kamu mau pergi, pergi saja,” ucap Ningrum.
“Kamu ini lucu sekali sih sayang,” sambung Marsya gemas melihat Aulia masih bertingkah seperti gadis kecil.
Aulia memberi kecupan manis di kedua pipi Marsya dan Ningrum. Tangan kanan melambai, “Daa..Mama. Daa…tante,” ucap Aulia melangkah pergi.
Marsya dan Ningrum menatap kepergian Aulia.
“Aku tidak menyangka kalau Aulia sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Sekarang aku merasa keluarga kami sudah sempurna, ada seorang putri, dan seorang putra.”
“Sama, aku juga merasakan hal seperti itu. Dulu kalau aku melihat Aulia sering bermain di rumah sendiri, dan Andra masih sekolah. Aku sempat berpikir ingin memberikan dia adik laki-laki. Tapi saat aku mengingat kembali Wardhani masih terus mengganggu keluarga kecil kami. Aku memutuskan memfokuskan hidup dan mati hanya untuk membesarkan Aulia,” Marsya menghentikan ucapannya. Menarik nafas lega dan memulai kembali kenangannya, “Intinya sekarang aku sudah tenang dan lega. Karena musuh terberat dan lebih licik dari Azzuri Mahendra sudah menghilang.”
Mendengar kata Azzuri Mahendra, Ningrum teringat dengan seorang pria tak di undang datang dengan santai ke pesta Andra dan Aulia. Ningrum juga teringat dengan sepucuk surat dengan kalimat terindah di setiap dalam bungkus kado.
“Apa Azzuri yang kamu maksud pria yang datang ke pesta pernikahan dan yang mengirimi banyak kado?” tanya Ningrum penasaran.
“Kamu benar,” Marsya menggenggam lengan kanan Ningrum, "Aku minta maaf ya, dulu Aulia pernah menjalin hubungan dengannya,” ucap Marsya tulus.
Ningrum membalas genggaman tangan Marsya, “Kamu tidak perlu mencemaskan hal seperti itu. Yang jelas sekarang anak kita sudah bahagia. Dan jangan lupa berikan doa terbaik buat anak-anak kita,” ucap Ningrum tulus.
Marsya memeluk Ningrum, “Terimakasih.”
“Sama-sama,” sahut Ningrum membalas pelukan Marsya.
Marsya melepaskan pelukannya, “Oh ya, gimana kalau kita ikut pergi ke Paris bersama dengan Aulia. Kita cuci mata di sana!” ajak Marsya serius.
“Bukannya kamu tahu kalau Suami kita itu rakus di ranjang. Pantang jumpa sudah langsung menerkam. Kalau kita pergi tanpa mereka gimana jadinya dengan mereka berdua?”
“Suruh ngapain sendiri saja. Sudahlah sekali-kali dua wanita tua ini pingin merasa seperti anak gadis lagi.”
“Jadi dua wanita tua ini ingin menjadi anak muda lagi di Negera orang?”
...Bersambung ...