
💫💫PUKUL 07:30 PAGI💫💫
Aulia sedang berdiri di samping meja, tangan kanan memegang secangkir teh hangat, tangan kiri memegang laporan keuangan. Melihat data laporan keuangan hasil kerjaannya tadi malam sudah balance, Aulia segera meletakkan data tersebut di atas meja. Aulia menatap sekeliling ruang Tv terhubung dengan ruang makan, mencari Venus sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
Aulia berjalan sedikit mendekati ruang Tv, “Venus!! Aku sudah siap dan mari kita berangkat karena hari ini ada kelian wanita ingin berjumpa denganku,” panggil Aulia memanggil Venus tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“Hatcuih” Venus keluar dari balik sofa, hidung memerah, dan seluruh tubuh di tutupi selimut hangat. Kedua mata sayu menatap wajah Aulia, “Saya di sini nona muda,” sahut Venus, hidung mampet. Venus berdiri, “Mari saya hantarkan nona muda ke kantor,” ajak Venus melangkahkan kaki kanannya.
“STOP!” ucap Aulia menahan Venus hendak berjalan ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Venus, tangan kanan mengusap ingus melernya.
“Kenapa kamu bisa mendadak flu seperti ini?” tanya Aulia penasaran.
“Bukannya ini semua gara-gara ulah nona muda tadi malam!” sahut Venus mengingat kejadian tadi malam.
.
#POV Venus
Venus sedang membantu Aulia memindahkan data keuangan ke dalam Dokumen keuangan. Karena Aulia tadi sore belum makan sama sekali, dirinya mendadak lapar di tengah malam. Tidak ingin meninggalkan pekerjaannya, Aulia menyuruh Venus untuk membelikan dirinya sedikit cemilan dan beberapa es krim untuk menyegarkan pikirannya.
Venus dengan cepat mengerjakan perintah Aulia. Hanya dalam waktu 20 menit Venus kembali membawa semua menu makanan pesanan milik Aulia. Sesampainya di rumah, Aulia hanya memakan makanan saja. Sedangkan es krim dalam 1 kantung plastik, hanya satu es krim saja di makan Aulia. Sisa es krim lainnya Venus sendiri memakannya.
“Nona muda sungguh tega. Begitu banyaknya makanan enak, saya hanya di kasih satu. Itupun cuman pizza berukuran mini, sekali masuk mulut langsung mendarat ke lambung!” Venus menjinjing ke depan plastik berisi es krim, “Sedangkan aku harus menghabiskan semua es krim ini. Apa nona muda tidak kuatir jika saya nantinya akan jatuh sakit dan tidak bisa bersama dengan nona muda sampai beberapa hari ke depan?” tanya Venus dengan penuh permohonan.
Aulia menghentikan pekerjaannya, ia mengintip dari balik laptop. Senyum manis penuh kesenangan Aulia tampilkan buat Venus sedang duduk di sofa lurus dengan meja kerjanya, “Aku sangat yakin jika kamu sanggup memakan semua es krim itu. Sudah nikmati saja, aku kasihan sekali sama kamu karena kamu tidak pernah makan dan melihat yang manis-manis. Jangan di buang ya? soalnya aku sudah menghabiskan uang 1 juta buat beli makanan ini semua,” ucap Aulia sedikit bercanda.
“Hap” sambil menangis Venus memasukkan dua es krim sekaligus ke dalam mulutnya. Tatapan sendu menatap lurus ke meja Aulia, “Tapi saya hanya mendapat sedikit saja. Nona muda tidak adil,” keluh Venus kepada Aulia karena hanya mendapatkan makanan sedikit.
##POV SELESAI
.
Aulia menyatukan kedua telapak tangannya, “Maaf!” ucap Aulia tulus kepada Venus. Tangan kanan memukul pelan bahu kanan, “Sebaiknya kamu segera minum obat, biar aku pergi sendiri saja.”
“Kalau soal mengantar nona muda saya masih bisa,” Venus melipat selimutnya, “Mari saya antar,” ajak Venus, kedua kaki melangkah ke depan.
“Sudah kamu tidak perlu kuatir,” Aulia memutar tubuh Venus, mendorongnya kembali duduk. Aulia membuka selimut dan menyelimuti tubuh Venus, “Kamu cukup diam di sini. Aku akan segera kembali,” ucap Aulia. Kedua kaki berlari kecil mengambil Dokumen di atas meja makan, dan segera berlari menuju pintu dan keluar dari Apartemen.
“Nona muda…nona!” teriak Venus menatap kepergian Aulia sangat terburu-buru tanpa menoleh kembali kepadanya.
Aulia terus berlari cepat menulusuri koridor menuju lift.
Kring! Kring!
Dering ponsel milik Aulia berbunyi, Aulia menatap panggilan telpon dari perusahaannya sendiri. Sambil menunggu lift terbuka, Aulia segera mengangkat telpon.
[ “Halo…” ]
Ting!
Pintu lift terbuka.
