
Setelah melakukan pertempuran hebat di atas ranjang tadi malam. Paginya Andra dan Aulia saling mengeringkan rambut basah mereka sambil bersenda-gurau. Andra juga sesekali memberi ciuman manis di pipi Aulia. Aulia pun juga seperti itu.
Andra meletakkan pengering rambut di atas meja rias, memutar kursi Aulia menghadap dirinya. Andra berjongkok, kedua tangan menggenggam pnggung tangan Aulia. Bola mata penuh cinta memandang lurus ke wajah cantik Aulia, “Aulia, aku sangat mencintai kamu!” ucap Andra tulus.
“Aku juga sangat mencintai kamu,” sahut Aulia membalas pandangan Andra.
Andra menarik dagu Aulia, “Aku cium boleh?” tanya Andra perlahan mendekatkan wajahnya.
Aulia mengangguk manja.
Baru saja hendak memberi ciuman penyemangat pagi. Dering ponsel Aulia berbunyi. Ciuman itu pun tertunda begitu saja.
Ddrrtt!!
“Gimana?” tanya Aulia meminta izin untuk mengangkat telpon.
Andra mengambil ponsel Aulia, “Angkat saja,” sahut Andra memberi izin.
“Terimakasih,” ucap Aulia menerima ponselnya.
“Sama-sama,” sahut Andra.
“Aku angkat dulu ya?” tanya Aulia menunjukkan ponsel masih berdering.
Andra mengangguk.
Aulia menekan tombol hijau.
.
📞📞
[ “Halo, selamat pagi.” ]
[ “Selamat pagi nona muda. Maaf saya mengganggu Anda pagi-pagi seperti ini. Tapi sebelunya saya boleh bertanya apakah ini adalah nona muda Laksmana Aulia, pengusaha muda cukup terkenal dengan kualitas berlian dan perhiasan lainnya?” ] tanya pria misterius dari sebrang sana.
[ “Benar. Kalau boleh tahu ini siapa ya?” ]
[ “Saya ada Tatan. Siang ini saya ingin menemui kekasih saya yang sedang berulang tahun. Karena kekasih saya suka berlian, makanya saya ingin memberikan berlian dengan kualitas bagus dari perusahaan milik Anda. Jika Anda berkenan boleh tidak kita berjumpa di kafe?” ]
[ “Kita jumpa di perusahaan ku saja. Nanti akan aku kirimkan Alamatnya.” ]
[ “Alamat tempat tinggal saya, dari kantor Anda, dan Bandara sangat jauh. Saya takut terlambat untuk melakukan penerbangan pertama jika saya ke perusahaan Anda. Please..tolong saya.” ]
[ “Baiklah, karena kamu sepertinya terburu-buru maka kirimkan saja Alamatnya. Saya akan ke sana 1 atau 2 jam lagi sambil membawa beberapa berlian yang ada bersama saya.” ]
[ “Terimakasih-terimakasih. Akan saya kirimkan. Saya tutup panggilan telponnya nona muda.” ]
[ “Iya.” ]
Aulia mematikan panggilan telponnya.
Melihat Aulia sudah selesai menelpon, Andra mendekati Aulia, “Apa kamu ingin pergi?” tanya Andra penasaran.
“Iya, pria ini mau memberi kekasihnya hadiah ulang tahun. Karena kekasihnya suka berlian dan dia tahu perusahaan kami memiliki kualitas berlian cukup bagus, makanya ia ingin membeli salah satu berlian buatan kami sebagai kado ulang tahun buat sang kekasih,” ucap Aulia menjelaskan inti dari pembicaraan pria tersebut.
Andra mendekati Aulia, mengelus puncak kepala Aulia, dan memberi kecupan manis sebagai penyemangat di dahi Aulia.
“Kamu kenapa cium aku terus?” tanya Aulia malu-malu.
“Karena kamu nanti akan pergi bekerja tanpa di temani aku. Jadi bekas ciuman itu sebagai tanda bahwa aku selalu berada di dekat kamu,” sahut Andra lembut.
“Terimakasih suamiku,” ucap Aulia memberi ciuman manis di pipi Andra.
Andra merangkul Aulia, “Jangan terus mencium ku, entar kamu dan aku tidak bisa berangkat kerja," balas Andra sedikit bercanda.
"Ya sudah mari kita turun."
Aulia dan Andra melangkah keluar dari dalam kamar dengan bergandeng tangan. Baru saja sampai di pertengahan anak tangga, Aulia dan Andra dapat sindiran halus dari Venus.
“Yang masih pengantin baru maunya lengket terus,” gurau Venus saat melintas di bawah anak tangga melihat Andra dan Aulia saling bergandeng tangan.
