Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 89. Kucing dari Azzuri


Andra, Aulia, dan Venus langsung terkesima saat melihat bayi kucing meminum dengan lahapnya, hingga susu mengotori semua bulu di sekitar wajah.


Andra melirik ke Aulia, “Kamu mau memberi nama kucing ini dengan nama apa?” tanya Andra.


“Karena wajahnya begitu imut, dan hidungnya juga pesek. Aku akan memberi nama ‘Grey’!” sahut Aulia semangat.


“Nama yang bagus, sesuai dengan bulunya,” sambung Venus.


“Kalian juga suka dengan namanya ‘kan?”


“Iya,” sahut Andra dan Venus serentak.


“Karena Grey masih minum, mari kita makan,” ajak Andra.


“Setelah selesai makan, kita akan pergi membeli keperluan Grey ‘kan?” tanya Aulia.


Andra mengangguk, “Iya, karena Grey masih minum. Kamu juga harus cepat makan," ucap Andra.


“Iya,” sahut Aulia.


Aulia, dan Venus kini menyantap sarapan nasi goreng buatan Andra.


“Siapa yang masak?” tanya Venus.


Sambil menikmati santap sarapannya, Aulia menunjuk ke Andra.


Venus langsung menunjukkan kedua jempolnya, “Masakan tuan memang sudah tidak di ragukan lagi. Pantas saja warung bebeknya sangat ramai,” puji Venus.


“Tuh kan, Venus saja langsung memuji masakan kamu. Jadi kalau ada yang bilang kamu tidak pantas bersanding denganku. Maka orang itu adalah orang yang menginginkan kita berpisah. Atau orang itu ingin merusak rumah tangga kita,” sambung Aulia.


“Siapa yang mengatakan jika tuan Andra tidak pantas dengan nona muda?” tanya Venus histeris.


Aulia melambai, “Sudah jangan di bahas lagi. Mari kembali makan,” sambung Aulia sembari menyantap sisa makanan terakhirnya.


Meouw! Meouw!


Baru saja selesai menikmati santap sarapan. Grey mengeong hebat dan mengelilingi kaki Andra. Andra, Aulia, dan Venus melirik ke bawah meja.


“Dia kenapa ya?” tanya Aulia heran.


“Kangen Ibunya kali,” sahut Venus.


“Aku rasa tidak, mungkin dia kebelet eek,” sambung Andra.


Aulia langsung beranjak dari kursinya, memegang leher bagian belakang Grey, “Kalau gitu mari kita pergi ke kamar mandi,” ajak Aulia segera membawa kedua kakinya berlari menuju ke kamar mandi.


“Aulia. Kucing kecil seperti itu tidak…”


Ucapan Andra terhenti saat melihat Aulia kembali berlari kencang keluar dari kamar mandi menuju ruang pintu utama.


“Haa…toiletnya tidak muat untuknya. Bagaimana ini eek nya sudah kelihatan!” teriak Aulia sembari berlari menuju pintu utama.


Andra meraup wajahnya, “Aku ‘kan sudah bilang tadi,” gumam Andra pelan.


“Dari dulu sifat kekanak-kanakan nona muda tidak pernah hilang. Tapi aku salut melihatnya sudah sukses dan belajar mandiri sejak dini,” puji Venus.


“Kamu benar. Jadi kita di sini harus terus mengawasi sifat bocah manja ini,” Andra berdiri, “Aku minta tolong kepada kamu untuk membereskan semua sisa makanan. Karena aku ingin melihat keadaan anak kucing Yanga dan di tangan Aulia,” ucap Andra.


“Siap. Kalau gitu tuan cepat lihat sekarang sebelum bayi kucing itu habis menjadi peyek di buat nona muda,” sahut Venus mencemaskan bayi kucing berada di genggaman tangan Aulia.


“Kalau ada sisa makanan masih bersih jangan di buang. Taruh di kulkas biar bisa di makan kembali, atau kamu bisa memberi ke orang lain nanti,” ucap Andra.


“Baik,” sahut Venus menunjukkan jempol tangannya.


“Aku pergi dulu,” ucap Andra.


Merasa kuatir melihat bayi kucing berada di dalam genggaman Aulia. Andra mempercepat langkah kakinya menuju teras rumah. Sesampainya di depan teras rumah, kedua mata Andra disuguhkan dengan pemandangan Aulia sedang duduk di rerumputan sambil bermain dengan anak kucing.


“Dasar bocah,” gumam Andra gemas melihat sifat dan sikap Aulia.


“Andra ke sini, mari kita bermain dengan anak kucing ini!” panggil Aulia sedikit meninggikan nada suaranya karena jarak Andra jauh darinya.


“Aulia, sebaiknya kamu ke sini. Bawa Grey masuk agar kita bisa cepat membeli peralatan dan makanan kucing buat Grey!” ucap Andra sedikit meninggikan nada suaranya.


“Okay!"