Aulia segera menutup telponnya saat melihat seorang pria berjalan dengan bibir tersenyum kepadanya. Melihat pria itu uterus melangkah ke depan, Aulia harus membuat kedua kakinya berjalan mundur ke belakang. Namun pria itu semakin melangkahkan kedua kakinya ke depan.
Melihat Aulia terus mundur ke belakang, pria tersebut mengulurkan tangannya, dan menarik tubuh Aulia menempel ke tubuhnya. Pria tersebut kembali tersenyum, “Kenapa Anda sangat terburu-buru nona muda?” tanya pria tersebut.
Aulia mendorong bidang pria tersebut, “Lepaskan aku, Azzuri!”
“Mau ke mana dulu?” tanya Azzuri tidak melepaskan pelukannya.
Azzuri melepaskan pelukannya, tangan kanan menggenggam tangan kiri Aulia, “Mari aku antar,” ajak Azzuri berjalan masuk kembali ke dalam lift.
Karena sudah terlambat, Aulia hanya patuh dan diam bersama dengan Azzuri di dalam lift.
Ting!
Pintu lift terbuka.
“Terimakasih,” ucap Aulia kepada Azzuri, kedua kaki melangkah terlebih dahulu keluar dari lift.
“Sudah aku bilang, biar aku hantarkan,” tahan Azzuri menggenggam tangan kanan Aulia dari belakang.
“Tapi aku..”
“Jangan banyak bicara, ikut saja,” ucap Azzuri membawa Aulia melangkah pergi bersamanya menuju parkiran mobil di bawah tanah.
Sepanjang kaki melangkah menuju parkiran mobil terletak di bawah tanah, Aulia hanya bisa melirik Azzuri dari samping. Terlihat wajah tegas dan datar tersirat di wajah Azzuri. Sesampainya di parkiran mobil, Azzuri dengan lembut membuka pintu mobil buat Aulia.
Aulia pun masuk ke dalam mobil, memasang seatbelt miliknya sendiri. Aulia masih terus memandang Azzuri dengan seribu pertanyaan tersirat di otak kecilnya.
“Kamu tenang saja, nanti kita akan segera sampai dalam waktu 10 menit,” ucap Azzuri penuh keyakinan.
Aulia menaikkan alis kanannya, “Helikopter kali, sampai dengan cepat dan tepat waktu dalam 10 menit!” sahut Aulia mengejek Azzuri.
“Kamu lihat saja,” ucap Azzuri menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan nya meninggalkan parkiran bawah tanah Apartemen.
Brum! Brum
5 menit kemudian mobil di tumpangi Aulia dan Azzuri terus melaju menuju ke gedung kosong tak jauh dari Apartemen milik Aulia.
Azzuri membuka pintu mobil milik Aulia, “Cepat turun karena Helikopter pesanan nona muda sudah menunggu di atas gedung,” ucap Azzuri serius.
Aulia perlahan turun dari mobil, ia menengadah ke atas gedung. Benar saja, terlihat Helikopter sedang menunggu kedatangan Aulia. Aulia memandang wajah Azzuri dengan wajah malas. Tidak ingin banyak membuang waktu kedua kaki Aulia berlari cepat menuju Helikopter siap jalan. Dan meninggalkan Azzuri di samping mobil.
Jugjug!!!
Karena kekuatan angin dari baling-baling Helikopter hendak menerbangkan rok miliknya, Aulia berjalan sambil menahan baju dan roknya. Kedua kaki terus melangkah menuju Helikopter siap jalan.
Setelah semua alat pengaman terpasang di tubuh Aulia, Helikopter bergerak ke atas meninggalkan gedung menuju kantor milik Aulia.
Sesuai dengan ucapan Azzuri, Aulia kini sudah sampai ke landasan Helikopter di atas gedung miliknya dalam waktu kurang lebih 10 menit. Aulia segera turun, tanpa banyak berbicara Aulia kembali mengayunkan kedua kakinya berlari menuju ruang pertemuan miliknya.
tap! tap !
"Huoosh!! hoosh!!"
10 menit kemudian, Aulia sudah sampai di depan pintu ruang pertemuan dengan nafas terengah-engah. Tangan kanan membuka pintu, tubuh sedikit membungkuk, “Maaf kan keterlambatan saya, nona!” ucap Aulia penuh penyesalan.
“Kamu pikir hanya dengan sekali kata ‘Maaf’ akan menghapus semua rasa penyesalan kamu!” wanita cantik tersebut berdiri, kedua kaki melangkah mendekati Aulia masih berdiri di depan pintu. Wanita tersebut mendorong tubuh Aulia, membuat Aulia terjatuh ke belakang.
Bam!
“Auw” keluh Aulia merasa sakit pada bagian bokongnya.
Wanita tersebut melipat kedua tangannya di depan dada, dengan wajah sombong wanita itu berkata, “Rasakan itu! rasa sakit itu sebagai tanda kamu sudah membuang-buang waktu berhargaku hanya untuk menunggu kamu.”
...Bersambung...