“Makanya cari pasangan biar tahu rasanya,” sambung Aulia.
“Iya-ia, kalau gitu aku akan mencari kekasih halal buatku,” sahut Venus lesu.
Aulia dan Andra kini berdiri di samping Venus.
“Venus, kamu harus bersiap-siap sekarang karena kita sebentar lagi akan menjumpai klien di kafe yang tidak jauh dari Bandara. Dan kamu jangan lupa membawa beberapa perhiasaan yang ada di kotak hitam,” tegas Aulia memberi perintah.
“Nona muda apa Anda yakin kita akan menemuinya di luar perusahaan? Biasanya kalau ada yang ingin melihat atau memesan berlian dari perusahaan milik nona muda. Klien itu pasti membuat janji terlebih dahulu, atau dia menjumpai nona muda secara langsung di perusahaan bukan melalui telpon dan berjumpa sepagi ini di kafe,” ucap Venus curiga.
“Awalnya aku juga berkata untuk bertemu di perusahaan. Tapi karena dia bilang sedang terburu-buru, dan akan ketinggalan pesawat kalau bertemu di perusahaan, makanya aku memutuskan untuk bertemu dengannya sesuai alamat yang ia tuju.”
“Tapi nona muda tidak perlu menurutinya, siapa tahu dia jahat. Atau..dia akan mencelakai nona muda. Sudahlah batalkan saja nona, saya tidak mau terjadi hal buruk menimpa nona muda lagi. Cukup kemarin-kemarin saja kejadian buruk menimpa nona muda, sekarang jangan lagi,” ucap Venus kuatir.
Mendengar perdebatan Aulia dan Venus dari ruang tamu. Tuan Agung, Marsya, Tarjok dan Ningrum keluar dari ruang makan menuju ruang tamu.
“Ada apa ini?” tanya tuan Agung.
Venus menundukkan pandangannya, “Maafkan saya telah mengganggu makan pagi Anda tuan. Saya katakan saya menolak permintaan nona muda untuk bertemu dengan klien yang tidak mengatur jadwal perjanjian terlebih dahulu dengan saya atau sekretaris di kantor,” ucap Venus memperjelas penolakannya.
“Tapi Pa, pria ini sangat membutuhkan perhiasan buat kado ulang tahun kekasihnya. Jadi bagaimana mungkin aku menolak permintaannya. Kalau aku ngotot menyuruhnya datang ke perusahaan, maka tiket penerbangannya bakalan hangus. Sedangkan dia sudah susah payah mengatur jadwal penerbangan pertama demi menjumpai kekasihnya,” sambung Aulia memperjelas maksudnya.
“Papa mengerti maksud kamu sekarang. Kalau gitu Papa akan temani kamu, gimana?”
“Tapi kata Mama, kalian akan pulang siang ini. Kalau Papa menemani ku, maka Papa akan terlambat untuk sampai ke tanah air,” ucap Aulia mencemaskan tuan Agung.
“Tidak masalah, kami pulang naik jet pribadi, jadi tidak masalah dengan waktu sampai ke rumah.”
“Hem...baiklah. Kalau gitu mari kita berangkat sekarang Pa,” ajak Aulia merangkul lengan tuan Agung.
Melihat Aulia hendak pergi terburu-buru tanpa sarapan. Andra langsung menahan tangan Aulia dari belakang, “Jangan pergi sebelum makan!" tegas Andra.
“Tapi…”
“Benar kata Andra. Kamu harus makan dulu, atau kamu nanti bisa sakit karena sering terlambat makan,” sambung Marsya.
“Kamu tenang saja, tante sudah siapkan bekal sarapan untuk kamu di dalam mobil,” sela Ningrum memberikan kotak makanan ke Aulia.
Marsya melirik tajam ke Ningrum, “Sejak kapan kamu kembali ke belakang?" tanya Marsya heran.
“Rahasia seorang Ibu, dan maaf!” ucap Ningrum menyatukan kedua telapak tangannya.
Marsya hanya mendengus kesal.
“Saya ambil kotak di ruang kerja dulu,” ucap Venus membawa kedua kakinya berlari menuju ruang kerja.
“Kami tunggu kamu di mobil,” ucap Aulia sedikit meninggikan nada suaranya karena Venus sudah menghilang.
“Kalau gitu hati-hati ya sayang,” sambung Marsya memberi restu di pagi hari.
“Iya Ma, dan tante,” sahut Aulia mencium punggung tangan Marsya dan Ningrum. Bola mata Aulia melirik ke Andra. tangan kanannya melambai, “Sampai jumpa siang nanti di toko,” pamit Aulia ke Andra.
“Hem” sahut Andra datar.
...Bersambung ...