Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 111. Penawar


"Berani sekali kalian melakukan hal ini kepada Aulia!!” teriak Azzuri saat menyebut nama Aulia.


Bam!


Pria bertubuh kekar langsung terjatuh.


“Hei! Siapa kamu?!” tanya ketiga pria asing kepada Azzuri.


Azzuri tidak menghiraukan pertanyaan ketiga pria asing. Azzuri berjalan perlahan mendekati ranjang, membuka baju kemeja miliknya, dan membalut ke tubuh polos Aulia.


“Aaa..panas, kenapa tubuhku seperti ini. A-aku tidak tahan,” rengek Aulia.


Amarah Azzuri semakin memuncak saat melihat wajah Aulia memerah, nafasnya juga terlihat memburu, dan tubuh menggeliat.


“Apa yang kalian berikan kepada wanita ku?!” tanya Azzuri dingin.


“Ha ha ha. Tentu saja kami memberikan obat kepadanya!” sahut pria asing satu.


"Kalau gitu aku akan...."


Saat Azzuri hendak memberikan pelajaran kepada keempat pria asing. Masuk 3 pria bertubuh kekar masuk ke dalam kamar.


“Bos!” panggil salah satu pria bertubuh kekar kepada Azzuri.


“Cepat kalian bereskan mereka semua. Dan satu lagi, aku ingin kamu mencari pria bernama Charles, dan berikan dia pelajaran yang akan ia ingat seumur hidup!” tegas Azzuri memberi perintah.


“Siap Bos!”


“Hei! Siapa kalian, dan kenapa….”


“Kalian sudah berani mengganggu tuan muda Azzuri, dan wanitanya. Maka kalian harus menerima hukumannya,” sela salah satu anak buah Azzuri.


Azzuri tidak mengherankan keempat pria asing. Melihat Aulia merasa tersiksa, Azzuri langsung menggendong Aulia, “Aulia, tenanglah. Aku akan membawa kamu pergi dari sini,” ucap Azzuri.


“A-aku sudah tidak tahan lagi. To-tolong aku,” keluh Aulia.


Azzuri pun berlari, membawa Aulia keluar dari kamar. Sesampainya di tengah-tengah ruang kosong, Azzuri menghentikan langkah kakinya, saat melihat Venus menghadang dengan wajah suram dengan darah mengalir di wajah.


“Ke-kenapa dengan nona muda?” tanya Venus panik.


“Aulia sudah diberikan obat oleh mereka, tidak ada pilihan lain. Aku harus memberikan penawar kepadanya. Kalau tidak Aulia…ah sudahlah, aku pergi dulu. Dan kamu hati-hati di sini,” sahut Azzuri.


“Penawar apa yang akan tuan berikan kepada nona muda?” tanya Venus cemas.


“Aku juga tidak tahu. Sudah dulu, Aulia harus di selamatkan,” ucap Azzuri.


Azzuri kembali mempercepat langkah kakinya. Azzuri terus berlari dan berlari kembali ke koridor menuju pintu samping. Saat langkah kaki terhenti di pintu samping, ada seorang pria berdiri menodong pis-tol ke Azzuri.


“Lepaskan wanita itu!”


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Charles!” ucap Azzuri.


“Oh, kamu rupanya. Azzuri Mahendra. Tidak aku sangka Iblis seperti kamu bisa seperti ini. Apa kamu menyukai wanita itu?” tanya Charles.


“Iya. Aku sangat-sangat menyukainya, meski aku tahu aku tidak bisa memilikinya,” sahut Azzuri.


Charles mengulurkan tangan kirinya, “Maka berikanlah wanita itu, agar kita bisa memilikinya bersama,” ucap Charles.


“Mati sekalipun aku tidak akan memberikan Aulia kepada siapa pun termasuk, kamu!” tegas Azzuri.


“Ha ha ha. Omong kosong apa ini?” tanya Charles.


Azzuri tidak memperdulikan pertanyaan Charles. Azzuri kini mempercepat langkah kakinya mendekati mobil.


“Tunggu!” panggil Charles.


Azzuri tidak menghiraukan panggilan Charles. Azzuri membuka pintu mobil penumpang bagian depan, meletakkan Aulia, dan memasang seatbelt agar tubuh Aulia bisa duduk dengan seimbang. Lalu Azzuri menghadap Charles.


“Apa mau kamu?” tanya Azzuri dingin.


“Berikan wanita itu!” tegas Charles.


“Kalau gitu rasakan ini.”


Saat Charles mau membidik, terlihat dari belakang Charles mengulur senjata a-pi.


