
Di atas meja tuan Agung sudah tersaji dua minuman dan dua macam makanan dari dua Negara. Makanan khas dari Negara tanah air, dan Negara ini sendiri.
Tuan Agung menatap Joko, Didin, Carlos, dan Willy, “Dari bau harumnya kelihatannya enak. Aku boleh mencicipinya sekarang?” tanya tuan Agung.
“Bo-boleh,” sahut Joko gugup mewakili Didin, Carlos, dan Willy.
Tuan Agung mengambil sendok, menciduk makanan buatan Willy, dan Carlos. Kedua mata 9 karyawan membesar, mulut mereka juga ikut terbuka lebar saat tuan Agung mulai memasukkan makannya ke mulutnya. 9 karyawan juga menelan saliva dengan wajah pucat saat melihat raut wajah tuan Agung berubah-ubah.
Glek!
Jakun tuan Agung terlihat menelan makanan. 9 karyawan pun merasa cemas, saat raut wajah tuan Agung datar, lalu mengangguk.
Tuan Agung mengarahkan sendok nya ke makanan khas tanah air, lalu memasukannya ke dalam mulut. Baru sekali menggigit kedua mata tuan Agung membesar, lalu menatap tajam ke Joko.
‘Tatapan tuan ini seperti hendak menghabisi aku saja. Aku harap masakan ku pas di mulutnya. Ya, Allah kali ini aku sedang membutuhkan keberuntungan kamu. Walau aku tidak pernah sholat, dan mengaji. Tapi aku mohon bantulah hamba-Mu yang butuh pertolongan dari tatapan menusuk tuan ini. Jika masakan ku di nilai enak, maka aku berjanji akan bertaubat, dan sholat,’ batin Joko.
“Matilah kita kalau masakan mereka di nilai tidak enak oleh tuan itu nanti,” bisik Bimo.
“Kau aja yang mati. Aku belum kawin, jadi nggak mau mati dulu,” sahut Dodo berbisik.
“Nggak jadi matilah, aku juga belum kawin,” ucap Bimo menarik keluhannya.
“Lihat-lihat, tuan itu sudah selesai minum, dan makan. Nilai apa yang akan tuan itu berikan kepada koki kita ya?!” Bimo memberitahu keempat temannya.
Tuan Agung mengambil tisu, dan membersihkan kotoran di sekitar bibirnya. Lalu meletakkan tisu di atas piring kotor. Bola mata tuan Agung menatap satu-persatu 9 karyawan sedang berdiri dengan wajah pucat, dan gugup.
“Tidak salah pilih,” puji tuan Agung membuat 9 karyawan penasaran.
“Maksud tuan?” tanya Joko meminta penjelasan.
“Kalian berempat memang koki terbaik pilihan mendiang menantu ku. Jadi, apa kalian beneran ingin tetap bekerja di sini setelah mendiang menantu ku sudah tidak ada?” tanya tuan Agung ingin mengetahui isi hati 9 karyawan mendiang Andra.
9 karyawan mengangguk, “Jelas kami tetap akan betah bekerja di sini!” sahut 9 karyawan semangat.
“Karyawan yang bagus, dan penuh dengan semangat kerja keras. Karena sekarang putri ku sedang mengandung anak kembar, masa depan juga masih panjang. Apa aku boleh meminta satu hal kepada kalian semua?” tanya tuan Agung mulai memasukkan tujuannya demi kebaikan masa depan anak kembar Aulia.
“A-anak kembar?” tanya Joko bingung.
“Apa nona muda Aulia adalah putri, Anda tuan?” sambung Willy bertanya.
Tuan Agung mengangguk, “Benar, tapi aku minta kalian merahasiakan hal ini kepada putri kesayangan ku. Apa aku bisa menerima janji rahasia kepada kalian semua?” tanya tuan Agung sebelum masuk pembahasan.
“Tentu saja, katakan saja tuan,” sahut 9 karyawan serentak.