Aulia pun beranjak membawa Grey mendekati Andra.


“Kamu titip Grey sama Venus, dan aku akan mempersiapkan mobil agar kita bisa mencari petshop lengkap yang ada di sini,” ucap Andra.


“Baik!”


Aulia pun berlari masuk ke dalam rumah, sedangkan Andra berjalan menuju garasi mobil. Sambil menunggu Aulia datang, Andra melihat-lihat toko mana menjual perlengkapan kucing.


“Aku sudah siap,” ucap Aulia baru saja tiba di samping pintu mobilnya.


Aulia pun berjalan masuk ke dalam mobil, memasang seatbelt. Setelah keamanan badan sudah terpasang, Andra melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Kini mobil Andra sudah melaju dengan kecepatan sedang menjauh dari lingkungan rumah mereka.


“Apa kamu yakin ingin merawat bayi kucing tersebut?” tanya Andra memastikan.


“Tentu saja,” sahut Aulia semangat.


“Karena kucing itu tidak memiliki induk. Aku minta ketika kucing itu sakit kamu harus merawatnya dengan benar. Apa kamu juga sanggup?” tanya Andra sekali lagi.


“Kamu tenang saja. Aku siap pasang badan untuk bayi kucing tersebut!” tegas Aulia.


“Baguslah, hitung-hitung belajar menjaga anak sebelum mendapatkan anak sungguhan,” ucap Andra.


“Apa memiliki anak seperti memiliki bayi kucing?” tanya Aulia penasaran.


“Tentu saja tidak sama. Tapi setidaknya kamu ada pengalaman,” sahut Andra.


“Kira-kira kamu sudah tahu di mana tempatnya?” tanya Aulia.


“Sudah, tidak jauh dari rumah kita ternyata ada petshop terlengkap. Jadi untuk sementara kita membeli di sana saja. Lusa kalau kita sempat baru kita keliling sambil mencari perlengkapan yang kurang. Tidak masalahkan?”


“Tidak!”


Baru saja siap berbicara, di ujung mata sudah terlihat plang petshop tersebut. Andra pun menambah kecepatan mobilnya agar bisa cepat sampai.


Cit!


Mobil sudah terparkir dengan baik.


Aulia langsung membuka seatbelt miliknya, dan langsung turun dari mobil.


Melihat Aulia begitu semangat Andra sedikit cemas. Andra segera membuka seatbelt dan mengikuti Aulia dari belakang.


Kling!!


Aulia dan Andra masuk ke dalam toko.


Kedua bola mata Aulia membulat sempurna saat melihat begitu banyak perlatan buat kucing di jual di dalam toko. Aulia menarik lengan kemeja Andra.


“Harus beli semuanya!” ucap Aulia semangat.


“Nggak mesti semuanya Aulia. Pilih-pilih mana yang dibutuhkan saja,” sahut Andra.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya penjaga toko mendekati Aulia dan Andra.


“A-aku mau membeli perlengkapan buat kucing,” sahut Aulia semangat.


“Mari saya temani untuk memilih barangnya,” ajak penjaga toko.


Aulia pun berjalan terlebih dahulu. Sesekali ia terhenti di salah depan rak makanan kucing, kemudian berjalan lagi ke rak lainnya.


Ketika kaki Andra hendak ikut melangkah memilih barang buat Grey, ponsel Andra mendadak berdering.


Andra segera mengangkat panggilan dari nomor asing tersebut.


📞[ “Halo, ini siapa?” ] tanya Andra kepada penelpon asing.


📞[ “Sepertinya Aulia sangat menyayangi kucing tersebut.” ]


📞[ “Apa maksud kamu?” ]


📞[ “Coba kamu melihat dari pintu. Aku berada di sebrang jalan, dan lihatlah lambaian tanganku!”]


Andra segera keluar, kedua matanya langsung membulat sempurna saat melihat pria tersebut ternyata adalah Azzuri.


📞[ “Apa maksud kamu memberikan kucing buat Aulia?” ]


📞[ “Melatihnya untuk menjadi seorang Ibu. Sudah dulu, aku masih banyak pekerjaan.” ]


Tuut!! Tut!


Azzuri pun mengakhiri panggilan telponnya. Ia pun segera pergi meninggalkan toko dimana Andra masih diam berdiri di depan teras toko.


Andra mengepal erat kedua tangannya, “Besar juga nyali kamu menginginkan Aulia,” gumam Andra.


“Kenapa kamu di luar, mari masuk!” panggil Aulia mengulurkan sedikit kepalanya dari dalam pintu.


“Iya,” sahut Andra segera masuk ke dalam.


Takut Aulia membenci anak kucing tersebut setelah mengetahui jika kucing itu adalah pemberian dari Azzuri. Andra hanya bisa diam dan berpura-pura tidak mengingat ucapan Azzuri bahwa dirinya lah yang memberikan kucing tersebut buat Aulia.


...Bersambung...