Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 67. Senggut di malam pertama


Aulia meringkuk di atas ranjang, kedua tangan memegang perutnya, "Aduh, sakit sekali. Kenapa harus hari ini sih. Kenapa tidak kemarin-kemarin datangnya," rengek Aulia dengan derai air mata.


Andra mondar-mandir, tangan kanan menggaruk kepala sedikit berdenyut, "Aku tidak pernah melihat Mama Ningrum seperti ini. Dan aku juga tidak pernah melihat Mama Ningrum datang bulan. Apakah datang bukan sampai separah ini?" gumam Andra bertanya-tanya sendiri.


"Kenapa kamu diam saja. Cepat bawakan aku air hangat kek, atau yang lainnya," ucap Aulia sedikit membentak.


"I-Iya. Aku akan segera turun," sahut Andra bingung.


Tok!tok!!


Andra segera membuka pintu. Wajahnya terlihat tenang saat melihat Ningrum dan Marsya datang membawa satu gelas berisi jamu.


"Kenapa wajah kamu pucat sayang?" tanya Marsya penasaran.


"A-anu....Aulia, Tante," ucap Andra bingung.


"Kamu tenang saja. Aulia memang seperti ini setiap bulannya. Biasanya Aulia suntik vitamin dan minum obat anti denyut. Tapi, tante lupa," Marsya mengelus bahu kiri Andra, "Kamu tenang saja, kami sudah datang membawa jamu racikan buatan Mama kamu. Racikan jamu sangat manjur buat segala hal," ucap Marsya memberikan jempol.


"Iya, kamu tenang saja," sambung Ningrum menyipitkan matanya.


"Mama...sakit," rengek Aulia manja.


"Baik, Mama dan tante akan ke sana," ucap Marsya membawa kedua kakinya melangkah mendekati ranjang.


"Jamu nya di minum dulu," ucap Ningrum memberikan gelas kecil berisi jamu.


"Nggak mau, pahit," sahut Aulia memutar arah posisi tidurnya.


"Bagaimana bisa jamu yang sudah di campur gula aren asli menjadi pahit. Coba di minum dulu, kalau belum di minum belum tahu rasa enaknya," sambung Marsya membujuk Aulia dengan memikirkan hal lain.


"Kalau gitu Aulia minum deh," ucap Aulia segera bangkit, dan langsung menenggak habis jamu buatan Ningrum.


"Gimana, apakah jamunya pahit?" tanya Marsya penasaran.


Aulia menyipitkan matanya, "Dikit Ma."


"Kalau gitu kamu istirahat dulu. Mama dan tante Ningrum turun dulu," ucap Marsya beranjak turun ranjang.


"Kamu ikut turun atau temani Aulia di sini?" tanya Ningrum melirik ke Andra masih berdiri di depan pintu kamar.


"Ikut..."


"Kamu nggak boleh pergi. Temani aku di sini sambil mengelus-elus punggungku," rengek Aulia seperti bocah berumur 5 tahun.


"Tante....Mama Ningrum, gimana nih? Aulia minta dielus punggungnya. 'Kan nggak mungkin aku lakukan," tanya Andra bingung.


"Kamu ini lupa apa? kalian 'kan sudah menikah, jadi sah-sah aja jika melakukan hal itu."


"Melakukan hal yang lebih juga boleh," sambung Ningrum dengan penuh maksud.


"Masih bingung hal lebihnya itu apa?" tanya Andra kepada Marsya dan Ningrum.


"Kalau gitu pikir-pikir sendiri, kami pergi dulu!" ucap Marsya dan Ningrum serentak. Mereka juga serentak melangkah pergi meninggalkan kamar Andra.


Andra menggaruk kepala tak gatal, "Lah aku kok jadi bingung sendiri setelah nikah. Sudahlah, sebaiknya aku temani Aulia saja," gumam Andra mendekati ranjang.


Aulia memukul ranjang tengah, "Kamu tidur di sini ya? soalnya aku mulai mengantuk," ucap Aulia mengucek kedua kelopak matanya.


"Iya, aku akan tidur di samping kamu, sampai kamu membuka mata," sahut Andra merangkak ke atas ranjang. Andra juga menyelimuti tubuhnya dan tubuh Aulia dengan selimut hangat.


"Sebelum aku tidur, aku boleh request lagu tidak?" tanya Aulia dengan kedua bola mata berbinar.


"Tentu saja boleh," sahut Andra mengangguk.


