
Setelah melakukan santap makan malam di Restauran milik Andra. Andra dan Aulia mengantar tuan Agung, Marsya, Tarjok dan Ningrum sampai di parkiran mobil.
Aulia melambaikan ke mobil di tumpangi tuan Agung, Marsya, Tarjok dan Ningrum, “Daaa...semuanya. Hati-hati di jalan ya,” ucap Aulia manis.
“Kalian juga ya sayang, kami pulang dulu!” ucap Ningrum, dan Marsya mengulurkan kepala keluar dari jendela.
Tuan Agung menurunkan kaca mobil, “Jaga putriku!” ucap tuan Agung tegas.
“Beres,” sahut Andra memberikan jempol tangan kanannya.
Tin!
Mobil tuan Agung pergi meninggalkan Aulia dan Andra.
Andra menyelinapkan tangan kirinya, dan menarik tubuh Aulia dalam pelukannya. Andra merapihkan rambut bagian depan Aulia, “Entah kenapa aku mendadak bisa seromantis ini. Entah kenapa juga aku bisa memiliki banyak kata-kata gombal yang terus tersusun rapih untuk menyambut semua pertanyaan kamu dan menyambut pagi kamu. Aulia Laksmana. Sekali lagi aku katakan jika aku sangat-sangat menyayangi kamu. Aku janji akan menjadi Suami terbaik buat kamu, baik sekarang atau pun untuk selamanya,” ucap Andra tulus.
“Aku juga,” sahut Aulia singkat.
“Eh! Itu saja?” tanya Andra melepaskan pelukannya.
“Aku mengantuk, kamu apa masih lama lagi pulangnya?” tanya Aulia melirik ke dalam Restauran.
“Kalau gitu mari kita ambil barang-barang milik kita di dalam,” ajak Andra masuk ke dalam untuk mengambil barang milik mereka tertinggal di meja kasir.
Setelah mengambil barang-barang milik mereka berdua, dan pamit kepada para karyawan. Andra dan Aulia melangkah menuju mobil.
Andra membuka pintu mobil, “Silahkan masuk nona muda,” ucap Andra.
“Berhentilah menjadi pria lebay,” sahut Aulia.
Mobil kini sudah menyala, seatbelt juga sudah terpasang dengan sempurna. Mobil pun kini mulai melaju meninggalkan parkiran Restauran.
“Kamu ingin lansung pulang ke rumah atau kita mau berkeliling sebentar?” tanya Andra.
“Pulang saja deh. Soalnya aku mulai mengantuk, dan aku masih ingin melihat jadwal penerbangan untuk dua hari ke depan,” sahut Aulia karena kedua kelopak matanya terasa sangat berat.
“Baiklah. Kalau gitu mari kita pulang,” sahut Andra menambah kecepatan mobilnya.
“Yuk!” ucap Aulia semangat.
Mobil Andra dan Aulia pun melaju dengan sangat kencang menuju kediaman rumah Andra. Karena semenjak menikah tuan Agung mengusir halus Aulia dari rumahnya. Semua itu dilakukan tuan Agung agar Aulia bisa merubah sikap manjanya, dan benar-benar belajar menjadi wanita baik, bagi Suaminya dan juga orang lain.
Tak sampai 1 jam berjalan mobil di tumpangi mereka akhirnya sudah sampai. Andra segera membuka seatbelt Aulia karena Aulia saat ini sedang tertidur lelap. Andra berjalan turun, dan langsung menggendong masuk tubuh mungil Aulia masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Andra sembari melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Tarjok dan Ningrum serentak.
“Aulia kenapa?” tanya Ningrum cemas melihat Aulia digendong.
Tanpa mengeluarkan suara Andra berkata, “Tidur,” kedua kaki Andra pun segera menaiki anak tangga.
“Sayang, kamu yakin Aulia tidak kenapa-kenapa?” tanya Ningrum cemas.
“Ningrum ku. Kenapa kamu begitu kuatir dengan Andra dan Aulia. Bukannya mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri. Jadi apa pun yang dilakukan oleh mereka kamu tidak perlu kuatir. Kamu percayakan saja Aulia kepada Andra,” tangan kiri mengelus rambut belakang, “Kamu tidak boleh menekuk wajah seperti itu. Jangan terus memikirkan anak-anak. Di sini ada Suami kamu yang sedang membutuhkan belaian kamu, loh!”
Ningrum langsung menggenggam erat tangan Tarjok, “Yuk!” ajak Ningrum.
“Kalau soal itu semangat amat wanita satu ini,” gumam Tarjok pelan. Kedua kaki menuju kamar mereka berada di lantai satu.
.
.
Andra sudah mengganti bajunya dengan baju piyama tidur. Kini Andra berdiri di samping ranjang, bola matanya terus memandang Aulia tidur memakai baju dress bunga-bunga, “Melihat dirinya tidur lelap seperti ini rasanya aku tidak tega untuk membangunkannya. Apa sebaiknya aku gantikan saja bajunya. Soalnya aku sangat yakin jika bajunya itu dipenuhi oleh debu karena satu harian di luar bersamaku,” gumam Andra.
