Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 77. Istriku memang cantik


Malam ini Aulia, Andra, Tarjok, Ningrum, Marsya, dan tuan Agung sedang berkeliling menikmati kota Paris. Tadinya tuan Agung, Marsya, Ningrum dan Tarjok tidak ingin ikut bersama dengan kedua anaknya untuk jalan-jalan keliling kota Paris. Namun karena Aulia terus memaksa, para orang tua harus menurutinya dan ikut menemani mereka jalan-jalan.


Tuan Agung, Tarjok dan Andra sedang berdiri di pinggiran sungai, kedua bola mata mereka menatap lurus ke biasan bulan dan lampu di atas sungai serta kapal persiar terlihat berlayar. Sedangkan para Istri sedang sibuk berkeliling membeli makanan ringan buat mereka sendiri.


Mengingat Andra akan membuat usaha baru di Paris, tuan Agung kembali meyakinkan, “Andra, apa kamu serius akan membuka usaha baru di sini dengan jenis usaha yang belum pernah kamu jalani?” tanya tuan Agung memastikan.


“Serius Om. Aku serius dengan usaha yang akan aku rintis mulai dari nol di sini,” sahut Andra tegas.


“Baguslah kalau seperti itu nak. Papa pikir sebagai seorang Suami kamu akan egois dengan hal seperti ini kepada Aulia. Ternyata kamu mau mengalah demi bisa bersama dengan Istri kamu,” Tarjok memukul bahu Andra, “Papa sangat bangga memiliki putra seperti kamu. Papa sangat yakin suatu saat kamu pasti akan sukses di sini,” sambung Tarjok memberi pujian kepada Andra.


“Semua ini berkat Papa dan Mama Ningrum,” sahut Andra membanggakan kedua orang tuanya.


“Om juga bangga sama kamu. Kamu adalah pria yang selalu menepati janjinya. Kamu juga selalu sigap untuk Aulia,” sambung tuan Agung ikut memukul bahu bagian lainnya.


Andra menundukkan sedikit kepalanya, “Semua kesetian itu aku ikuti dari Om dan Papa. Jika aku bersikap seperti ini berarti aku berhasil mengikuti jejak kesetiaan kalian berdua,” ucap Andra.


Prok! Prok!


Terdengar suara tepuk tangan dari belakang.


Andra, tuan Agung, dan Tarjok langsung memalingkan tubuh mereka serentak.


“Azzuri,” panggil Aulia baru saja sampai bersama dengan Ningrum dan Marsya.


Mengetahui jika pria tampan ini adalah pria ingin merebut Aulia dari Andra. Ningrum langsung mempercepat langkah kakinya mendekati Azzuri. Bola mata tak suka memandang lekat wajah tampan Azzuri, “Oh, jadi kamu pria yang waktu datang ke pesta ulang tahun anakku?” tanya Ningrum meninggikan nada suaranya hingga semua pengunjung melihat mereka.


Tarjok mendekati Ningrum, “Sayang jangan seperti itu. Aku tahu kamu sangat kesal, tapi kita lagi di tempat umum. Dan jika dari semua pengunjung yang datang di sini ada yang mengenal kita adalah besan Aulia, pasti Aulia akan malu nantinya,” tegur Tarjok lembut.


“Maafkan Mama, Pa,” ucap Ningrum menyesali tindakan emosionalnya.


Marsya mendekati Ningrum, “Mari kita pergi jalan-jalan ke tempat lain. Sekalian kita cuci mata,” ajak Marsya mencairkan hati Ningrum.


“Yuk!” sahut Ningrum patuh.


Marsya dan Ningrum kembali berkeliling, dan membiarkan tuan Agung, Tarjok dan lainnya di sana.


“Sayang, kamu beli apa nak?” tanya tuan Agung memecah keheningan.


“Ini Pa, aku tadi beli kopi di sana. Sepertinya kopi ini cocok buat menemani kita duduk santai di sini,” ucap Aulia memberikan kopi ke tuan Agung, Tarjok, dan Andra. Bola mata Aulia perlahan melirik ke Azzuri, b“Buat kamu tidak ada. Kalau mau beli saja sana!” ketus Aulia.


“Kalau kamu marah seperti ini, kamu semakin terlihat sangat cantik di mataku,” bola mata Azzuri berpindah ke Andra, “Aku jadi semakin ingin merebut kamu dari pria ini.”


