Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 33. AKU ini sudah DEWASA


"Sebaiknya nona harus meninggalkan Apartemen ini!” tegas Venus menyusun barang-barang milik Aulia.


Aulia tersenyum manis, tangan kanan memegang punggung Venus, “Aku tidak akan pergi,” sahut Aulia dengan tegas.


Venus menghentikan kedua tangannya, ia berbalik badan, kedua tangan ia letakkan di bahu Aulia, dan berkata, “Nona harus meninggalkan tempat ini sebelum banyak musuh tuan Agung mengetahui Apartemen milik nona muda, dan mereka terus mengancam nona muda dengan banyak tipu daya halus.”


“Ha ha ha” bukannya ikutan panik, Aulia malah tertawa renyah dihadapan Venus. Tangan kanannya melambai, tangan kiri menutup mulutnya, “Kenapa kalian semua sangat panik. Bukannya aku baik-baik saja!” Aulia perlahan mengambil koper dari tangan Venus, menyusun kembali baju miliknya ke dalam lemari pakaian sambil berkata, “Aku ini sudah dewasa. Bukannya kamu yang bilang kepadaku jika aku harus menghadapi semuanya ini demi melindungi Papa dan Mama?”


“Tapi nona….”


Tatapan suram Aulia arahkan ke Venus, “Berhentilah terus mengkuatirkan aku. Aku sudah cukup dewasa mengatasi hal seperti ini. Kenapa harus aku yang berlari agar mereka tidak mengejarku!” kedua kaki perlahan mendekati Venus, tangan kanan memukul pelan bidang kekar Venus, “Aku akan menghadapi mereka semua, termasuk musuh-musuh tersembunyi yang Papa miliki. Aku bukan seorang wanita lemah yang terus bersembunyi di bawah ketiak Papa dan Mama!” Aulia mengangkat kopernya, memasukkan ke dalam lemari khusus tas. Aulia kembali melirik ke belakang, “Aku akan memberi pelajaran kepada mereka semua yang ingin memanfaatkan aku sebagai alas balas dendam mereka buat Papa dan Mama. Aku akan menunjukan ke Papa dan Mama jika aku sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.”


Venus mengulas senyum tipis di wajah cemasnya, “Saya tidak menyangka jika nona muda bisa dewasa seperti ini.”


“Tentu! Siapa dulu, Laksmana Aulia!” ucap Aulia mengarahkan jari telunjuk tangannya ke dadanya sendiri.


Venus menundukkan sedikit tubuhnya, kedua kaki perlahan berjalan mundur, “Saya permisi keluar,” ucap Venus pamit pergi dari kamar Aulia.


Melihat Venus sudah tidak ada di depan mata, Aulia segera berjalan mendekati pintu dan menguncinya dari dalam. Wajah tenang kini berubah menjadi panik, kedua kaki berjalan ke sana kemari, jari telunjuk mengarah ke bibirnya, dahi mengerut.


“Ibarat Dadjal. Satu-persatu musuh Papa dan Mama menampakkan wujudnya di hadapanku. Sekarang aku tidak boleh lengah, jika aku lengah. Aku pasti akan membuat cemas Papa dan Mama di sana. Demi Papa dan Mama, aku harus merubah semuanya. Aku juga harus melatih diriku menjadi seorang wanita yang ahli bela diri, agar Venus tidak terlalu kuatir kepadaku. Tapi di mana aku mencari guru bela diri itu. Apa aku harus menyuruh Venus?” Aulia menggeleng, “Tentu saja tidak boleh, jika Papa dan Mama tahu aku berlatih bela diri. Pasti keseharian mereka tidak akan tenang, dan Andra pasti takut untuk dekat-dekat denganku. Aku harus mencarinya sendiri. Google, hanya Google yang mampu menjawab pertanyaan ku,” dengan cepat Aulia berjalan mendekati ranjang, mengambil benda pipih miliknya dan mencari guru untuk melatihnya diam-diam.


.


💫1 jam kemudian💫


Aulia berjalan keluar kamar dengan pakaian biasa. Kaos oblong, topi dan tak lupa masker. Aulia berjalan mendekati ruang Tv, dimana terlihat Venus sedang duduk santai menikmati siaran Tv.


“Nona muda mau kemana?” tanya Venus menyadari kedatangan Aulia.


Aulia menyengir dari balik masker putihnya, tangan kanan mengarah ke pintu, “Aku izin keluar dulu,” ucap Aulia lembut.


Venus segera berdiri, “Mari saya antar,” kedua kaki melangkah terlebih dahulu.


