
Setelah memberikan saran, Visi dan Misi kepada 9 karyawan mendiang Andra dan Aulia. Ponsel milik tuan Agung berdering.
Drtt!!!drttt!!!
Tuan Agung mengambil benda pipih dari dalam saku baju kemejanya, terlihat nama panggil nomor dari luar. Tuan Agung segera berdiri, “Permisi, aku angkat dulu panggilan teleponnya,” pamit tuan Agung, lalu beranjak meninggalkan kursinya.
“Venus, Influender itu apa?” tanya Dodo dengan penyebutan salah.
Venus meraup wajahnya, “Influencer, bukan influender,” jelas Venus membenarkan kalimat Dodo.
“He he he, maaf. Namanya juga orang kampung. Aku saja bisa memakai bahasa Inggris selama aku bekerja di sini. Belajar dikit-dikit dari Willy, dan yang lainnya. Terus aku juga sudah membeli kamu dengan berbagai macam bahasa di dalamnya,” ucap Dodo memberitahu Venus.
“Selagi masih mau belajar bagus. Daripada bodoh tapi sok tahu. Karena saya masih ingin mengantar tuan Agung kembali pulang. Aku titip Kafe dulu, entar aku balik lagi,” Venus berdiri, bola matanya memandang Willy, “Buat kamu, Willy. Ingat jangan genit dengan pelanggan,” pesan Venus lalu melangkah pergi, keluar Kafe dan berdiri di samping tuan Agung.
Wajah Willy memerah saat mendengar kalimat bernada cemburu dari Venus. Willy menepuk-tepuk kedua pipinya, “Apakah aku sedang bermimpi?” gumam Willy.
“Iya, mimpi kamu. Sudah cepat bekerja. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu kita di dapur. Dan 5 menit lagi Kafe akan segera buka,” sambung Joko berbisik dari belakang, membuat Willy merinding.
“Ah, syirik saja manusia normal satu itu,” gerutu Willy kesal. Kedua kaki Willy pun melangkah masuk ke dalam dapur.
Di luar Kafe, tuan Agung baru saja selesai menerima telepon langsung memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku baju kemejanya. Tuan Agung mengalihkan pandangannya ke Venus, “Venus, sepertinya aku tidak perlu di antar oleh kamu. Soalnya aku sudah ada janji dengan orang lain. Jika kamu ingin kembali, kembali duluan saja. Aku nanti bisa pulang naik taksi,” perintah tuan Agung.
“Tuan, apakah Anda yakin ingin berpergian sendirian?” tanya Venus mengkuatirkan tuan Agung.
“Iya, jika kamu pulang dan Marsya bertanya kepada kamu aku dimana? Tolong katakan aku sedang bertemu dengan rekan kerja ku,” ucap tuan Agung.
“Baik tuan,” sahut Venus tidak ingin banyak bertanya.
Saat melihat taksi melintas di sebrang jalan, tuan Agung langsung mengulurkan tangannya, “Taksi,” panggil tuan Agung sedikit berteriak.
Mobil taksi pun segera berhenti, dan berbelok ke arah tuan Agung.
“Kenapa tidak saya hantarkan saja tuan?” tanya Venus.
“Tidak perlu, lebih baik kamu menemani Aulia, dan Marsya di rumah. Jika aku sudah pulang, kamu boleh kembali ke Kafe,” jelas tuan Agung.
Mobil taksi terhenti di depan tuan Agung. Keluar seorang pria memakai celana krem, baju kaos berkeras berwarna-warni, wajah di tutupi masker hitam dan kaca mata. Pria tersebut membuka pintu penumpang belakang.
Tuan Agung berjalan masuk ke dalam, lalu pria memakai masker masuk, dan melajukan mobilnya lurus ke depan.
“Kenapa sepertinya postur tubuh pria tersebut terlihat familiar. Tapi siapa ya? dan kenapa tuan Agung tidak mau saya antar. Tumben sekali!” gumam Venus bertanya-tanya.
Karena sudah diberi pesan untuk menjaga Marsya, dan Aulia. Venus segera masuk ke dalam mobil, menghidupkan mobil menuju kediaman rumah Aulia tak jauh dari Kafe. Sepanjang perjalanan hati Venus bertanya-tanya dengan sikap perubahan tuan Agung belakangan ini sangat jauh berbeda. Penuh rahasia, dan asal menerima telepon selalu sembunyi-sembunyi. Bukan itu saja, asal mendapat pesan baru, atau panggilan dari nomor asing, tuan Agung selalu menghapus pesan, dan panggilan telepon tersebut. Apakah tuan Agung berselingkuh?
