
π« PUKUL 07:30 PAGI π«
Karena makan malam sudah di laksanakan di rumah Tarjok. Sarapan hari ini dilakukan di rumah tuan Agung dan Marsya. Mengingat Marsya akan memasak sarapan cukup banyak, Ningrum berinisiatif untuk membantu Marsya. Selesai sholat subuh Ningrum dan Tarjok terlebih dahulu ke pergi. Tidak ingin mengganggu waktu tidur mereka. Tarjok dan Ningrum hanya mengirim pesan singkat untuk berkumpul sarapan bareng di rumah tuan Agung kepada Andra.
Di dapur para Istri sedang memasak, sedangkan para lelaki sedang berdiskusi di dalam ruangan khusus milik tuan Agung. Kecuali, Andra.
"Apa tuan sudah mendapatkan pesan dari Andra tadi malam?" tanya Tarjok serius.
"Sudah. Malam itu juga aku langsung menyuruh Venus diam-diam menyelinap ke rumah kalian. Tapi Wardhani sudah kabur dengan menaiki mobil Jeep berwarna hitam," sahut tuan Agung.
"Benar, tadi malam saya melihat seorang wanita berumur 40 atau 50 tahun masuk ke dalam Jeep. Tapi, sepertinya wanita itu tidak sendiri. Karena saya melihat ada 2 orang pria bertubuh kekar berada di dalamnya," sambung Venus mengingat tadi malam.
"Kalau wanita itu memang Wardhani, bagaimana caranya ia mendapatkan mobil Jeep dan membayar orang seperti mereka. Apa Wardhani masih memiliki harta untuk membayar semuanya?" tanya Tarjok penasaran.
"Apa kamu sudah lupa kalau dulu Wardhani memiliki selingkuhan dengan total kekayaan yang sama dengannya. Dan setelah bercerai, aku juga sudah memberikan warisan bernilai Triliunan. Bukan itu saja, Wardhani dulunya juga seorang wanita memiliki kekayaan cukup banyak dari hasil Butik dan menjadi model!" tuan Agung meletakkan dagu di kedua punggung tangannya. Kedua bola mata menatap lurus ke depan, "Aku sangat yakin jika dia bisa membayar ini dan itu dari sisa kekayaannya yang masih ada," sambung tuan Agung serius.
"Tapi kenapa Wardhani terus mengincar Aulia. Dan buat apa Wardhani masih terus-menerus mengusik rumah tangga tuan Agung?" tanya Venus penasaran.
"Wardhani adalah wanita yang dimana dia tidak akan bisa hidup tanpa uang banyak. Dia mengincar Aulia, karena dia tahu jika Aulia adalah titik kelemahan aku dan Marsya."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan kalau dia berhasil kita tangkap?" tanya Tarjok.
"Bunuh!"
"Ma-maksud...tu-tuan, menghabisi nyawa Wardhani gitu?!" ucap Venus kikuk.
Taun Agung mengangguk, kedua bola mata melirik ke Tarjok, "Aku sudah cukup bosan melihat ulahnya yang tiada pernah berhenti mengganggu keluargaku. Jadi aku menginginkan dia ma...ti!" tegas tuan Agung di kalimat terakhir.
"Bagaimana kalau tuan Agung di hukum karena melakukan hal itu?" tanya Tarjok cemas.
"Uang bisa menutup segalanya," bola mata tuan Agung melirik ke Tarjok dan Venus, "Kalian tidak perlu cemas. Pesanku hanya satu, jaga dan lindungilah putri dan Istriku selagi aku tidak ada bersama mereka suatu saat nanti," sambung tuan Agung seperti mengucapkan pesan untuk perjumpaan terkahir.
"Tu..."
Brak!!!
Kecemasan, dan ketegangan berakhir saat pintu ruang kerja pribadi milik tuan Agung terbuka lebar. Semua mata tertuju pada Aulia sedang berdiri di depan pintu, salah satu tangan memegang pinggang nya.
Tidak ingin melihat Aulia mendengar diskusi mereka, tuan Agung langsung berdiri, "Ka-kamu kenapa sayang?" tanya Tuan Agung mendekati Aulia.
"Papa...pinggang aku sakit gara-gara Andra," rengek Aulia memijat pinggangnya.
"Andra....pinggang?!" ucap tuan Agung, Tarjok dan Venus saling menatap dengan pikiran mereka masing-masing.
"Emang apa yang Anda lakukan sehingga pinggang kamu sakit seperti ini?" tanya tuan Agung mulai berpikir negatif.
"Benar, apa yang dilakukan putraku tadi malam sehingga pinggang nona muda bisa sakit?" sambung Tarjok ikut cemas.