"Karena aku tidak tahu judul lagu, maka aku ingin kamu bernyanyi dengan lagu yang kamu suka. Apakah kamu mau melakukannya?"


"Kalau gitu mari peluk aku, agar kamu bisa meresapi lagu yang akan aku nyanyikan," ucap Andra membentang luas kedua tangannya.


Aulia pun memasukkan tubuhnya dalam dekapan Andra. Aulia menengadah, "Kayak gini rasanya kalau dipeluk oleh Suami," ucap Aulia senang karena bisa memeluk Andra.


"Sudah, kamu jangan bicara lagi. Cepat pejamkan mata," sahut Andra mengelus puncak kepala Aulia.


Andra menarik nafas, dan mulai memainkan suara indahnya.


...****************...


🎶🎶🎶


Hanya kamu di hatiku


Yang mampu mengertiku, menjadikan diriku yang lebih baik


Aku menyayangi kamu


'Ku selalu setia menyayangi dirimu...


Cinta kita memang tak semudah dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada 'ntuk saling menyempurnakan...


'Ku berdoa....agar bisa hidup menua bersama-mu..


...----------------...


Andra langsung menghentikan nyanyian nya saat melihat Aulia sudah tidur nyenyak di dalam pelukannya. Mengingat wajah pucat dan keringat jagung membasahi wajah cantik Aulia. Andra melayangkan kecupan manis di dahi Aulia, "Aku berdoa kamu akan selalu sehat. Maafkan aku, Suami yang tak memahami masalah wanita," gumam Andra pelan. Kedua kelopak Andra terasa berat, dan Andra akhirnya tertidur dengan kepala menyandar ke badan kepala ranjang.


.


.


✨ DI SISI LAIN ✨


Hari mulai larut, rumah juga sudah beres, waktunya tuan Agung menyusul Marsya masih sibuk berbicara dengan Ningrum di ruang tamu.


"Wah-wah, sepertinya cerita Ibu-ibu Negara tidak ada habisnya dari tadi. Kalian menceritakan apa?" tanya tuan Agung berhenti di belakang sofa Marsya.


Marsya menengadah, "Aulia tiba-tiba datang bulan. Jadi kami berdua gagal buat mereka menyatu malam ini," ucap Marsya polos.


"'Jok, gimana nih istri kita. Kok mereka berdua nakal sama anak-anak kita ya?" tanya tuan Agung sedikit bercanda.


"Iya, kok kamu nakal sayang?" tanya Tarjok menatap wajah bingung Ningrum.


"Biar cepat loh Pa," sahut Marsya.


"Iya, apa kedua Bapak-bapak tua ini tidak ingin cepat-cepat memiliki cucu?" tanya Ningrum melirik ke Tarjok.


"Ya mau, tapi nggak gini juga konsepnya," sahut Tarjok dan tuan Agung serentak.


Tuan Agung langsung menggendong Marsya, "Daripada mikirin bulan madu anak kita. Lebih bagus kita bulan madu duluan. Papa gerah nih karena 3 hari lagi Papa akan pergi ke Kota Sakura," ucap tuan Agung melirik ke wajah malu Marsya.


"Apa hubungannya gerah sama mau pergi ke Kota Sakura?" tanya Marsya bingung.


Tuan Agung melirik ke Tarjok, "Kami pulang dulu. Sampai kan salam dari Papa tercinta buat Aulia," ucap tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya karena kedua kakinya sudah melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.


"Hati-hati," sahut Tarjok dan Ningrum serentak.


"Karena Aulia dan Andra sudah tidur. Marsya dan tuan Agung juga sudah pulang. Gimana kita bulan madu juga," ucap Tarjok menggendong tubuh Ningrum.


"Sayang.. jangan di gendong. Turunkan aku," rengek Ningrum berusaha turun. Namun, Tarjok semakin menggenggam erat.


"Kamu 'kan letih hari ini. Jadi aku minta biar aku yang memijat kamu di kamar. Kamu cukup diam dan nikmati pijatan lembut dari kedua tangan halus suami kamu ini," ucap Tarjok membawa kedua kakinya melangkah menuju kamar mereka.


"Pa..malu di dengar anak-anak nanti," sahut Ningrum melirik ke anak tangga.


"Tenang saja, nanti mulut Mama akan aku bungkam," ucap Tarjok berpikir ke adegan lainnya.


"Ih...genit ya."


...Bersambung ...