
“Kamu pikir hanya dengan sekali kata ‘Maaf’ akan menghapus semua rasa penyesalan kamu!” wanita cantik tersebut berdiri, kedua kaki melangkah mendekati Aulia masih berdiri di depan pintu. Wanita tersebut mendorong tubuh Aulia, membuat Aulia terjatuh ke belakang.
“Auw” keluh Aulia merasa sakit pada bagian bokongnya.
Wanita tersebut melipat kedua tangannya di depan dada, dengan wajah sombong wanita itu berkata, “Rasakan itu! rasa sakit itu sebagai tanda kamu sudah membuang-buang waktu berhargaku hanya untuk menunggu kamu.”
Prok! Prok
Suara tepuk tangan dan langkah kaki dari sepatu pansus pria terdengar di koridor ruang pertemuan.
Mimik wajah wanita cantik langsung berubah menjadi panik. Dengan cepat wanita tersebut membungkukkan sedikit tubuhnya sambil berkata, “Tu-tuan muda Azzuri Mahendra!” ucap wanita cantik kaku.
Azzuri berdiri di samping Aulia, tangannya mengulur, “Maaf aku datang terlambat,” ucap Azzuri lembut kepada Aulia.
Aulia menepis tangan Azzuri, “Tidak perlu di bantu, dan tidak perlu minta maaf. Ini kesalahanku, bukan kesalahan kamu!” tegas Aulia, berdiri secara perlahan.
Wanita tersebut melirik tajam ke Aulia. ‘Sial. Kenapa tuan Azzuri berpihak kepada gadis ini. Bisa-bisa aku gagal untuk menjatuhkan Aulia. Sepertinya aku harus meminta maaf kepada Aulia sebelum tuan Azzuri dideportasi usaha milikku.’
Wanita tersebut berlari kecil dan memohon di kedua kaki Aulia, “Saya mohon maafkan saya, nona muda. Tadi saya tidak bermaksud seperti itu kepada Anda,” rengek wanita cantik dengan air mata buaya.
Aulia melepaskan perlahan kedua tangan wanita tersebut dari kakinya, “Aku tidak butuh sandiawara. Jauhkan kedua tangan kotor kamu dari kakiku. Aku tidak ingin sifat buruk kamu menulari aku dengan menyentuh kulitku!” tegas Aulia karena sudah terlanjur sakit hati dengan perbuatan wanita cantik.
Melihat Aulia tidak suka di sentuh oleh wanita cantik. Azzuri berjalan mendekati wanita cantik, tangan kanannya dengan ramah menggenggam erat rambut bagian atas. Membuat wanita cantik menengadah ke atas.
Azzuri membungkukkan sedikit tubuhnya, tatapan dingin tersirat saat menatap wajah wanita cantik, “Apa kamu tidak dengar jika nona muda tidak ingin di sentuh dengan kedua tangan kamu!” Azzuri semakin mengeratkan genggaman tangannya, membuat wanita cantik semakin menengadah, “Oh…aku tahu apa hukuman yang cocok buat kamu. Karena kamu sudah memperlakukan nona muda dengan cara kasar seperti itu aku akan-” Azzuri menggantung ucapannya. Azzuri berdiri tegak, kaki kanan hendak melangkah masuk ke dalam ruang pertemuan milik Aulia, dengan tangan menye-ret rambut wanita tersebut, “Aku akan memberikan kamu perhitu….”
“Ja-jangan tu…tuan. A..ampuni saya!” rengek wanita tersebut berharap belas kasih dari Azzuri.
“Jangan!” ucap Aulia menahan tangan kiri Azzuri dari belakang.
Azzuri menghentikan langkahnya, menoleh ke Aulia, “Kenapa?”
“Kalau Anda masih ingin bertemu denganku, maka jangan lakukan kekerasan kepada wanita manapun. Dan jangan mengambil keuntungan apa pun,” tegas Aulia.
“Baiklah,” Azzuri melepaskan wanita cantik. Tangan kanannya melambai kepada wanita cantik masih berlutut di hadapannya, “Kamu boleh pergi, tapi kamu akan tetap mendapatkan hukuman dariku di luar kantor ini nantinya,” ucap Azzuri mengancam wanita cantik.
Wanita cantik segera berdiri, kedua tangan menyatu seperti meminta maaf, “Terimakasih tuan muda Azzuri Mahendra, dan maafkan saya, nona muda Laksmana Aulia. Sa-saya permisi pamit pergi,” wanita cantik berjalan mundur ke belakang. Kedua kakinya dengan cepat berlari meninggalkan Aulia dan Azzuri.
“Baik!” dengan patuh seperti kucing Azzuri mengikuti langkah kaki Aulia dari belakang menuju ruangan miliknya.
Sepanjang kaki melangkah Aulia terus memikirkan sikap dan perbuatan Azzuri. Mulai dari mengantarnya pergi ke kantor, sampai menuntaskan masalahnya dengan wanita cantik. Azzuri benar-benar bukanlah orang sembarangan, dari sini saja sudah terlihat jika Azzuri Mahendra adalah seorang pengusaha paling di takuti di semua kalangan pengusaha lainnya di kota Paris. Dengan kekuasan miliknya, buktinya Azzuri bisa mempermudah segala urusan apa pun.
