
"Mulai sekarang Mama yang akan memasak buat kamu!" sambung Marsya masuk ke dalam ruangan.
"Itu Mama!" Aulia menatap sekeliling ruangan. Namun sayang, hanya gelap gulita terlihat di kedua matanya. Dirinya tadi merasa senang kini mulai menundukkan wajahnya, kedua tangan menggenggam erat selimut. Sudut bibir bagian kiri menaik, "Ck. Seperti ini rupanya rasa ketika kita hanya bisa mendengar suara dari orang yang kita rindukan," perlahan tetes air mata membasahi punggung tangan Aulia.
Saat suasana berubah menjadi hening. Terdengar suara ketukan pintu.
Tok! tok!
"Permisi. Sepertinya kami akan memindahkan nona muda ke ruang rawat inap," ucap perawat, berdiri di depan pintu.
Marsya dan Aulia segera menyeka masing-masing air mata mereka.
Andra langsung berdiri, tangan kanan mengelus puncak kepala Aulia, "Kami akan segera menyusul," ucap Andra beranjak pergi.
"Baiklah nona muda, kita akan membawa Anda memakai kursi roda," ucap perawat pria mendorong masuk kursi roda.
"Terimakasih ya Suster," ucap Aulia dengan senyum manis.
"Sama-sama," sahut suster serentak.
.
.
💫Di sisi lain💫
Tuan Agung, Azzuri, Venus dan Jack, berdiri di depan pintu Apartemen 108.
"Apa benar ini rumahnya?" tanya tuan Agung kepada Azzuri sedikit memelankan nada suaranya agar tidak kedengaran dengan penghuni lain.
"Benar. Jack tidak akan pernah Mungin salah mencari informasi keberadaan orang lain," sahut Azzuri memuji Jack.
"Terimakasih tuan muda," sambung Jack.
Tanpa banyak bertanya lagi, tuan Agung sedari tadi sudah memendam emosi di dalam dada kini semakin memuncak saat kedua mata teringat dengan Aulia.
Took!! tok!
"Permisi, saya datang membawa pesanan Anda!" ucap tuan Agung lembut, tangan kanan mengetuk pintu, dan tangan kiri memegang 1 kotak pizza.
cklik!!
"Maaf, aku tidak memesan apa pun," sahut pria tersebut mengintip sedikit kepalanya dari depan pintu.
Tuan Agung langsung mengulurkan tangan kirinya, memasukkan kotak pizza, "Tapi Anda sudah memesannya. Dan ini juga sudah di bayar," ucap tuan Agung menekan nada suaranya, tangan kanan menahan pintu hendak di tutup.
"Siapa kalian?" tanya pria tersebut meninggikan nada suaranya. Kedua tangan terus menahan pintu dari dalam.
Kesabaran tuan Agung sudah habis. Kaki kanan melayang ke pintu.
Bam!
Pria tersebut terpental ke belakang. Kedua mata membulat sempurna saat menatap tuan Agung, Azzuri berjalan ke arahnya.
"Kenapa kau lakukan keji itu kepada putriku?" tanya tuan Agung, kedua kaki terhenti tepat di depan pria tersebut, kedua mata tajam dan suram memandang pria masih duduk di lantai.
Pria tersebut langsung bersujud di depan kaki tuan Agung, "Ampuni saya, tuan. Saya hanya di suruh oleh wanita untuk melukai putri Anda, karena sudah membuat dirinya malu di depan tuan muda Azzuri Mahendra," sahut pria tersebut panik.
"Aku tahu sekarang. Pasti wanita itu!" sambung Azzuri mengingat seorang wanita cantik tadi pagi ingin menjatuhkan bisnis Aulia dengan berpura-pura memesan cincin edisi terbatas keluaran terbaru dari perusahaan milik Aulia.
Bam!
Pria tersebut terpe-ntal ke belakang.
"Akh!!" pria tersebut kembali bangkit, berlari mendekati tuan Agung. Memeluk kedua kaki tuan Agung, "Aku hanya di suruh menyakiti Aulia, tidak ada hal buruk lainnya. A....ampuni sa..ya tuan," ucap pria tersebut menengadah.
Grep!
Tuan Agung menggenggam erat rambut di bagian puncak kepala.
Emosi tuan Agung semakin memuncak saat mendengar kata hanya menyakiti, tidak berbuat lebih. Tapi kenapa menyakitinya sampai membuat kedua mata Aulia mengalami kebutaan sementara. Dan seberapa kuatnya pukulan di buat pria tersebut sampai kep-ala mengeluarkan darah.
Bam!
Satu bogem mentah memata-hkan tulang hidung.