Setelah perdebatan cukup panjang dengan pikiran dan hatinya. Andra pun memutuskan untuk mengganti baju Aulia. Setelah mengambil baju piyama milik Aulia, Andra segera duduk di pinggiran ranjang. Andra mengulurkan kedua tangannya mendekati kancing baju dres bagian depan. Kelopak mata Andra mendadak terpejam, “Aulia, maafkan aku!” tegas Andra perlahan membuka kancing baju.
Tangan Andra mendadak berhenti saat ada tangan menggengam erat pergelangan tangan kanannya. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka, dan melirik ke Aulia. Andra spontan berdiri saat melihat Aulia ternyata sudah terbangun dengan mata melotot.
“Kamu mau apa?” tanya Aulia sinis.
“Mau bantu kamu membuka baju. Bukannya pakai baju itu akan sangat tidak nyaman,” ucap Andra menunjuk ke baju dress bunga-bunga Aulia.
Berpikir jika ucapan Andra ada benarnya. Aulia duduk, tampan rasa malu ia membuka pakaian di depan Andra, sembari bekata, “Seharusnya kamu bangunkan aku. Atau kalau kamu ingin membukanya, setidaknya jangan pejamkan mata. Bagaimana kalau tangan itu menyentuh ke tempat lain. Aku ‘kan bisa menjerit nantinya.”
“Ke-kenapa kamu buka di depanku?” tanya Andra memejamkan kembali kedua matanya.
“Tentu saja tidak. Bukannya kedaua orang tua kita berkata jika kita bebas melakuka apa pun karena sudah sah,” ucap Aulia mengingat ucapkan kedua orang tua mereka. Setelah selesai mengganti pakaian, Aulia menjatuhkan pakaiannya ke lantai.
“Kamu benar juga, ya,” sahut Andra membuka kedua kelopak matanya. Saat kedua kaki hendak berbalik badan, kaki kanan Andra tidak sengaja menyenggol benda keras dan bulat. Bola mata itu pun segera turun ke bawah, “Kenapa kamu melepas pakaian ini?” tanya Andra melihat penutup dua gunung kembar jatuh di atas lantai.
“Aku rasa aku tidak perlu menahan rasa sesak saat tidur lagi dengan pakaian itu. Bukannya kita sudah sah, dan bebas melakukan apa pun. Jadi kalau aku tidak memakai apa pun di depan kamu berarti itu tidak masalahkan?” tanya Aulia polos.
Andra tidak mampu menjawab pertanya Aulia. Andra juga tidak bisa menatap Aulia, karena cherry kembarnya menonjol dari balik baju piyaman. Andra berjalan sambil menundukkan pandangannya merangkak naik ke ranjang.
“Kamu kenapa tidak melihatku?” tanya Aulia menatap dekat wajah Andra.
Andra memiringkan tubuhnya membelakangi Aulia, tangan kanan menarik selimut menutup tubuhnya, “Aku sangat mengantuk Aulia. Mari kita tidur,” ajak Andra mematikan lampu kamar, dan menggantikan menjadi lampu tidur.
Aulia memutar arah posisi tubuh Andra menjadi telentang, “Kenapa kamu membelakangi aku. Apa kamu bosan melihat wajahku?” tanya Aulia gelisah.
“Tidak,” sahut Andra masih memejamkan kedua matanya.
Karena Andra tak kunjung membuka kedua matanya. Aulia memutuskan untuk duduk di atas tubuh Andra, “Kalau kamu masih tidak ingin melihatku, maka aku akan terus duduk di atas sini,” ucap Aulia tidak sadar jika kini ia duduk di tempat paling rawan.
Andra langsung membuka kedua bola matanya saat Aulia terus bergerak dan membangunkan area terlarang. Andra segera membawa Aulia kembali tidur, “Aulia, jangan lakukan ini jika kamu belum siap,” ucap Andra membalik posisi tidur mereka.
Bola mata Aulia perlahan melirik ke bagian celana sedang menojol, “Tadi itu benda keras apa menyentuh milikku?” tanya Aulia polos.
Andra mendadak malu karena area miliknya mendadak terpancing kelakuan Aulia. Andra langsung tertidur, dan membelakangi Aulia.
“Kamu kenapa tidak menjawabnya?” tanya Aulia menoleh ke punggung Andra.
“Benda itu adalah benda yang akan menerobos gawang pertahanan kamu. Jika kamu mau aku akan menerobosnya. Tapi kalau kamu masih belum siap, maka aku akan menunggu kamu mengatakan ‘iya aku mau’. Sudah jangan di bahas lagi. Soalnya aku takut khilaf.”
“Apakah itu sakit?” tanya Aulia penasaran.
Andra mengangguk.
“Sakit sebentar atau lama?” tanya Aulia semakin penasaran.
“Sebentar. Jika sudah mulus akan sangat beda rasanya. Itu yang sudah aku baca di google setelah kita menikah,” sahut Andra malu-malu.
“Berarti kamu sudah mempelajari hal itu?”
“Aku bukan pria berpengalaman. Tapi aku pastikan, aku akan memberikan kelembutan itu.”
“Mari kita lakukan sekarang,” ucap Aulia merebahkan tubuhnya.
Andra memutar posisi tidurnya, “Kamu jangan bercanda. Aku masih bisa menunggu kamu, jadi jangan paksakan hal itu untuk dilakukan,” sahut Andra menolah permintaan Aulia.
“Aku serius,” ucap Aulia.
...Bersambung ...