
Karena Maya mengetahui tidak ada Aulia dan Venus di Indonesia, Maya kembali mendekati Andra. Melihat Andra tengah sibuk melayani pengunjung, Maya tiba-tiba datang, tanpa rasa malu memeluk tubuh Andra dari belakang, “Andra!”
“Apaan sih!” ucap Andra melepaskan pelukan Maya. Tatapan merasa tidak nyaman mengarah ke masing-masing meja pengunjung.
Semua pengunjung terkejut, sejenak mereka terdiam menatap perbuatan Maya. Karena sebagian pengunjung mengenal Maya, maka mereka biasa saja. Ada juga beberapa pengunjung sempat menegur Maya.
“Mba, tahan dikit dong nafsunya. Apa Mba gak malu di lihatin banyak orang di sini?”
“Bilang dong sama pacarnya jangan terlalu terbuka kali di depan umum.”
“Niat jualan atau tidak sih?”
Ucap para pengunjung mengenai perbuatan Andra dan juga Maya, dianggap bisa merusak mental anak mereka.
Mendengar ucapan para pengunjung seperti menilai dirinya adalah seorang pria buruk, tak memiliki adab. Andra berusaha merendam amarahnya atas perbuatan Maya.
Andra menundukkan sedikit tubuhnya, “Maaf, teman kecil saya memang seperti ini orangnya. Kadang dirinya suka lupa di depan umum. Sekali lagi saya minta maaf!” ucap Andra sopan. Merasa tidak suka melihat Maya terlihat tidak bersalah, tangan kiri Andra memegang kepala bagian belakang Maya, kedua mata melotot untuk menyuruh Maya meminta maaf kepada semua pengunjung dengan menundukkan kepalanya.
Dengan terpaksa Maya ikut menunduk, “Buat semuanya aku minta maaf,” ucap Maya dengan suara malas.
Setelah mendengar permintaan Maya dan juga Andra, beberapa pengunjung kembali menikmati nasi bebek jualan Andra.
Setelah selesai menyuruh Maya meminta maaf, Andra segera menurunkan tangannya dari kepala bagian belakang Maya. Andra berbalik badan, kedua kaki melangkah mendekati tempat penggorengan karena ada beberapa pesanan Bebek belum di goreng.
Maya mengikuti Andra. Kini Maya berdiri di samping Andra. Tanpa rasa malu ia kembali mengajukan pertanyaan, “Buat apa belakangan ini kamu selalu bekerja keras mencari uang. Bukannya Papa kamu memiliki banyak uangnya?”
Andra meletakkan sutilnya, senyum tipis tersirat di raut wajah datarnya, dengan kedua mata menatap minyak goreng mendidih di dalam wajan, “Buat apa kamu terus bersenang-senang dengan kenikmatan uang yang dimiliki kedua orang tua kamu. Jika kamu menjamin uang dan harta itu bisa membuat kamu kenyang dan nyaman untuk 10 keturunan dan ke anak cucu kamu. Maka teruskan lah. Jangan coba bertanya hal bodoh kepadaku lagi,” Andra menolehkan wajah suramnya dengan keringat mengalir bebas di wajah tampannya, “Pergilah dari hadapanku, sebelum minyak ini mendarat di…”
“I-iya. Aku minta maaf!” putus Maya ketakutan melihat ekspresi wajah suram Andra seperti hendak menghabisi seseorang. Maya pun segera berlari meninggalkan Warung Bebek Andra.
Andra tersenyum manis sambil membalik bebek goreng di dalam wajan besar. Kelopak matanya terus terbayang dengan tingkah lucu dan senyum manis Aulia. Andra juga mengingat janjinya kepada tuan Agung, sebuah janji penambah semangat hidupnya.
‘Aku tidak boleh memikirkan apa pun. Di hati dan pikiranku sekarang hanyalah Aulia. Apa pun berita buruk beredar luar di luar sana, aku akan tetap terus mempecayai dirinya. Aku harus menepati janjiku agar aku bisa menjadi pria sejati yang bisa menepati janji.’
Baru saja siap menyajikan hindangan buat penunjung terakhir, benda pipih di dalam saku celana berbunyi. Senyum manis menepis lelah di raut wajah Andra saat melihat panggilan telpon dari sang pujaan hati. Kedua tangan penuh minyak segera ia bersihkan dengan tisu, kemudian mengangkat panggilan telpon dari Aulia.
[ “Halo, assalamualaikum” ] sapa Andra terlebih dahulu.