‘Gawat-gawat. Jika Venus mengetahui aku akan menjumpai seorang guru bela diri, maka habislah diriku. Aku harus memberikan alasan tersendiri agar Venus tidak mengikuti. Tapi apa ya? oooh…aku suruh saja dia ke Perusahaan untuk mengambil beberapa Dokumen milikku yang tertinggal.’


“Venus!” panggil Aulia membuat Venus menghentikan langkah kakinya di depan pintu, tangan kanan menahan gagang pintu.


“Iya nona muda,” sahut Venus patuh.


“Apa boleh aku minta tolong kepada kamu untuk mengambil beberapa Dokumen penting yang tertinggal?”


‘Pakek lupa segala lagi, seharusnya aku menyadari jika Venus adalah seorang pria yang sangat bertanggung jawab, dan memiliki daya ingat cukup tinggi. Aku harus bagaimana lagi ya?’


Aulia mengarahkan tangan kanannya ke ruang tamu, “Venus coba kamu lihat di sana itu ada apa?” tanya Aulia mencoba mengalihkan perhatian Venus agar dirinya bisa keluar dari Apartemen.


“Mohon maaf, tapi saya tidak terpengaruh dengan tipu daya anak kecil yang nona muda buat kepada saya,” sahut Venus dengan bibir tersenyum manis.


Aulia meraup wajahnya, “Izinkan aku keluar Venus!” pinta Aulia bersungguh-sungguh. Tangan kanan melepaskan topi, kedua mata penuh pengharapan menatap wajah datar Venus, “Aku mohon.”


Venus mendekatkan wajahnya, “Jujur dulu, baru saya izinkan keluar.”


“Baik-baik,” jari tengah saling bertemu di depan dada, wajah imut menatap wajah datar Venus, “Aku ingin menjumpai seorang guru pelatih bela diri. Izinkan aku, ya…. aku mohon!” ucap Aulia bersungguh-sungguh.


“Tentu saja,” sahut Venus semangat. Otak kecilnya memunculkan kembali ingatan mengenai pesan tuan Agung sebelum Aulia kembali kembali ke Paris, ‘Aulia adalah gadis yang manja, tapi dirinya sangat perduli dengan kami. Jika semua masalah dan musuh mulai terlihat di depan mata, aku sangat yakin dirinya akan bergerak untuk merubah dirinya. Aku juga sangat yakin jika suatu saat ia akan mencari guru bela diri untuk melindungi dirinya dari semua musuh yang ingin menculik dan menghabisinya. Jika perkataanku benar, maka kamu harus menuruti semua keiingan putri kecilku yang mulai tumbuh menjadi wanita dewasa. Jaga dan lindungi dirinya di sana.’


Aulia tercengang, “Apakah ini mimpi?” tanya Aulia masih tidak percaya mengenai jawaban Venus.


“Izinkan saya mengganti baju, dan biarkan saya menemani nona muda sambil ikut berlatih,” ucap Venus terdengar serius.


“Hem” sahut Aulia mengangguk.


Venus berjalan cepat menuju kamarnya, belum sampai lima menit ia kembali dengan pakian biasa. Kini Venus sudah berdiri di depan Aulia, “Saya sudah siap, dan mari kita berangkat!” ucap Venus melangkah terlebih dahulu menuju pintu, tangan kanan menggenggam gagang pintu dan membukanya, “Mari kita pergi.”


.


✨✨2 jam kemudian✨✨


Aulia dan Venus sampai di depan rumah mini malis berwarna putih. Venus segera menekan bel rumah.


Ding!dong!


Tidak menunggu waktu lama pintu rumah terbuka, terlihat seorang pria tampan wajah seperti opa korea campuran Pakistan membuka pintu rumah.


‘Wah…tampan sekali. Apa aku sekarang sedang berdiri di depan pintu menuju Surga dan menunggu antrian masuk. Eeeee…kenapa kedua mataku mendadak gatal seperti ini? ingat! Aku sudah berjanji tidak akan nakal di sini. Tapi bagaimana dengan godaan pria tampan seperti dia. Aku rasa Istri yang sudah memiliki Suami juga pasti juga pasti akan tergoda melihat ketampanannya.’


Namun pikiran Aulia harus terhenti saat melihat seorang wanita dengan perut buncit ikut berdiri di samping pria tampan.


Aulia membuang wajahnya ke sisi kiri, ‘Sial! Sudah memiliki Istri rupanya. Mana Istrinya cakep amat. Sudahlah aku harus berhenti memikirkan hal yang tidak penting. Aku harus kembali fokus.’


...Bersambung ...