Aulia semakin yakin jika dirinya tetap bersama dengan Azzuri, maka keamanan dan tujuannya pasti akan tercapai. Tapi akan sangat sulit pula untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Azzuri.
Auli mengepal kedua tangannya, kepala menunduk memikirkan Andra sedang berjuang demi masa depan mereka di sana. Sedangkan Aulia, sedang bermain demi mencapai tujuan membongkar dan menangkap semua musuh di dalam selimuti ingin merusak dan mencemarkan nama baik keluarganya.
Aulia menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu, tangan kanannya mendorong gagang pintu dan menyuruh Azzuri masuk ke dalamnya.
“Silakan masuk. Aku ingin membahas sedikit syarat mengenai hubungan kita berdua,” ucap Aulia mengarahkan tangan kanannya ke sofa.
“Seharunya aku yang membuat syarat seperti itu, bukan kamu. Tapi karena kamu adalah wanita, maka aku akan menurutinya,” sahut Azzuri lembut, kedua kaki melangkah masuk.
Tidak ingin diganggu dan dilihat oleh para karyawannya, Aulia menutup tirai kantor. Membuat semua ruangan tertutup dari dalam. Aulia melangkah mendekati Azzuri, dan duduk berhadapan dengan Azzuri. Aulia terus memandang Azzuri dengan serius, mulutnya tadi ingin melontarkan banyak kata kini mendadak kaku. Aulia hanya bisa menarik oksigen sebanyak mungkin, dan menyebarkannya ke dalam seluruh otak dan paru-parunya.
Melihat ruangan sangat tertutup dan wajah Aulia terlihat panik. Azzuri mengulas senyum tipis, tangan kanan menopang pipi kanan, “Sepertinya hal itu sangat penting,” ucap Azzuri memecah keheningan.
“Iya. Langsung saja ke intinya. Aku cuman mau bilang, selagi kamu masih bersamaku. Aku minta dengan tegas kepada Anda untuk tidak melakukan hubungan apa pun dengan wanita lain. Aku juga tidak ingin mendengar Anda keluar masuk kamar hotel dengan wanita yang berbeda.”
Mendengar ucapan Aulia, Azzuri sedikit tertawa kecil, “Ha ha ha”
“Aku belum siap berbicara,” tegas Aulia menghentikan tawa Azzuri. Aulia menyandarkan tubuhnya di badan sofa, kaki kanan menaik di atas paha kiri. Kedua mata menatap jari-jemari kuku berhias kutek putih dihiasi berlian halus, “Aku berkata seperti itu karena aku tidak ingin tertular penyakit dari kamu. Bukannya kalau seseorang sering menggonta-ganti pasangan akan mendapatkan Virus itu. Kamu pasti paham maksudku. Tapi kalau kamu tidak ingin menuruti semuanya, maka kita putus saja,” ucap Aulia tanpa ragu.
Azzuri meninggalkan tempat duduknya dan berpindah ke sofa Aulia. Azzuri mendekatkan tubuhnya, tatapan suram dan tajam terlihat jelas di raut wajahnya saat menatap wajah Aulia, “Aku bukan mainan kamu. Aku adalah pria dimana semua keiingannku harus aku campai. Kamu memintaku untuk tidak melakukan hubungan dengan wanita lain itu mustahil. Aku adalah seorang tuan muda, cukup tampan dan juga terkenal. Semua kenikmatan mustahil untuk aku lewatkan, jika kamu tidak ingin mendengar aku melakukan hubungan itu dengan wanita lain-” Azzuri menggantung ucapannya, mendekatkan bibirnya di daun telinga kanan Aulia, “Maka kamu yang akan menjadi gantinya,” sambung Azzuri menekan nada suaranya.
Bukannya takut mendengar ucapan Azzuri. Aulia malah tertawa renyah, “Ha ha ha” tangan kanan mendorong kuat wajah Azzuri, membuat wajah Azzuri menjauh dari wajahnya, “Baik-baik, kalau seperti itu lupakan saja. Aku juga seorang pengusaha cantik. Kita batalkan saja semua syarat dariku, karena aku juga ingin berkencan dengan banyak pria. Bukannya itu sangat mengasyikan buat kesenangan diri kita sendiri?”
Dahi Azzuri mengerut, tangan kanan langsung menahan dagu Aulia. Tatapan suram terpancar jelas saat menelusuri setiap inchi dari wajah Aulia, “Berani kamu menjumpai pria lain di belakangku, maka pria itu akan aku habisi,” ucap Azzuri sedikit menekan nada suaranya.
Aulia menepis tangan Azzuri, “Tidak ingin di atur olehku, maka jangan atur hidupku.”
‘Gadis ini sangat keras kepala. Kenapa dia tidak takut dengan ancaman ku. Dan kenapa aku yang takut dengan ancamannya.’
...Bersambung ...