
Mengingat Ningrum tidak datang bulan hampir 2 bulan. Tarjok bergegas mendekati Ningrum. Tarjok berdiri di samping Ningrum, dan langsung menggenggam pergelangan tangan Ningrum.
“Sayang. Aku baru ingat kalau kamu sudah hampir 2 bulan tidak datang bulan. Aku kuatir kalau kamu sakit. Ayo cepat kita pergi ke rumah sakit,” ajak Tarjok.
Ucapan Tarjok membuat Maya, Aulia, dan Marsya terkejut.
“Apa! Sudah hampir dua bulan?!”
Aulia spontan berdiri, ia juga menggenggam erat pergelangan tangan Ningrum, “Tante. Gawat kalau tante tidak datang bulan hampir dua bulan. Sebaiknya aku temani tante ke rumah, mari kita periksa kesehatan tante. Jangan bilang tante terhambat datang bulan gara-gara memikirkan kepergian Andra.”
“Apaan sih, aku baik-baik saja kok. Paling besok aku datang bulan,” sahut Ningrum santai.
“Sebaiknya kita periksa saja. Mari kita pergi,” ajak Marsya.
Ningrum berdiri, “Baiklah. Kalau kalian tidak percaya aku sehat-sehat saja mari kita mengecek ke Dokter,” ucap Ningrum.
Marsya, Aulia, dan Tarjok langsung bergegas pergi menemani Ningrum untuk periksa ke rumah sakit. Sedangkan Maya kembali bekerja karena ia masih ingin mengurus ternak bebek milik mendiang Andra.
Kini Marsya, dan Aulia sedang menunggu Ningrum di ruang tunggu. Sedangkan Tarjok dan Ningrum melakukan pengecekan di dalam.
“Ma, kok bisa tante Ningrum tenang-tenang saja setelah hampir 2 bulan dirinya tidak haid?” tanya Aulia polos.
“Kalau Mama berpikir ini adalah suatu keajaiban buat mereka berdua. Dan Mama berharap Ningrum hamil,” sahut Marsya tenang.
“Ha-hamil?!”
Marsya mengangguk, “Iya. Semoga Allah memberikan keajaiban, dan menggantikan sosok Andra kecil buat Ningrum, dan Tarjok,” ucap Marsya.
Tidak lama kemudian Ningrum, dan Tarjok keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Kedua mata Tarjok terlihat sembab dan hidung juga memerah.
Melihat Tarjok berwajah sembab, Aulia langsung berlari mendekati Tarjok.
“A-ada apa ini? A-apakah tante Ningrum baik-baik saja?” tanya Aulia cemas.
Ningrum langsung memeluk tubuh Aulia, “Aulia. Kamu ternyata memiliki adik baru,” ucap Ningrum dengan suara serak.
Tarjok langsung bersujud syukur, “Terimakasih ya, Allah. Terimakasih engkau telah memberikan keajaiban di dalam rumah tangga kami. Aku janji akan menjaga dan merawat titipan kamu dengan benar.”
Mendengar Tarjok, dan Ningrum mendapatkan seorang anak setelah hampir 20 tahun menikah. Kabar itu membuat Marsya ikut bahagia sampai meneteskan air mata. Kedua kaki Marsya perlahan mendekati Ningrum, dan memeluknya.
“Selamat ya. Allah memang adil. Setelah mereka mengambil Andra dari hidup kalian berdua, kini Allah memberikan anak yang baru,” ucap Marsya.
“Terimakasih,” sahut Ningrum.
Mengingat Ningrum sedang hamil muda. Marsya mengelus perut buncit Ningrum, “Karena wanita hamil tidak bagus berlama-lama di rumah sakit. Lebih baik kita segera pulang, dan aku akan membuatkan sup buat bayi di dalam kandungan kamu,” ajak Marsya.
“Aku juga akan memborong buah-buahan buat tante. Selagi aku di sini, biarkan aku menjaga tante dan bayi di dalam kandungan tante,” sambung Aulia semangat.
“Tante bisa merawat diri tante sendiri kok,” ucap Ningrum.
Aulia langsung menggandeng tangan Ningrum, “Tante itu tidak boleh keras kepala. Sekarang pengganti Andra untuk menjaga tante itu aku. Jadi tante tidak boleh membantah. Mari kita pulang,” ajak Aulia.
“Iya-ia, tante nurut deh,” sahut Ningrum.
Tarjok, Aulia, Ningrum, dan Marsya kembali pulang dengan rasa bahagia.
.
.
💫Di sisi lain💫
“Venus, kira-kira kapan pementasan Aulia diselenggarakan di sana?” tanya tuan Agung.
Venus segera menghidupkan tab miliknya, dan mengecek jadwal-jadwal kegiatan Aulia.
“Sepertinya akan di selenggarakan di pertengahan bulan Desember, tuan,” sahut Venus.
