Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 108. Memeluk dalam Mimpi


Kring!!!kring!!!


Alarm terus berbunyi. Namun, Aulia masih terus tertidur lelap memeluk guling. Dan masih terhanyut di alam mimpi indah bertemu dengan Andra.


“Andra…aku sangat mencintai kamu. Kenapa kamu tega meninggalkan aku sendirian di atas dunia ini. Kamu sungguh jahat Andra.”


Aulia terus menyebut nama mendiang Andra di dalam mimpinya. Kedua tangan memeluk erat guling, dengan mulut memancung seperti ikan koi.


“Andra, cium aku dong...mmuuu….”


Khayalan mimpi Aulia harus terhenti saat Venus masuk ke dalam kamar, dan membangunkan Aulia.


“Nona muda bangun lah dari mimpi indah Anda, dan terimalah kenyataan jika tuan Andra sudah meninggal dunia. Sekarang nona muda harus bangun dan ingat hari ini kita sudah terlambat untuk pergi rapat bersama dua Investor spesial,” ucap Venus berbisik di daun telinga Aulia.


Aulia spontan membuka kedua bola matanya, “Apa! Kita sudah terlambat. Kenapa kamu tidak membangunkan aku dari tadi!”


"Saya sudah seribu kali membangunkan nona muda. Tapi nona muda masih terus bergumam memanggil nama 'Andra, aku mencintai kamu'. Itulah yang selalu nona muda katakan," sahut Venus jujur.


"Alasan!" ucap Aulia menahan malu.


Kedua kaki Aulia langsung melompat dari ranjang. Tanpa pikir panjang Aulia berlari mendekati lemari pakaian, dan langsung memakai baju formal untuk pergi rapat.


Melihat Aulia spontan membuka baju piyama dan pakaian lain di depan Venus. Venus langsung berbalik badan, dan berkata, “Saya tahu di Negara ini suhunya sangat dingin. Tapi alangkah baiknya nona muda harus mandi terlebih dahulu agar tubuh nona muda segar saat melakukan rapat. Dan jangan lupa gosok gigi agar nafas nona muda tetap segar."


“Alah…kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Aku jadi harus kembali membuka baju ini!” sahut Aulia panik.


Aulia kembali membuka bajunya, kedua kakinya pun kini berlari menuju kamar mandi.


Venus menggeleng, “Semenjak kepergian tuan Andra. Nona muda kembali menjadi dirinya sendiri, ceroboh!” gumam Venus.


Melihat baju Aulia berserakan di atas lantai, Venus memungut dan melipat pakaian bersih Aulia. Lalu Venus mengambil baju bagus lainnya untuk dipakai Aulia, dan meletakkannya dengan rapih di pinggiran ranjang. Melihat kamar Aulia sangat berantakan, Venus juga menyempatkan dirinya untuk merapihkan kamar Aulia. Hanya dalam waktu 5 menit di dalam sentuhan Venus, kamar Aulia kembali bersih.


Venus menepuk kedua telapak tangannya seperti membersihkan debu, “Akhirnya selesai juga,” ucap Venus melihat kamar Aulia sudah di tata rapih olehnya.


10 menit kemudian Aulia berlari keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah, dan tubuh belum di keringkan dengan benar. Melihat baju sudah tersedia di tepian ranjang, Aulia langsung menghentikan langkah kakinya di pinggir ranjang.


“Venus, terimakasih sudah menyiapkan pakaianku,” ucap Aulia.


“Kalau gitu aku permisi keluar,” sahut Venus.


“Iya, tunggu aku di dalam mobil,” ucap Aulia.


“Baik.”


Melihat Aulia akan memakai baju, Venus langsung melangkah besar meninggalkan kamar Aulia. Kedua matanya terus terpejam seolah dirinya tidak ingin melihat apa pun dari tubuh Aulia. Sesampainya di luar pintu, Venus terus menarik nafas lega.


“Untung saja aku sudah terbiasa melihat nona muda ceroboh seperti ini. Dan untung saja aku masih memiliki akal waras jika nona muda kini sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, dan tidak bernafsu saat melihat tubuh nona muda. Melihat nona muda kesulitan di saat dirinya sedang sendiri seperti ini. Aku jadi berharap nona muda akan menemukan sosok pengganti mendiang tuan Andra,” gumam Venus.