Mobil Venus kini sudah memasuki gerbang rumah, dan terparkir rapih di garasi mobil. Venus keluar dari dalam mobil, keluar kaki terus melangkah memasuki rumah.
“Venus, tuan Agung kemana?” tanya Marsya menyambut kedatangan Venus dari ruang tamu.
“Kok tumben tidak mau di temani?” tanya Marsya mulai menaruh curiga.
Venus menundukkan sedikit kepalanya, “Karena tuan Agung merasa kuatir kalau nona besar, dan nona muda Aulia di tinggal sendiri,” jelas Venus.
Marsya melirik ke Aulia, “Lihat tuh Papa kamu! Dari dulu suka cemas berlebihan,” ucap Marsya memberitahu Aulia.
“Papa ‘kan memang selalu seperti itu,” Aulia menatap Venus, “Venus, tunggu aku di ruang kerja,” perintah Aulia.
“Baik,” sahut Venus patuh. Kedua kaki Venus melangkah terlebih dahulu menuju ruang kerja.
Aulia berdiri, “Ma, aku ke ruang kerja sebentar ya. Soalnya ada pekerjaan yang ingin aku bahas dengan Venus,” pamit Aulia.
“Iya, kamu jangan terlalu memforsir tenaga kamu. Ingat kamu sedang hamil muda,” ucap Marsya mengkuatirkan kehamilan Aulia karena masih terlalu muda.
“Iya Ma,” Aulia pun melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kerja. Sesampainya di ruang kerja Aulia mengunci pintu dari dalam, lalu mendekati Venus.
“Kenapa wajah nona muda terlihat aneh?” tanya Venus melihat wajah suram.
“Apa yang sebenarnya terjadi. Tidak biasanya Papa seperti ini?” tanya Aulia curiga dengan penjelasan Venus.
Sejenak Venus menundukkan wajah gusarnya. Tidak ingin di anggap sebagai pembohong. Venus menceritakan semua ucapan, dan pria memakai masker hitam kepada Aulia.
“Apa tuan Agung berselingkuh?” tanya Venus penasaran.
“Tidak mungkin, aku sangat yakin jika Papa bukan tipe pria tukang selingkuh. Aku rasa ada yang sedang Papa sembunyikan dari kita semua. Tapi, siapa pria yang menjemput Papa?!” jelas Aulia menepis tuduhan Venus.
“Dari postur tubuhnya dan gaya rambutnya saya pernah lihat. Tapi, saya lupa siapa,” ucap Venus karena tidak bisa mencocokan bentuk tubuh dengan wajah di dalam ingatannya.
“Kalau gitu, aku minta kamu tetap biasa saja saat bersama Mama, dan Papa. Biarkan waktu yang menjawab semua ini.”
“Baik. Nona muda, sepertinya saya mendapat e-mail dari seseorang,” ucap Venus. Tangan mengambil ponsel miliknya, membuka e-mail, lalu menunjukkan isi pesan e-mail dengan nama pengirim, ‘MEOW-MEOW’.
Aulia mengambil ponsel Venus, lalu membaca isi e-mail tersebut, “Meow..meow…meow!” bola mata Aulia memandang heran Venus, “Apa maksudnya Venus?” tanya Aulia tidak mengerti bahasa kucing. Aulia memberikan ponsel Venus.
Venus menyimpan ponsel miliknya, kedua bahu naik secara bersamaan, “Maaf nona muda. Andai saya terlahir dari induk kucing, maka saya akan mengerti bahasanya,” sahut Venus jujur.
Aulia menghela nafas panjang, lalu menggeleng, “Sama,” ucap Aulia lesu.
“Oh ya nona muda,” panggil Venus mengangetkan Aulia.
“Apa?!” sahut Aulia mengelus dadanya.
“He he, nona muda katanya akan ada seseorang yang ingin menjadi Investor Anda. Katanya orang ini adalah Presdir terhebat, dan seseorang yang memiliki tingkat kekayaan yang cukup bisa di bilang di luar jangkauan,” jelas Venus, tangan menunjukkan bukti e-mail dari pengirim 'AJ'.
...Bersambung...