“Masakan kalian sudah enak, wajah, dan bentuk tubuh sudah sangat oke untuk menarik pelanggan wanita. Aku lihat jumlah pendapatan tetap stabil, dan kadang-kadang melebihi target. Jadi bisa tidak, aku minta tolong kepada kalian. Tolong terus berusaha lebih keras lagi untuk melakukan trik penjualan biar Kafe ini bisa lebih dari baik daripada sekarang. Untuk saat ini aku anggap pendapatan kalian masih 50% dari pengusaha lainnya. Tapi jika suatu saat kalian bisa mencapai 80% atau lebih dari target yang sudah aku katakan. Aku janji akan memberikan kalian liburan bersama keluarga selama 1-2 minggu untuk mengelilingi kota Paris. Untuk biaya hotel, dan transfortasi aku yang nanggung. Tapi, syaratnya hanya satu. Usahakan Kafe ini dapat predikat pertama di kota ini. Apa kalian bisa?” tanya tuan Agung menjelaskan maksud tujuannya.
9 karyawan saling menatap, lalu mereka menatap kembali wajah tuan Agung.
“Apa alasan tuan melakukan hal tersebut buat Kafe ini?” tanya Joko memperjelas ucapan tuan Agung.
“ Bukannya Kafe ini sudah lebih bagus dari Kafe yang lainnya. Jadi buat apa kita melakukan kerja terlalu keras lagi, dan bukannya sangat sulit untuk bersaing dengan pengusaha yang sudah lebih dahulu berdiri di sini?!” jelas Joko.
“Itu…itu jawaban yang terkadang membuat kita selalu tidak bisa maju. Jika kita berpatok kepada satu teknik pemasaran, dan tidak pernah berpikir ke depannya. Maka, suatu saat kita akan berada di titik terbawah, dan kalah dengan pengusaha lainnya. Dan aku tidak ingin membuat Kafe pembelian mendiang menantu terancam bangkrut, dan kalian harus kembali pulang ke rumah masing-masing. Aku di sini hanya bisa memberi saran. Buatlah metode teknik marketing yang selalu menarik perhatian buat pelanggan. Jika kalian memiliki teknik marketing agar untuk membuat para pelanggan tetap datang ke sini dan tidak pernah berpaling ke Kafe lain, kalian akan aku anggap suhu,” ucap tuan Agung memberikan sedikit saran buat teknik marketing memikat pelanggan kepada 9 karyawan Aulia.
“Bagaimana teknik marketing itu?” tanya Didin.
“Caranya adalah: 1. Mempromosikan menu makanan, dan minuman kalian ke media sosial.
Aku akan membantu kalian untuk mencari Influencer untuk melakukan siaran langsung mempromosikan Kafe ini, dan ciri khas masakan kalian.
Buat teknik antar online. Nanti aku akan membantu kalian membuat situs, untuk melakukan pemesan secara online. Jadi kalian bisa tetap memberikan pelayanan order melalui online, bagi pelanggan yang kesulitan keluar, atau sedang malas keluar. Aku juga akan mencarikan karyawan khusus pengantar makanan nantinya.
Memberikan free di setiap weekend dengan batas pembelian tertentu.
Dan terakhir, 5. Jangan lupa senyum, sapa, dan memberikan kenyamanan terbaik.
Itu saja saran yang bisa aku sampaikan. Semua demi masa depan keberhasilan Kafe ini, dan demi kalian semua juga,” jelas tuan Agung.
“Wahh…Anda memang sangat keren tuan. Pantes saja bisnis Anda selalu berkembang pesat, dan tidak pernah turun. Ternyata Anda menanamkan konsep seperti ini,” sambung Willy memuji tuan Agung.
“Tidak. Konsep usaha ku dengan putri ku berbeda, jadi Visi dan Misi kami juga berbeda. Intinya, jika kita sudah terjun ke dalam bisnis, kita harus terus berjalan maju ke depan, dan mempunyai pondasi yang kokoh di bawanya. Jangan terus berputar-putar seperti gasing, jika ke senggol akan jatuh,” ucap tuan Agung mengibaratkan.
“Karena kami masih mencintai pekerjaan ini, dan Kafe ini. Maka kami semua akan berusaha sekuat mungkin untuk bangkit!” sahut serentak 9 karyawan.
9 karyawan bergerak membentuk lingkaran, tangan kanan mereka mengulur ke depan, lalu di susun bertumpuk ke atas. Mereka saling menatap serius, lalu mengambung tangan mereka.
“Demi masa depan kita semua. Hiakh!!” sorak mereka semua penuh semangat.
...Bersambung...