Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 46. Camkan kata-kataku!


πŸ’«πŸ’« APARTEMEN πŸ’«πŸ’«


Aulia, Venus, tuan Agung, Andra, dan juga Marsya, baru saja sampai di Apartemen milik Aulia.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu," ucap Marsya membelai puncak kepala Aulia. Bola mata beralih ke Andra, "Andra, tante minta tolong hantarkan Aulia ke kamarnya!" sambung Marsya meminta tolong untuk menuntun Aulia berjalan masuk ke kamar.


"Baik tante," Andra langsung menggandeng tangan Aulia, "Mari aku temani kamu ke kamar."


"Aku ke kamar dulu ya, Ma...Pa," ucap Aulia berpamitan kepada tuan Agung dan juga Marsya.


"Iya sayang," sahut tuan Agung dan Marsya serentak.


Kedua kaki Aulia dan Andra melangkah pelan menuju anak tangga. Andra benar-benar pria idaman, Andra menuntun Aulia perlahan dan juga sabar.


Marsya menghela nafas berat, kedua mata menatap punggung Andra dan juga Aulia sedang berjalan jauh di depannya, "Mama harap Aulia bisa cepat melihat lagi ya, Pa," ucap Marsya ke tuan Agung sedang berdiri di sisi kanan.


Tuan Agung menggenggam tangan kanan Marsya, senyum manis tertuju ke Marsya, "Amin."


Drrt!!Drtt!!!!


Benda pipih milik tuan Agung di dalam saku celana berdering.


"Sebentar ya Ma!" ucap tuan Agung lembut, genggaman tangannya di lepas. Tuan Agung mengulas senyum tipis saat melihat nama pemanggil telpon, "Pasti Tarjok mencemaskan putra kesayangannya," sambung tuan Agung dengan pikirannya sendiri.


"Angkat coba Pa," sahut Marsya menyuruh tuan Agung untuk mengangkat panggilan telepon dari Tarjok.


Tuan Agung segera mengangkat panggilan telepon dar Tarjok.


...----------------...


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


[ "Halo, assalamualaikum." ]


[ "Tuan apa sudah melihat kabar teratas mengenai beberapa pengusaha yang ada di Paris?" ]


[ "Berita apa?" ] tanya tuan Agung sedikit panik. Kedua tangan melambai ke Venus dan memberi kode untuk mengambilkan tab miliknya di dalam tas kecil.


[ "Ada 50 pengusaha terancam bangkrut, dan beberapa usaha menengah ke atas langsung tutup hanya dalam satu jam. Dalangnya masih belum diketahui. Tapi yang membuat saya heran, kenapa hanya usaha dan perusahaan milik nona muda yang tidak tersentuh." ]


[ "Kamu benar. Tapi aku sudah tahu siapa dalang di balik ini semua!" ] tegas tuan Agung, kedua mata melihat tab berisi berita terasa mengenai semua pengusaha di kota Paris.


[ "Emang siapa?" ] tanya Tarjok penasaran.


[ "Azzuri Mahendra. Pasti dia dalang di balik ini semua. Kalau gitu aku tutup telponnya. Kamu jangan mengkuatirkan apa pun di sana. Cukup beri aku kabar apa pun, dan satu lagi. Anak lajang kamu baik-baik saja di sini." ]


[ "Tentang Andra, saya tidak kuatir. Ningrum titip salam untuk anak gadisnya. Ningrum di sini seperti ikan kepanasan, gelisah terus saat mendengar Aulia mengalami kejadian buruk ini. Tapi tuan jangan kuatir, sekarang Ningrum sudah merasa lega saat melihat foto yang sempat di ambil oleh Andra." ]


[ "Bagus kalau seperti itu. Aku tutup telponnya. Assalamualaikum." ]


[ "Wa'alaikumsalam." ]


Tuan Agung pun mengakhiri panggilan telponnya, menyimpan benda pipih kembali ke dalam saku celana. Tuan Agung melirik ke Venus, "Venus, ada kerjaan buat kita!" ucap tuan Agung serius.


"Siap," tangan kanan menggaruk telapak tangan kiri, "Kebetulan tangan kiri sudah sedikit gatal," sambung Venus.


Tuan memutar arah berdirinya menghadap Marsya, tangan kanan membelai puncak kepala dan memberi ciuman manis di dahi, "Papa pergi tidak akan lama," tangan kanan mengelus pipi kanan Marsya, "Papa ingin minta tolong. Tolong masakan sesuatu untuk memenuhi lambung Papa."


"Apaan sih!" tepis Marsya malu-malu.


"Nona besar tenang saja. Saya tidak lihat apa pun kok," sambung Venus berbalik badan, kedua kaki ikut melangkah pergi.


"Papa pergi dulu," ucap tuan Agung melangkah pergi.


Tuan Agung, dan Venus melangkah cepat di koridor menuju lift. Saat pintu lift terbuka, kedua kaki itu juga kembali melangkah cepat menuju parkiran mobil bawah tanah.


"Apa tuan yakin jika pelakunya adalah tuan muda Azzuri Mahendra?" tanya Venus penasaran. Kedua kaki kini terhenti di samping mobil, tangan kanan membuka pintu mobil penumpang bagian depan.