"Jangan-jangan!" ucap Tarjok dan Tuan Agung saling menatap panik.
"Semua gara-gara Andra yang membuat aku sampai jatuh dari ranjang," rengek Aulia kembali semakin membuat tuan Agung dan Tarjok berpikir hal kotor lainnya.
"A-apa Andra sangat kasar melakukannya?" tanya tuan Agung dengan pikirannya.
"Jam berapa itu kejadiannya, dan kenapa Om nggak mendengar suara apa pun. A-apa Andra membungkam mulut kamu?" tanya Tarjok mulai berpikir lebih tinggi lagi.
Aulia menggeleng, "Tidak ada."
"Bagaimana aku bisa berteriak. Aku tadi makamkan bermimpi tentang Panda berotot. Terus tangan aku ngelindur, tanganku menggenggam bebas di bidang dada Andra...." baru saja membicarakan mimpinya. Tuan Agung dan Tarjok mendekatkan wajahnya.
"Terus....terus," ucap tuan Agung dan Tarjok serentak.
"Rupanya saat aku membuka mata, ternyata yang aku pegang itu bidang dada Andra. Jadi aku terkejut, aku spontan terjatuh ke bawah," rengek Aulia kembali, kedua tangan memegang pinggangnya, "Jadi pinggul aku sakit, Pa...Om!" sambung Aulia mengelus pinggang nya.
Tarjok menarik nafas lega, tangan kanan mengelus dada, "Hampir saja nyawaku hilang."
"Benar. Aku pikir ada pertempuran panas dengan mereka berdua tadi malam. Kalau hal itu sempat terjadi, mungkin kita akan segera memiliki cucu dengan cepat," sambung tuan Agung ikutan lega.
"Ternyata kamu di sini," ucap Andra baru saja tiba, kedua tangan memegang beberapa salep dan koyo, "Aku sudah membeli obat ini buat kamu!" sambung Andra menunjukkan obat di kedua tangannya.
Aulia segera berbalik badan, tangan kanan menggenggam erat tangan Andra, "Mari bantu aku untuk mengoleskannya di pinggang."
"Eh, tunggu!" tahan tuan Agung.
"Kenapa Pa?" tanya Aulia polos.
"Seorang pria dewasa tidak boleh melihat tubuh wanita yang belum menjadi Istrinya. Jika Andra melihat tubuh kamu, maka akan timbul nafsu nantinya."
"Benar," sambung Marsya dan Ningrum baru saja tiba.
Tangan kanan Marsya mengulur, "Mari berikan obat itu kepada tante," ucap Marsya lembut meminta obat kepada Andra.
Aulia menggeleng, "Sungguh kalimat yang susah aku serap dengan baik," gumam Aulia pelan.
Marsya merangkul Aulia, "Mari kita ke kamar. Mama akan memberikan obat mujarab buat kamu agar bisa kembali sembuh," ajak Marsya membawa Aulia melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja pribadi milik taun Agung.
"Buat para lelaki, mari kita menuju ruang makan," ajak Ningrum mengarahkan tangan kanannya ke koridor di sisi kirinya.
"Kamu duluan sayang, nanti kami akan menyusul," ucap Tarjok menyuruh Ningrum pergi terlebih dahulu.
Ningrum berbalik badan, kedua kaki melangkah kecil, "Kalau gitu jangan lama-lama, karena wanita tidak suka menunggu," sahut Ningrum sedikit melirik ke belakang.
"Iya sayangku," ucap Tarjok.
"Andra," panggil tuan Agung.
"Iya Om, ada apa?"
"Wanita itu datang cukup tadi malam saja kan?" tanya tuan Agung penasaran.
"Benar. Wanita itu sekilas sangat mengerikan, apalagi saat dirinya mengarahkan tangan seperti sedang memang pistol," ucap Andra mengingat kejadian tadi malam.
Tuan Agung memukul pelan bahu kiri Andra, "Kamu jangan takut. Di sini ada Om, Venus dan Tarjok yang akan melindungi kalian berdua."
"Tapi kenapa dia tahu kamar aku, dan kenapa sepertinya dia juga tahu jika Aulia tidur di kamar aku? apa Om tidak merasa cemas akan hal itu?"
"Wardhani adalah wanita yang licik dan juga sangat pintar. Jadi tidak heran kalau dia bisa mengetahui segalanya," tuan Agung kembali memukul pelan kedua bahu Andra, "Sudah-sudah, kamu jangan cemas ya?"
"Baik Om," sahut Andra mengangguk.
...Bersambung ...