Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 104. Aku mau Pulang!


Akhirnya Aulia terpaksa mengikuti Azzuri sampai masuk ke ruang rapat. Karena tidak nyaman duduk di kursi kecil, Aulia memilih duduk di kursi besar milik Azzuri, hal itu membuat semua karyawan memandang heran ke Aulia. Dan saling mengumpat.


“Bukannya itu nona muda Aulia?”


“Aku dengar dia baru saja pulang dari tanah air untuk melakukan pemakaman suaminya.”


“Tapi kenapa dia bisa bersama dengan Presdir muda Azzuri. Dan dengan santainya ia duduk di kursi kekuasaan milik Presdir. Apa mereka ada main di belakang?”


“Mungkin saja, apa lagi aku dengar jika mendiang Suaminya itu hanya seorang pengusaha kecil.”


Blam!


Azzuri menggebrak meja.


“Aku minta orang yang menghina Aulia segera keluar dari ruang rapat ini. Dan kalian juga bisa membereskan barang-barang kalian semua dari Perusahaan ku, karena mulai hari ini kalian aku pecat!” tegas Azzuri sedikit meninggikan nada suaranya di kalimat terkahir.


Tidak ingin di pecat oleh Azzuri, keempat karyawan wanita berlari mendekati bangku Azzuri. Keempat karyawan wanita juga bersujud.


“Kami mohon jangan pecat kami, Presdir!” ucap keempat karyawan wanita serentak.


Melihat keempat karyawan wanita bersujud dan memelas kasih. Aulia mendekati keempat karyawan tersebut, Aulia juga berjongkok di hadapan mereka. Lalu memberi senyum manis kepada keempat karyawan wanita.


“Apa kalian baru saja membicarakan aku?!” tunjuk Aulia ke dirinya sendiri.


Keempat karyawan wanita langsung merubah posisi sujud nya menghadap Aulia.


“Iya. Tapi kami berjanji tidak akan mengulangi nya lagi. Kami berjanji!” sahut keempat karyawan wanita serentak.


“Aku sudah memaafkan kalian. Tapi sayangnya kalian bukan karyawan ku. Dan yang pasti karyawan ku tidak akan pernah menjelekkan orang lain seperti kalian menjelekkan aku di belakang. Aku juga tidak tahu apakah setelah kalian aku maafkan, Presdir kalian tidak akan memecat kalian. Coba tanya saja kepada Azzuri Mahendra!”


Azzuri mengalihkan bola matanya ke dua penjaga sedang berdiri di depan pintu, “Kalian berdua cepat usir mereka. Aku tidak butuh seorang karyawan penjilat seperti mereka!” tegas Azzuri memberi perintah.


“Baik Presdir,” ucap kedua penjaga.


Kedua penjaga tersebut langsung melaksanakan tugas mereka dengan cara menggeret keempat karyawan wanita tersebut dengan kedua tangan kekar mereka.


Tidak nyaman melihat sikap karyawan nya telah menjelekkan Aulia. Azzuri segera menundukkan sedikit kepalanya ke Aulia, “Maafkan atas ketidak sopanan karyawan ku. Aku harap kamu tidak tersinggung, dan maafkan aku karena sudah membuat kamu mejadi bahan obrolan,” ucap Azzuri sopan.


Aulia berdiri, “Kalau gitu aku sudah boleh pulang ‘kan?” tanya Aulia semangat.


“Tentu saja tidak. Karena kamu menumpang denganku, maka kamu harus membayarnya dengan menemaniku sampai selesai rapat!” tegas Azzuri.


"Iisss!" gerutu Aulia kembali duduk dengan patuh.


Tak lama kemudian seorang wanita cantik berjalan masuk ke dalam ruangan, dan membagikan brosur tentang rancangan baju untuk dijadikan bahan pajangan pembukaan toko butik. Setelah semua brosur di berikan, Azzuri memulai rapatnya.


“Apa kalian sudah melihat brosur nya?” tanya Azzuri kepada 5 karyawan, dan 3 orang Investor tersisa di dalam ruangan.


“Sudah,” sahut mereka serentak.


“Kalau gitu aku ingin mendengar pendapat kalian tentang rancangan yang akan dijadikan bahan pajangan untuk pembukaan toko,” ucap Azzuri.


Karena rasa lelah akibat perjalanan panjang, dan kedua mata sangat berat. Aulia akhirnya tidak bisa menahan rasa kantuknya. Perlahan-lahan tubuh Aulia membungkuk, dan kini sebelah pipinya mendarat di meja.


Melihat Aulia tertidur dengan baju terlihat tipis. Azzuri memberhentikan rapatnya sebentar, ia membuka jas miliknya, dan menutup tubuh Aulia. Lalu Azzuri melanjutkan kembali rapatnya. Namun, sepanjang rapat berlangsung kedua mata Azzuri berulang kali melirik ke Aulia.


‘Wanita yang teledor. Bisa-bisanya tidur di tengah-tengah orang yang tidak ia kenal,’ batin Azzuri.


