
Di tengah-tengah meriahnya pesta ada tamu tak di undang berjalan masuk melewati para tamu. Tamu itu juga melewati tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok.
Aulia dan Andra membulatkan kedua bola matanya saat melihat tamu undangan tidak di undang berjalan masuk dengan santainya.
"Pa...itu... bagaimana?" tanya Marsya panik melihat Azzuri terus berjalan dengan santai menuju pentas pelaminan.
Tuan Agung mengelus bahu kiri Marsya, "Mama tenang saja. Hal buruk tidak akan terjadi kepada Aulia dan juga Andra," ucap tuan Agung tenang.
"Papa kenapa sangat seyakin itu?" tanya Marsya penasaran.
"Jika seorang pria dewasa benar-benar menyukai seorang wanita. Dia pasti tidak akan berbuat hal buruk untuk mempermalukan wanitanya. Dia juga tidak akan mengganggu momen spesial antara Andra dan juga Aulia," ucap tuan Agung santai.
"Azzuri," ucap Aulia membulatkan kedua bola matanya.
"Apa kamu mengundangnya?" tanya Andra sedikit kecewa.
Aulia melambai, "Ti-tidak. Mana mungkin aku mengundangnya. Aku juga sudah putus hal hubungan apa pun," ucap Aulia panik karena Andra sepertinya menuduh Aulia.
"Papa yakin?" tanya Marsya menyakinkan ucapan tuan Agung.
"Iya," tangan kanan membelai puncak Marsya.
Tuan Agung, Tarjok, dan Venus, hanya bisa memantau dari bawah. Dan juga sudah menyiapkan ancang-ancang jika hal buruk menimpa Andra dan Aulia.
Azzuri terus berjalan dengan santainya. Kedua kakinya kini naik ke atas pentas pelaminan. Senyum tipis terpancar dari wajah tampan Azzuri saat melirik ke Aulia. Azzuri menghentikan langkah kakinya tepat di depan Andra. Tangan kanan Azzuri mengulur ke depan, "Mohon terima jabat tanganku," pinta Azzuri sopan.
Andra menerima jabat tangan Azzuri, "Terimakasih sudah datang ke pesta pernikahan kami," ucap Andra dengan terpaksa.
Azzuri menarik kembali jabat tangannya, dan membersihkan telapak tangannya di jas miliknya.
"Apa tanganku sekotor itu?" tanya Andra sedikit tersinggung.
"Tidak kotor, cuman aku merasa tangan itu licin," jari telunjuk mengarah ke tangan Andra, "Banyak goreng Bebek kan?"
"Sebagai pengusaha Warung Bebek itu sudah semestinya terjadi," sahut Andra datar.
"Nah itu, aku tidak mau ketularan bau minyak bekas goreng Bebek," ucap Azzuri kembali menyindir.
Aulia mulai emosi saat Andra terus di sindir. Aulia mendekati Azzuri, tangan kiri menggenggam erat jas bagian depan, "Banyak bacot! pergi nggak dari pesta ku. Seharusnya kamu bercermin sebelum mengatai Suamiku. Kamu sadar diri tidak! kenapa wanita sepertiku tidak menyukai kamu?" ucap Aulia menekan nada suaranya. Kedua bola mata menatap tajam Azzuri. Aulia memutar tubuh Azzuri, "Silahkan pergi. Jika kamu masih terus di sini, maka kamu akan merusak kebahagiaan ku," sambung Aulia mengusir Azzuri dengan sopan.
"Baiklah, demi kebahagiaan kamu akan pergi. Tapi aku ingin bilang, selagi kamu masih berada di Indonesia. Aku akan tetap mengunjungi kamu," Azzuri menyipitkan matanya ke Andra, "Aku belum mau menyerah dengan hal ini. Jika aku tidak mendapatkan Aulia sekarang, maka aku akan mendapatkan Aulia di kemudian harinya," sambung Azzuri seperti memberi kode kepada Andra kalau dirinya bakalan merebut Aulia secara paksa dari Andra suatu hari nanti.
"Aku tunggu!" tegas Andra ikut memberi senyum tipis di wajah tampannya.
Azzuri pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuruni panggung pelaminan. Senyum terus terpancar saat kedua kakinya melintasi para tamu undangan. Namun, kedua kaki Azzuri terhenti sejenak di depan tuan Agung dan Marsya, "Untuk kali ini aku mengalah. Tapi untuk yang akan datang. Aku akan terus berjuang demi mendapatkan Aulia."