“Tuan muda, pria ini biar aku yang menanganinya. Aku akan memberikan dia pelajaran karena sudah menculik nona muda, dan membuat nona muda Aulia seperti ini. Sekarang aku mau tuan muda menolong nona muda Aulia, dan aku mohon selamat nona muda dari efek obat itu!” pinta Venus.


“Terimakasih Venus. Kalau gitu aku pergi dulu,” sahut Azzuri.


Azzuri masuk ke mobil, lalu membanting stir meninggalkan Venus. Mobil Azzuri pun berjalan begitu cepat menuju kediaman rumah Azzuri tak jauh dari tempat lokasi tersebut.


“Andra…kamu kemana, kenapa kamu tidak menolongku. Tubuhku sangat panas, dan gerah. Rasanya aku..aku ingin melakukan hal itu kepada kamu. Aku mohon bantulah aku, Andra!” rengek Aulia menyebut nama mendiang Andra.


Grep!


Merasa terluka saat mendengar Aulia menyebut nama Andra, jelas-jelas Andra sudah meninggal dunia, dan hanya Azzuri lah pria saat ini sedang bersamanya. Tidak ingin mendengar terus-menerus rengekan Aulia memanggil nama Andra. Azzuri menambah kecepatan laju kendaraannya.


‘Akulah pria yang ada di samping kamu. Akulah pria yang saat ini bisa menolong kamu. Tapi kenapa kamu masih mengingat nama mendiang suami kamu. Seberapa besar rasa cinta kamu hingga nama ku tidak ada tempat di hati kamu, Aulia. Rasanya sakit jika aku mendengar kenyataan seperti ini,’ batin Azzuri.


30 menit kemudian, mobil Azzuri kini memasuki pintu gerbang berwarna hitam, terlihat ada 2 orang penjaga gerbang, dan 2 orang penjaga pintu utama rumah. Azzuri kembali mempercepat laju mobilnya dan berhenti tepat di depan teras.


Azzuri langsung melepaskan seatbelt miliknya dan Aulia. Lalu Azzuri menggendong Aulia masuk ke dalam rumah.


“Selamat datang tuan muda,” sambut 2 orang pelayan berdiri di tengah-tengah ruang tamu.


“Cepat kalian buat sup atau masakan yang segar buat wanita ku,” tegas Azzuri memberi perintah.


“Baik tuan,” sahut pelayan.


Azzuri kembali mempercepat langkah kakinya naik ke anak tangga.


“Panas sekali, aku tidak tahan,” rengek Aulia berulang kali.


“Sabar ya Aulia. Aku akan membawa kamu berendam di air yang dingin, dan aku berharap penawar ini bisa menurunkan kadar obatnya,” sahut Azzuri.


Langkah kaki Azzuri terhenti di depan pintu kamar, Azzuri membuka pintu dan berjalan masuk melewati ruang kamar, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Perlahan Azzuri meletakkan tubuh Aulia di dalam bak mandi, dan menghidupkan kran.


Ssruutt!!!!


Setelah air bak mandi penuh, Azzuri memberikan sedikit rempah di dalam air bak mandi, dan terkahir dengan susu.


“Aku tidak tahu obat apa yang harus aku berikan kepada kamu. Walaupun ada satu obat yang mujarab untuk mengurangi efek obat tersebut. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu kepada kamu. Aku harap dengan merendam tubuh kamu di sini, kamu bisa segera….”


Ucap Azzuri terhenti saat Aulia menarik tubuh Azzuri ke dalam bak mandi.


Byuurr!!!


“A-apaan ini Aulia?” tanya Azzuri lembut, tangan kanan meraup wajah basahnya.


“Be-berikan aku penawarnya,” pinta Aulia.


“Tidak ada. Aku tidak bisa memberikan penawar yang sesungguhnya,” sahut Azzuri.


Tidak ingin melakukan hal lebih jauh lagi kepada Aulia. Azzuri perlahan berdiri. Namun, Aulia kembali menarik tangan Azzuri.


Byur!!


Azzuri kembali jatuh ke dalam bak mandi.


Merasa tubuh tidak bisa dikendalikan lagi. Aulia langsung duduk di pangkuan Azzuri. Aulia juga langsung mengulum bibir Azzuri dengan lembut. Terbuat dengan perbuatan Aulia. Azzuri pun membalasnya.


Azzuri melepaskan ciumannya, jempol tangan mengusap bibir bagian bawah Aulia, “Aulia, jika kamu memaksa ku seperti ini. Maka aku akan melakukannya, dan aku janji akan bertanggung jawab setelah ini,” ucap Azzuri.


Azzuri kembali mengulum bibir Aulia, dan berakhir dengan menyatukan diri mereka.


...Bersambung...