“Berarti sebentar lagi. Karena pementasan ini terlihat agak sedikit meriah dari sebelumnya. Maka aku akan minta kamu membuat pengawalan ketat untuk Aulia. Nanti akan aku diam-diam kirimkan beberapa anak buah terhebat ku ke sana, tapi kamu janji tidak akan membocorkan hal ini kepada Aulia. Karena aku sangat tahu jika Aulia tidak suka di kawal ketat seperti ini. Dan aku tidak mau dia marah dengan ku nantinya. Apa kamu mau menepati janji itu?”
Venus mengangguk, “Saya berjanji!” tegas Venus.
“Soal rencana pementasan untuk akhir tahun ini. Aulia ingin membuat konsep seperti apa?” tanya tuan Agung.
“Awalnya nona muda ingin membuat konsep bunga bermekaran. Semua perhiasan keluaran terbaru dengan edisi terbatas juga sudah di buat sesuai dengan konsep nona muda. Semua konsep itu di buat karena nona muda ingin menunjukkan betapa besar cintanya kepada mendiang tuan Andra. Tapi setelah kepergian tuan Andra, saya tidak tahu lagi apa yang akan di ubah oleh nona muda. Karena saya melihat sepertinya nona muda sedikit kurang tertarik untuk membahas soal pementasan belakangan ini. Saya harap tuan bisa membantu nona muda untuk kembali semangat. Dan satu lagi, saya masih belum mendengar nona muda mempersiapkan rancangan baju buat ia pakai saat pembukaan acara tersebut. Padahal waktu sudah semakin dekat,” ucap Venus.
“Kalau aku boleh tahu, di mana Aulia biasanya memesan baju tersebut?” tanya tuan Agung.
“Setahun belakangan ini setiap nona muda ada kegiatan resmi, pasti ada saja yang mengirim baju dan sepatu untuk nona muda pakai. Dan yang lebih membuat saya heran, baju dan sepatunya itu sesuai dengan kebutuhan nona muda. Jadi nona muda tidak pernah memesan baju ke tempat langganannya,” sahut Venus jujur.
Tuan Agung menepuk dahi, “Ya, ampun. Kenapa aku memiliki seorang putri dengan sikap yang masih polos seperti ini!” gerutu tuan Agung.
Mendengar tuan Agung menggerutu dengan wajah suram. Venus mendekatkan wajahnya, “Ada apa tuan?” tanya Venus penasaran.
“Apa Aulia tidak menolaknya, dan mengembalikan ke alamat yang mengirimkan barang?” tanya tuan Agung datar.
“Tidak, nona muda berkata jika kita mengembalikan barang-barang ini. Maka kita seperti tidak menghargai pemberian dari orang tersebut. Terlebih lagi di lihat dari rancangannya, itu sudah di buat khusus dari desainer ternama,” ucap Venus.
Tuan Agung meraup kembali wajahnya, dan menggeleng. Setelah mendengar semua kejujuran Venus. Tuan Agung langsung tertuju pada seseorang. Hanya orang tersebut mampu melakukan semua itu untuk Aulia.
Melihat tuan Agung berwajah bingung, Venus berjongkok di samping tuan Agung, dan menatap serius.
“Apa tuan baik-baik saja. Saya perhatikan tuan sering menggeleng. Mungkinkah leher tuan sakit?” tanya Venus polos.
“Aku sakit karena memikirkan kepolosan dan kebaikan putriku sendiri,” sahut tuan Agung bernada malas.
Saat kepusingan melanda pikiran tuan Agung. Pintu kerja perlahan terbuka, terlihat Aulia tersenyum di depan pintu.
“Papa,” sapa Aulia.
Melihat Aulia berwajah manis, tuan Agung spontan merubah mimik wajahnya.
“Ada apa sayang?” tanya tuan Agung lembut.
Tidak sabar ingin berbagi kabar baik, Aulia segera membawa kedua kakinya mendekati meja tuan Agung dan berdiri di sampingnya.
“Ada kabar baik. Tante Ningrum, dan Om Tarjok kini sudah memiliki bayi. Dan aku akan menjadi Kakak,” ucap Aulia semangat.
“Kakak dari mana? Kamu sudah tua Nak. Umur kamu saja sudah 20 tahun, kamu itu pantasnya di sebut tante. Atau bibi sama anak mereka nantinya,” gurau tuan Agung.
Tak senang mendengar tuan Agung mengatakan jika dirinya sudah tua. Aulia segera berdiri menghadap Venus, dan menggenggam kedua pipi Venus.
“Kamu harus jujur, apa aku ini sudah tua dan tidak pantas di panggil Kakak?”
Venus mengangguk.
“Venus, kamu jahat sekali!” teriak Aulia kesal.
Melihat putrinya kembali bergurau, tuan Agung mengulas senyum tipis, ‘Akhirnya kamu benar-benar kembali ke diri kamu yang dulu. Papa harap kamu akan menemukan sosok baru pengganti Andra. Dan memulai kehidupan yang baru juga,’ batin tuan Agung.
...Bersambung...