Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 35. Apa kamu yakin?


"Pemintaan nona muda di terima. Aku akan siap menjadi kekasih Anda,” sambung Azzuri sudah berdiri di sisi kiri Aulia.


Aulia berdiri menghadap Azzuri, kedua kaki Aulia berjinjit untuk menatap dekat wajah serius Azzuri, “Apa kamu beneran bersedia ingin menjadi kekasihku?”


Venus semakin membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka jika Aulia akan bertindak sejauh ini. Ucapan sudah terlanjur di lontarkan dan tidak bisa di tarik lagi. Jalan satu-satunya hanya mengirimkan kabar kepada tuan Agung.


‘Apa yang sedang nona muda pikirkan. Kenapa dia bisa sebodoh ini, jika sudah terjebak dengan tuan Azzuri Mahendra, maka akan sulit untuk melepaskan diri dari genggamannya. Nona muda jadi membuat semua ini begitu sangat sulit.’


Venus mendekati Aulia, “Nona muda,” panggil Venus dengan wajah cemas.


“Aku sedang berbicara dengan pacarku. Kamu jangan bising dulu,” tangan kanan melambai, “Kamu masuk dulu sana, gih!” ucap Aulia mengusir Venus masuk duluan ke Apartemen.


“Tapi nona…”


Aulia membuka pintu Apartemen dan mendorong tubuh Venus masuk ke dalam.


“Kenapa kamu begitu sangat antusias kepadaku?” tanya Azzuri datar. Kedua kaki perlahan berjalan maju ke depan, membuat tubuh Aulia menempel ke dinding. Tangan Azzuri dengan ramah memegang dagu Aulia, kedua mata liar menatap sekeliling wajah cantik tersebut, “Apa kamu tidak menyesali perkataan kamu setelah menyatakan cinta kepadaku?”


Tanpa ragu Aulia menjawab, “Tentu. Kenapa aku harus ragu dengan perkataan ku. Nanti Anda yang meragukan diriku?” tanya Aulia kembali.


Azzuri semakin mendekatkan wajahnya, jari jempolnya kini dengan lembut memegang bibir bagian bawah Aulia, “Kenapa aku harus ragu. Kamu harus ingat! Jika kamu sudah terikat bersamaku, maka kamu tidak akan mudah lepas begitu saja dari genggamanku. Sebelum melangkah terlalu jauh sebaiknya kamu pikirkan matang-matang mengenai ucapan kamu, nona muda!”


Bukannya takut, Aulia malah seperti menantang Azzuri. Aulia melangkahkan kaki kanannya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Azzuri, kedua kaki menjinjit. Tatapan serius Aulia pancarkan menatap wajah datar Azzuri, “Tentu saja. Apa harus ada bukti nyata yang harus aku tunjukkan kepada Anda?” tanya Aulia untuk menyakinkan Azzuri.


Azzuri tersenyum manis, kepala ia tundukkan dengan kepala menggeleng kecil, “Ck” Azzuri berbalik badan, bibirnya tertawa renyah, “Ha ha ha”


“Apa ada yang lucu?” tanya Aulia memutar kedua kakinya berdiri menghadap Azzuri.


Azzuri menghentikan tawanya, menarik nafas dalam-dalam. Setelah cukup tenang dan menetralkan wajahnya kembali ke mode tampan, Azzuri menatap wajah Aulia, “Kamu sangat menarik,” ucap Azzuri serius.


“Daripada Anda, pria predator!” sahut Aulia sedikit menekan nada suaranya. Karena sudah tidak ada urusan lagi dengan Azzuri, Aulia segera melangkah dengan wajah malasnya menuju pintu Apartemen. Aulia membuka pintu, kini tubuhnya sudah separuh masuk ke dalam pintu. Aulia membungkukkan sedikit tubuhnya menghadap Azzuri dan Jack, “Aku sangat lelah. Sebaiknya Anda pulang saja, permisi!” setelah mengucapkan salam Aulia langsung menutup pintu Apartemen miliknya.


Melihat Aulia sudah masuk ke dalam Apartemen wajah Azzuri mendadak berubah ke mode serius. Azzuri menatap serius Jack, “Kamu selidiki apa rencana gadis ini untukku. Aku sangat yakin jika dirinya sedang merencanakan sesuatu dengan cara mendekati diriku!” ucap Azzuri tegas.