[ “Wa’alaikumsallam. Apa aku mengganggu?” ]
[ “Jika kamu mengganggu buat apa aku mengangkat panggilan telpon dari kamu!” ]
[ “Iya juga, ya!” ]
[ “Suara kamu serak. Apa kamu sedang sakit?” ] tanya Andra cemas.
[ “Tidak. Setahu aku seorang pria tidak pernah merindukan seorang wanita” ] ucap Andra menolak rindu.
[ “Sakitnya hatiku setelah mendengar jawaban kamu. Wanita mana yang merubah haluan cinta kamu dariku?” ]
[ “Hanya Mama Ningrum. Tidak ada wanita lain di hatiku selain Mama Ningrum” ]
[ “Bohong! Pasti kamu sedang berkencan dengan Maya?” ] tuduh Aulia.
[ “Aku nyerah. Aku hanya bercanda Aulia. Wanita yang selalu ada di hatiku itu hanya kamu seorang, tidak ada yang lain. Nanti kamu yang mulai melupakan aku?” ]
[ “Andra” ]
[ “Iya, ada apa?” ]
[ “Maaf aku baru bilang…” ]
[ “Benarkan, pasti kamu sudah ada pria lain” ] putus Andra.
[ “Ada seorang Presdir muda yang licik terus mendekati aku. Mana dia ngotot ingin melakukan kontrak kerjasama lagi samaku. Bukan itu saja, dia juga ingin menyuruhku memakai baju rancangan dari Perusahaannya. Katanya, hanya aku yang pantas memakai baju rancangan dari Perusahaannya. Aku harus bagaimana?” ] rengek Aulia.
[ “Bukannya seorang pengusaha memang seperti itu. Aku percaya sama kamu, jadi kamu jangan mencemaskan apa pun. Dan satu lagi, kenapa kamu tidak mencoba menjadi model dari baju rancangan miliknya. Bukannya hal itu sangat bagus untuk menambah kemajuan Perusahaan kamu, dan nama kamu!” ] ucap Andra sambil menahan rasa cemburu di dalam hati.
[ “Tidak ah. Nanti aku terlibat terlalu jauh. Cukup melakukan kontrak kerja sama saja sampai pesanan yang ia minta kami luncurkan!” ]
[ “Terserah kamu saja. Tetap hubungi aku apa pun yang terjadi. Ingat pesanku! Jangan nakal” ]
[ “Tidak nakal kok. Kalau begitu aku tutup telponnya, assalamualaikum” ]
Tut!!
Andra menarik nafas dalam-dalam, ponsel miliknya kembali di taruh ke dalam saku celana. Karena semua bebek ungkap miliknya sudah habis di dalam steling, Andra duduk sejenak sampai semua pengunjung pulang. 10 menit kemudian, satu-persatu pengunjung mulai bangkit dari kursi dan membayar makanannya.
Melihat Andra sibuk meladeni pengunjung membayar makanannya. Ningrum baru saja datang segera masuk ke dalam warung, dan membantu membereskan sisa makanan.
“Kenapa Mama merapihkan ini semua. Aturan biarkan saja Andra yang melakukannya,” ucap Andra baru saja selesai menerima pembayaran terakhir dari pelanggan terakhir.
“Cuman ini saja tidak berat kok. Kamu susun yang lain saja, biar kamu cepat selesai, dan kita bisa beristirahat bersama,” sahut Ningrum membawa beberapa piring kotor di tempat cucian piring.
Andra segera berlari mendekati Ningrum, kedua tangan mengambil tumpukan piring kotor dari kedua tangan Ningrum, “Tidak boleh. Mama sudah capek di rumah, jadi Mama tidak boleh capek di Warung milik Andra. Mama duduk saja dulu,” tatapan serius menatap Ningrum, “Ingat! Jangan lakukan apa pun,” setelah berkata seperti itu Andra melangkah pergi menuju tempat pencuci piring.
Ningrum berbalik badan, senyum manis terpancar dari raut wajahnya, “Berani sekali bocah satu itu mengatur aku. Mentang-mentang aku seorang wanita yang mulai tua, aku tidak boleh melakukan apa pun!” Ningrum menggeleng, “Andra-Andra…sungguh beruntung mendiang kedua orang tua kamu melahirkan kamu. Termasuk aku, sungguh beruntung membesarkan anak seperti kamu. Meski aku bukan Mama kandung kamu, tapi aku selalu berdoa kepada Allah, agar kamu selau mendapatkan semua kebaikan yang ada di muka Bumi ini.”
...Bersambung ...