"Tentu saja. Kamu masih bisa terus berjuang secara sehat untuk mendapatkan Aulia," sahut tuan Agung tanpa ragu.
Azzuri membungkukkan sedikit tubuhnya, "Kalau gitu aku permisi pamit pulang dulu. Hadiah buat Aulia akan segera datang," ucap Azzuri berpamitan sopan. Tak lupa Azzuri menyipitkan salah satu matanya ke Tarjok. Setelah itu Azzuri kembali melangkah meninggalkan kediaman rumah tuan Agung.
"Apa maksud dari ucapan tuan?" tanya Tarjok sedikit kecewa.
"Apa aku berkata yang salah?" tanya tuan Agung kembali.
"Tentu. Bukannya Aulia sudah resmi menjadi Istri Andra. Tapi kenapa Anda mengizinkan Azzuri untuk merebut Aulia dari Andra?" tanya Tarjok menahan kegelisahan.
"Kalau aku berbuat kasar kepadanya. Apa Azzuri akan berhenti mengejar Aulia? justru tidak. Kamu pasti tahu siapa Azzuri Mahendra. Dan aku juga tidak ingin banyak-banyak membahas dirinya lagi," tuan Agung memukul pelan punggung Tarjok, "Sudah jangan cemas. Azzuri tidak mungkin melakukan hal itu kepada Aulia."
Ningrum dan Marsya menarik nafas sejak. Wajah tegang kembali ceria.
"Besan, mari kita sapa tamu di sana," tunjuk Marsya ke sisi kiri.
"Mari," sahut Ningrum menerima ajakan Marsya.
"Kita juga mari menyapa yang di sana," ajak tuan Agung menuju sisi kanan.
"Hem" sahut Tarjok ikut melangkah.
Melihat Marsya, Ningrum, tuan Agung, dan Tarjok pergi. Tinggallah Venus seorang dirinya celingak-celinguk melihat semua orang memiliki pasangan, sedangkan dirinya hanya seorang diri.
"Apa kamu butuh teman?" tanya seorang wanita dari belakang.
Venus melirik perlahan, kedua matanya membulat sempurna, "Ha...hutan rimba!" ucap Venus histeris melihat Maya menyapanya.
Maya membungkam mulut Venus, bola mata panik melihat ke para tamu, "Jangan kuat-kuat. Aku sudah mencukur semuanya kok. Aku sadar kalau aku dulu jorok," ucap Maya berbisik malu.
"Kalau gitu lepaskan tanganmu yang bau terasi dari mulutku."
"Iya-ia, sudah aku lepaskan," ucap Maya melepaskan tangannya.
"Kamu kenapa bisa datang ke sini?" tanya Venus penasaran, karena Venus tahu jika Maya mencintai Andra. Namun, cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan.
"Karena aku ingin melihat senyum Andra terkahir kali yang hanya terukir ketika bersama dengan Aulia," sahut Maya melirik ke Andra.
"Emang sama kamu, Andra nggak pernah tersenyum?" tanya Venus penasaran.
"Boro-boro, orang jatuh di depan matanya saja Andra nggak mau tertawa. Apa lagi sama aku. Wanita cantik, kembang desanya di sini!" sahut Maya penuh keyakinan.
"Kalau kamu kembang Desa, lantas wanita secantik nona muda kembang apa?"
Maya menaikan kedua bahunya, "Nggak tahu. Aulia kan bekicot," ucap Maya dengan santai.
"Kok bekicot?"
"Karena dia nggak pernah keluar rumah. Kalau pun keluar rumah pasti ditemani Andra dulu. Berarti dia sama kayak bekicot kan?!"
Venus menggeleng, "Wanita aneh," gumam Venus pelan.
Maya menyikut perut samping Venus, "Kamu kenapa sendirian di sini?"
"Kamu macam nggak tahu kerjaan ku saja," sahut Venus santai.
"Iya jug ya," ucap Maya mengangguk.
Maya berdiri di hadapan Venus, kedua jari-jemari membuat persegi empat, "Kalau dilihat dari kotak ini, wajah kamu nggak nya buruk-buruk amat. Malah kamu terlihat lebih tampan dari Andra. Kenapa Aulia tidak jatuh cinta saja dengan kamu?"
"Sadar diri seperti nya itu lebih penting," ucap Venus.
"Oh ya, kita makan yuk. Aku sangat lapar," ajak Maya menuju meja hidangan.
"Baiklah, kalau gitu aku ikut," ucap Venus ikut melangkah.
...Bersambung ...