Karena sudah tidak ada pembahasan penting, dan brosur juga sudah sesuai dengan konsep untuk pajangan pembukaan toko. Tidak nyaman melihat tidur Aulia sampai dilihatin 3 orang Investor, dan beberapa karyawan. Azzuri terpaksa mengakhiri rapatnya.


"Aku minta rapat ini cukup sampai di sini. Dan terimakasih sudah menghadiri rapat penting ini," ucap Azzuri sopan.


"Selamat, dan semoga sukses!" ucap 3 orang Investor


"Terimakasih," sahut Azzuri.


3 orang Investor dan 5 karyawan sudah pergi. Kini di dalam ruangan tinggal Azzuri dan Aulia. Tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Aulia, Azzuri terpaksa membiarkan Aulia tertidur dan tidak ingin membangunkannya.


30 menit sudah berlalu, melihat Aulia tidak kunjung bangun. Dan hari mulai sore. Azzuri memutuskan untuk membawa Aulia keluar ruangan dengan cara menggendongnya.


“Maafkan aku, aku terpaksa menggendong kamu,” gumam Azzuri pelan.


Baru separuh jalan meninggalkan ruang rapat. Aulia mendadak mengeratkan pelukannya, menggesek wajahnya ke bidang dada Azzuri, dan mengigau.


“Suamiku. Aku pikir setelah kamu meninggalkan dunia, aku tidak bisa memeluk seperti ini lagi. Ternyata Allah itu baik ya sudah mempertemukan kita di dalam mimpi. Tapi, kenapa aku merasakan debaran jantung kamu sangat kencang?”


Melihat Aulia semakin menggesekkan pipinya di bidang dadanya, dan salah satu tangan bermain dengan cara menggenggam salah satu bidang dada Azzuri. Azzuri spontan melepaskan pelukannya.


Bam!


“Aduh..duh…sakit sekali!” rengek Aulia mengelus bokongnya.


Azzuri menundukkan sedikit tubuhnya. Jari telunjuk mendorong pelan bidang dahi Aulia, “Sadar weuy! Pikiran mesum ternyata telah merasuki mimpi kamu!”


Aulia langsung bangkit, tak lupa melayangkan ujung tumit sepatunya, “Kamu itu yang mesum!” ketus Aulia.


“Duh! Sakit tahu,” keluh Azzuri mengelus ujung jempol sepatunya.


“Rasakan!”


Aulia berbalik badan, karena geram tidurnya di ganggu oleh Azzuri. Aulia dengan cepat membawa kedua kakinya meninggalkan Azzuri masih berdiri di tengah-tengah koridor ruangan.


“Sungguh-sungguh menarik,” gumam Azzuri gemas melihat sikap Aulia.


Melihat Aulia hampir menghilang di ujung koridor, Azzuri segera melangkahkan kedua kakinya dengan cepat.


Sesampainya di depan parkiran mobil. Kedua bola mata Aulia membulat sempurna saat melihat Venus, dan Jack menikmati es krim dan beberapa makanan riang lainya tanpa memikirkan dirinya. Aulia segera mempercepat langkah kakinya mendekati Venus.


“Venus! Kenapa kamu tega tidak membagi es krim tersebut denganku!” ucap Aulia manja.


Venus menunjukkan bungkusan makanan sudah disediakan khusus buat Aulia.


“Saya tahu kalau nona muda suka es krim. Jadi saya sudah membelikan es krim ini,” sahut Venus menunjukkan bungkusan plastik berisi es krim cup.


Aulia segera merampas plastik es krim. Aulia juga membuka pintu mobil penumpang bagian belakang, dan duduk di kursi dengan pintu mobil terbuka. Saat satu suapan es krim masuk ke dalam mulut, air mata Aulia perlahan mengalir membasahi kedua pipinya. Aulia juga melahap habis es krim tanpa rasa ngilu.


Melihat Aulia menangis tanpa suara, Venus mendekati langsung Aulia.


“Kenapa Anda menangis?” tanya Venus.


Aulia segera menyeka air matanya, “Aku tiba-tiba teringat dengan mendiang Andra. Dulu dirinya sering memberikan aku es krim,” sahut Aulia dengan nada serak.


“Karena mendiang Andra sudah tidak bisa membelikan dan memberikan kamu es krim. Maka izinkan aku untuk memberikan es krim itu di setiap harinya untuk kamu!” sambung Azzuri baru saja tiba.


“Terimakasih atas rasa empati kamu. Tapi sepertinya aku tidak butuh itu dari kamu. Sekarang aku minta kamu mengantar aku pulang ke rumah karena aku sangat gerah dan ingin mandi,” ucap Aulia.


“Baiklah, kami akan mengantar kamu pulang!” sahut Azzuri patuh.


Karena semua pekerjaan di luar sudah selesai. Melihat raut wajah Aulia sangat letih, tanpa berbasa-basi lagi Azzuri menuruti keinginan Aulia, dengan mengantarnya kembali ke rumah.


...Bersambung...