“Baik tuan muda,” sahut Jack patuh.


“Mari kita tinggalkan tempat ini sebelum para wartawan mengincar ku!” tegas Azzuri melangkahkan kedua kakinya dari Apartemen milik Aulia.


.


.


✨Di dalam Apartemen✨


Venus berjalan mondar-mandir di depan Tv sedang menyala. Bibirnya terus berbicara tanpa henti kepada Aulia. Sedangkan Aulia menikmati cemilan ringan sambil menatap Venus menghalangi siaran tontonan nya.


Aulia meletakkan cemilan kripik kentangnya. Tangan kanan mengambil benda pipih miliknya, dan menekan nomor tuan Agung.


“Aku yang akan berbicara kepada Papa!” tegas Aulia. Aulia menghidupkan lespeaker ponsel dan meletakkan ponsel miliknya di pinggiran meja.


Tut!! Tut!!!


Panggilan telpon masuk.


[ “Halo, assalamualaikum. Ada apa sayang?” ] tanya tuan Agun dari sebrang sana.


[ “Wa’alaikumsalam. Aku ingin mengatakan hal penting dengan Papa” ]


[ “Katakan saja, Papa akan siap mendengarkannya” ]


[ “Sebelumnya aku minta maaf kepada Papa dan juga Mama. Begitu juga dengan Andra” ]


[ “Tunggu dulu, ada apa ini?” ] tanya tuan Agung memutus ucapan Aulia.


[ “Aku baru saja menyatakan cinta kepada Azzuri Mahendra. Bukan aku melupakan Andra, atau aku ingin menduakan Andra di sini, Pa. Aku melakukan semua ini karena aku ingin mencaritahu apa niat Azzuri terus mendekatiku. Bukan itu saja, tadi Venus juga mendapat ancaman dari seseorang. Bukannya hal ini sangat konyol. Kenapa sekarang semua musuh mulai menampakkan batang hidungnya. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menuntaskan semua kasus ini!” ]


[ “Maafkan Papa. Mungkin karena Papa kamu terlalu sukses di dalam bidang bisnis ini. Bukannya kehidupan nyata seorang pengusaha seperti itu nak. Semakin terkenal namanya, dan usaha yang ia miliki. Maka akan sangat banyak saingan dan musuh yang ingin menusuknya dari belakang. Begitulah dunia bisnis. Bukan hanya seorang pengusaha besar saja ingin saling menjatuhkan, pengusaha dan pedagang kecil saja ada yang seperti itu juga. Bahkan mereka lebih sadis untuk menjatuhkan saingannya” ]


[ “Iya Pa, Aulia mengerti. Tapi Papa menyetujui rencana Aulia ‘kan?” ]


[ “Kamu sudah dewasa, kamu pasti sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar. Papa harap keputusan kamu benar. Kamu tidak perlu membicarakan hal ini kepada Andra. Papa takut dirinya akan terkejut, dan tidak akan mengerti dengan tujuan kamu. Demi menuju tekadnya untuk menjadi pria pengusaha warung Bebek terkenal di masa depan. Papa akan berpura-pura tidak mendengar apa pun yang kamu lakukan di sana, kamu harus jaga diri baik-baik karena kamu sedang bermain dengan api yang sedang marak. Hanya satu pesan Papa, selalu beri kabar apa pun itu!” ]


[ “Terimakasih, Pa. Aku sangat sayang kalian semua” ]


[ “Papa dan Mama juga sagat menyayangi kamu di sini. Papa mau pergi ke luar kota, Papa tutup teleponnya. Assalamualaikum” ]


[ “Wa’alaikumsallam” ]


Aulia menutup panggilan telponnya.


Aulia berdiri, menatap wajah Venus dengan serius, “Apa kamu sudah mengecek file yang baru masuk?” tanya Aulia sedikit tegas.


“Sudah nona. Hari ini file yang masuk adalah mengenai data keuangan,” sahut Venus. Kedua mata mengikuti arah langkah Aulia menuju ruang kerja miliknya.


Aulia menghentikan langkahnya, menoleh sedikit ke sisi kanan, “Mari bantu aku untuk memeriksanya,” ucap Aulia sedikit tegas.


“Baik,” sahut Venus patuh.


...Bersambung...