Karena Tarjok dan tuan Agung sudah terbiasa mendengar ucapan seperti ini. Jadi mereka berdua diam saja tanpa memberikan komentar apa pun buat Azzuri. Selagi masih di batas tidak melakukan hal buruk lainnya kepada Aulia dan Andra. Tarjok dan tuan Agung bersikap santai, dan menganggap ucapan Azzuri adalah ucapan anak kecil.


Grep!


Andra merangkul tubuh Aulia.


“Terimakasih sudah mengatakan jika Istriku sangat cantik di mata kamu,” Andra memegang dagu Aulia, “Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Aulia di rebut oleh orang lain. Hanya ada satu yang bisa merebut dan memisahkan kami berdua. Hal itu adalah ‘KEMATIAN’.”


"Jok, pasti cara perangnya ngikuti kamu!"


"Cara pasrah dan lainnya Aulia pasti ikutan kamu!"


Bisikan singkat selesai.


Azzuri berbalik badan, kedua kaki melangkah pergi sembari berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu kematian kamu, dan aku akan membawa Aulia menjadi Ratu di kediaman Istana ku.”


Tuan Agung memegang bahu kiri Andra, “Satu hal yang harus kamu ketahui. Musuh terberat kamu di sini adalah pria tadi. Pria tadi adalah Azzuri Mahendra. Presdir muda, licik, dan pintar dalam melakukan hal apa pun demi mendapatkan tujuannya. Selain itu dia juga memiliki kekuasaan tertinggi di sini. Jika kamu ingin melakukan sesuatu, maka berpikir dulu agar kamu tidak merugikan diri sendiri dan mencemaskan Aulia,” ucap tuan Agung memberitahu Andra.


Andra memutar badanya menghadap tuan Agung, “Aku tahu Om,” bola mata Andra berpaling ke Aulia, “Om tenang saja. Sebelum bertidak pasti aku memikirkan kenyaman Aulia. Baik saat kami masih kecil dulu, maupun sekarang sudah sah menjadi suami-istri. Aku tetap memikirkan semua tindakan ku agar tak merugikan Aulia,” sambung Andra tegas.


“Benarkah itu kamu sangat memikirkan Aulia. Kok tante jadinya pingin peluk kamu!” ucap Marsya baru saja tiba dan langsung memeluk tubuh Andra dari belakang.


Wajah tuan Agung dan Aulia berubah seketika. Mulut berteriak, “Mama!”


“Eh, nggak boleh peluknya?” tanya Marsya perlahan melepaskan pelukannya.


Tuan Agung langsung menarik Marsya berdiri di sampingnya, “Apa Papa sudah tidak enak dipeluk?” tanya tuan Agung cemburu.


Cuit!


Marsya mencolek tubuh bagian samping.


“Apaan sih!” ketus tuan Agung cemburu.


“Apa Papa cemburu sama anak kita sendiri?” tanya Marsya sedikit menjahili tuan Agung.


“Mana mungkin Papa cemburu sama Andra. Papa hanya cemburu jika Mama dekat-dekat dengan tuan muda Alexdian,” ucap tuan Agung membelai puncak kepala Marsya.


“Papa lucu deh, masa sama tuan muda Alexdian bisa cemburu. Ingat kita sudah tua loh Pa,” sahut Marsya sedikit berbisik di kalimat terakhir.


Saat Marsya terus berbicara, kedua mata tuan Agung terus dengan posisi beridir Aulia. Tuan Agung menyikut lengan Marsya, “Ma, Aulia kok dari tadi diam saja ya?” tanya tuan Agung memperhatikan Aulia terus bertahan dengan posisi berdiri membelakangi mereka.


“Iya. Apa anak kita sedang mengkhayal Pa?” tanya Marsya.


“Coba kamu dekati Nak,” sambung Ningrum menyuruh Andra mendekati Aulia.


Saat Andra mendekati Aulia, betapa terkjutnya Andra melihat Auli tidur dalam posisi berdiri. Tak ingin membangunkan Aulia. Andra langsung menggendong tubuh Aulia, mulut mengeluarkan suara lembut, “Aulia sudah tidur.”


“Tidur?!” ucap mereka serentak.


Andra mengangguk, memutar posisi gendongannya menunjukkan wajah pules Aulia dengan mulut menganga.


Tuan Agung, Tarjok, Marsya, dan Ningrum langsung bergerak menuju parkiran mobil. Sedangkan Andra menyusul mereka dari belakang sambil menggendong tubuh mungil Aulia.


...Bersambung ...