"Ampuni saya tuan!" keluh pria tersebut merasa sakit di bagian hidung.
"Kau bilang hanya menyakiti, tapi kenapa kamu membuat putriku sampai mengalami kebutaan. Apa kamu pernah berpikir tidak! kerugian apa yang akan di alami putriku. Kau dengar TIDAK??!!" ucap tuan Agung meninggikan nada suaranya. Kepalan tinju hendak melayang kembali, tapi Venus langsung mencengkeram lengan tuan Agung.
"Bukannya tuan sudah bertaubat. Kalau tuan menyakiti, bahkan menghabisi nyawa pria ini sekarang juga. Apa emosional yang memenuhi batin tuan akan terpuaskan? saya pikir tidak. Bukan saya ingin membela pria ini dan wanita aneh itu. Tapi saya tidak ingin melihat nona muda bersedih karena memikirkan seorang Papa yang selalu ia banggakan menjadi seorang pembu-nuh. Apa tuan tidak kasihan dengan nona muda?"
Tuan Agung segera melepaskan cengkraman tangannya. Kedua kaki berjalan dua langkah mundur ke belakang. Tuan Agung menatap punggung tangannya, "Kamu benar. Aulia akan sangat marah jika aku menyakiti orang lain. Dan aku tidak ingin putriku membenciku!" tuan Agung melirik Venus, "Aku minta kamu segera temui wanita itu. Rebut yang ia punya, jangan biarkan wanita itu merasakan kebahagiaan sedetikpun!" tegas tuan Agung, kedua mata dipenuhi amarah.
"Maaf, saya menyela pembicaraan tuan. Untuk urusan mereka biar saya saja yang menanganinya. Tuan Agung silahkan kembali. Biarkan tangan saya saja yang kotor, jangan Anda. Karena Anda masih dibutuhkan untuk menjadi pedoman untuk Aulia," sambung Azzuri tidak ingin membuat nama tuan Agung buruk di kota tempat tinggalnya.
"Anda juga. Biar pihak yang berwajib yang memberi hukuman buat mereka berdua. Kita sebaiknya pulang, dan biarkan Venus menyelesaikan ini semua!" tegas tuan Agung.
Azzuri melirik ke Jack, "Jack juga akan tinggal di sini. Jangan biarkan mereka keluar dan bernafas lega sampai mereka berdua mendapatkan hal yang sam dengan perbuatannya!" ucap Azzuri memberi perintah kepada Jack.
Jack dan Venus menunduk, "Baik. Kami akan menyelesaikan ini semua dengan cepat!" sahut mereka berdua serentak.
Tuan Agung dan Azzuri berbalik badan. Kedua kaki melangkah pergi. Pintu Apartemen perlahan tertutup. Kedua mata Venus dan Jack mendadak berubah menjadi merah saat melihat pria tersebut masih duduk dengan wajah ketakutan.
"A....ampuni sa...saya!"
"Tidak ada pengampunan bagi orang yang sudah menyadari perbuatannya tapi masih tetap melakukannya," ucap Venus dingin.
"Sayangnya Saya bukan Tuhan yang menciptakan Anda. Setiap melakukan kesalahan dengan meminta maaf langsung di ampuni. Terima dulu ganjarannya baru mohon ampun kepada Sang Pencipta, bukan kami!" sambung Jack.
"Tidak....Ampuni saya!" teriak pria tersebut saat Venus dan Jack mulai memegang tubuhnya.
Sungguh miris melihat orang sudah melakukan kesalahan kepada orang lain, ingin di balas sakit. Tapi mereka memohon ampun, berharap tidak ingin merasakan sakit atas balasan dari ulahnya sendiri.
Setelah menyelesaikan tugas untuk memberi pelajaran ke pria tersebut. Jack dan Venus bergerak menuju kediaman rumah wanita tersebut. Karena sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran ke wanita tersebut, Venus menambah kecepatan laju mobilnya.
Setelah melihat rumah target berada di depan mata. Venus menambah kecepatannya menerobos pagar rumah. Dan memarkirkan ujung depan mobil naik ke atas lantai rumah.
"Hei, ada apa ini?" tanya wanita cantik keluar dari pintu.
"Semua perbuatan harus di balas dengan sangat baik dan rapih," sahut Jack melangkah pergi mendekati wanita cantik.
"Jika nona muda terluka, dan disakiti orang lain. Maka orang itu juga harus mendapatkannya. Karena kamu wanita, pasti kamu sudah tahu apa hukumnya!" sambung Venus. Venus langsung menggendong wanita cantik masuk ke dalam rumah.
Jack menutup pintu dengan senyum tipis di bibirnya.
...Bersambung...