Venus juga melangkahkan kedua kakinya berjalan masuk ke dalam mobil. Venus menghidupkan mesin mobil, bola mata melirik ke tuan Agung, "Apa tuan yakin ingin menemui tuan muda Azzuri?"


"Tentu. Sudah jangan banyak bertanya, cepat jalankan mobil ini!" tegas tuan Agung.


"Baik!"


Mobil kini berjalan cepat meninggalkan parkiran bawah tanah.


.


.


πŸ’«πŸ’« Kediaman Azzuri πŸ’«πŸ’«


Sebuah monitor besar memenuhi dinding. Beberapa nama, rekening, dan juga diagram terus bergerak menurun.


Azzuri duduk di kursi besar dan nyaman kini tertawa puas, "Hahaha" kepala menengadah, bola mata tertuju pada langit ruangan kurang pencahayaan, "Sebelum kalian ingin menyakiti dan ingin menghancurkan Aulia, demi membalaskan dendam atas perbuatan tuan Agung," tangan kanan memukul bidang dadanya, "Aku....Azzuri Mahendra. Tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya. Jika Aulia dan tuan Agung ingin disakiti. Cukup aku saja yang melakukannya. Karena target istimewa tidak berhak untuk dibagi dengan manusia sam...pah!"


"Tuan, di depan rumah ada tuan Agung dan juga Venus. Apa kita harus menyambut kedatangan mereka?" tanya dan ucap Jack menunjukkan tab tersambung dengan CCTV.


Azzuri berdiri, "Aku tidak menyangka jika calon mertua hadir tanpa di undang," bola mata melirik penuh makna, "Mari kita sambut kedatangan mereka," jari jempol mengarah ke layar monitor besar berada di belakangnya, "Biarkan monitor menyala, dan biarkan sado kita terus bertambah."


"Baik," sahut Jack patuh.


Kedua kaki Azzuri dan Jack melangkah cepat menuju lift untuk keluar dari ruang rahasia tersembunyi dibawah tanah.


Ting!


Pintu lift terbuka. Kedua kaki Jack dan Azzuri kembali melangkah cepat menuju pintu utama.


Jack segera membuka pintu, senyum manis menyambut tuan Agung dan Venus.


Kedua tangan Azzuri mengembang, "Selamat datang tuan Agung dan juga orang kepercayaan nona muda," sambut Azzuri patuh.


"Terimakasih atas sambutan hangatnya," sahut tuan Agung sopan.


"Mari masuk," ucap Azzuri mengarahkan tangan kanan ke ruang tamu.


"Terimakasih," sahut tuan Agung melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam.


Venus dan Jack juga ikut melangkah di belakang tuan Agung dan Azzuri.


"Silahkan duduk tuan Agung," ucap Azzuri mengarahkan tangan kanannya ke sofa.


"Hem" tuan Agung pun duduk. Sedangkan Venus berdiri di belakang sofa.


"Ada hal apa yang membuat tuan Agung datang mengunjungi mantan musuh lama dan calon menantu kedua?" tanya Azzuri sopan.


"Waktu itu saya hanya memberi pelajaran kepada kedua orang tua Anda. Tidak ada maksud lain!" sahut tuan Agung santai.


"Memberi pelajaran sampai membuat kedua orang tuaku jatuh miskin!"


"Mungkin Anda salah paham dulu. Yang buat kedua orang tua Anda bangkrut itu karena ulah mereka sendiri yang terus bermain judi dan hutang menggunung. Sedangkan saya hanya mengambil hak yang pernah di pinjam oleh kedua orang tua Anda," ucap tuan Agung tenang.


Azzuri melambai, "Baiklah. Hal itu tidak perlu kita bahas lagi. Sekarang apa tujuan tuan Agung ke sini?" tanya Azzuri mengalihkan pembicaraan.


"Langsung ke intinya. Kenapa Anda melakukan hal ini kepada para pengusaha. Apa Anda ingin melakukan perbuatan tercela yang akan membuat anak-anak mereka menjadi gelandangan di luar sana?"


"Wah! ketahuan sudah," Azzuri mendekatkan sedikit tubuhnya ke depan. Kedua mata serius menatap wajah dingin tuan Agung, "Aku hanya ingin Aulia terbebas dari musuh-musuh Anda. Dan biar aku saja yang akan terus mengejarnya. Apa aku boleh mengejar cinta anak Anda, tuan Agung Laksmana?"


"Apa menurut Anda, Aulia akan senang mendengar semua perbuatan Anda. Aku yakin pasti Aulia akan sangat marah dengan apa yang baru saja Anda lakukan. Putriku adalah wanita yang lembut. Dia juga seorang wanita pemaaf. Sebaiknya Anda segera kembalikan hak mereka. Jika ingin melumpuhkan musuh, bermainlah dengan lembut," tuan Agung berdiri, "Kalau Anda masih ingin mengejar cinta putriku!" tuan Agung berbalik badan, "Saya pamit pergi. Dan camkan kata-kata ku!" sambung tuan Agung tegas sebelum melangkah pergi.


...Bersambung ...