Venus pun kini membawa kedua kakinya melangkah meninggalkan pintu kamar Aulia. Baru saja kaki kanan hendak melangkah menuruni anak tangga, terdengar suara pintu kamar Aulia terbuka. Venus spontan melirik ke arah pintu, kedua mata Venus membulat sempurna saat melihat rambut Aulia belum di tata dengan rapih, tapi Aulia terus berlari seperti angin melewati nya.


“Venus!!!! Kita sudah tidak ada waktu lagi, aku harus segera sampai sebelum mereka yang menungguku kecewa!!!” teriak Aulia.


Melihat Aulia berlari di anak tangga, Venus ikutan berlari, “Nona muda jangan berlari seperti itu. Nanti nona muda ja….”


Bam!


Baru saja ingin diperingkat Venus jika berlari saat menuruni anak tangga itu sangat berbahaya, kini Aulia sudah jatuh dengan posisi bokong mendarat terlebih dahulu.


“Nona muda, ‘kan saya sudah bilang jangan berlari. Kenapa sih, nona muda tidak mau dengar!” omel Venus.


Venus menggeleng, “Dasar bocah,” gumam Venus.


“Apa kamu bilang?” tanya Aulia.


“Tidak ada. Saya baru ingat ada seorang gadis di kampung saya dulu. Umurnya sudah tua, tapi sifatnya masih seperti anak-anak,” sahut Venus.


Tidak ingin membuang waktu lama-lama, Venus langsung menggendong Aulia, dan membawa Aulia menunju mobil sudah terparkir tepat lurus dengan teras rumah.


“Venus terimakasih sudah menjaga ku, dan setia berdiri di sampingku. Kamu memang orang terbaikku,” puji Aulia.


“Sama-sama,” sahut Venus singkat.


Langkah kaki Venus terhenti di samping mobil, melihat Venus susah membuka pintu penumpang bagian belakang. Aulia berinisiatif membuka pintunya.


“Sudah aku bantu,” ucap Aulia.


“Terimakasih nona muda,” sahut Venus.


Venus pun meletakkan perlahan Aulia di kursi penumpang bagian belakang, lalu memasang seatbelt agar Aulia aman sepanjang perjalanan. Setelah keamanan untuk Aulia sudah terjamin, Venus masuk ke dalam, lalu menjalankan mobil menuju gedung rapat.


Tidak sampai 1 jam, Mobil Aulia kini sudah sampai di parkiran gedung.


“Nona muda, kita sudah sampai,” ucap Venus.


“Venus, sepertinya pergelangan kaki kiri ku masih sakit. Apa kamu bisa menggendong aku ke dalam?” tanya Aulia sopan.


“Baik nona muda,” sahut Venus.


Venus pun segera turun, membuka pintu mobil Aulia, lalu menggendong Aulia.


Terlihat tumpukan dokumen buat rapat diletakkan di atas pangkuan Aulia, sedangkan Venus melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menelusuri koridor menuju ruang gedung.


“Apa aku berat?” tanya Aulia.


“Tidak sama sekali,” sahut Venus singkat.


Kini langkah kaki Venus sudah sampai di depan pintu ruang rapat. Venus dan Aulia menarik nafas panjang, berharap semuanya aman-aman saja dan Investor juga tidak marah karena keterlambatan Aulia.


“Venus biarkan aku turun,” pinta Aulia.


“Tidak perlu, biarkan saya membawa nona muda sampai masuk dan duduk dengan nyaman di dalam,” sahut Venus.


Aulia pun nurut, kini langkah kaki Venus sudah masuk ke dalam ruang rapat. Sesampainya di ruang rapat, kedua mata Aulia membulat sempurna saat melihat kedua Investor spesial untuk menyambut pementasan tersebut adalah tuan muda Alexdian dan Azzuri.


Aulia langsung memutar tatapan sengitnya ke Venus, “Kenapa mereka berdua bisa di sini?!” tanya Aulia meninggikan nada suaranya.


Venus tidak menjawab apa pun, melihat Aulia sangat marah. Venus dengan cepat berlari mendekati kursi besar, dan menaruh Aulia di kursi tersebut.


“Maafkan saya nona muda. Saya juga tidak tahu, soalnya mereka berdua memakai nama palsu untuk mengelabuhi saya,” sahut Venus.


Tuan muda Alexdian, dan Azzuri hanya mengulas senyum tipis, tangan kanan melambai.


“Hai anak masa depanku!” sapa tuan muda Alexdian.


“Pagi janda ku,” sapa Azzuri.


...Bersambung...